Home Ceramah Islam Terbaru Kekhilafan Ibnu Taimiyah di Merendahkan Ahli Bait Nabi SAW

Kekhilafan Ibnu Taimiyah di Merendahkan Ahli Bait Nabi SAW

19
0

Assalaamu ‘Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh …

Bismillaah Wal Hamdulillaah …
Wash-sholaatu Was-salaamu ‘Alaa Rasuulillaah …
Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah …

Kitab Minhaajus Sunnah fii Naqdhi Kalaami Asy-Syii’ah wa Al-Qoadariyyah Yaitu karya Asy-Syeikh Ahmad b Abdul Halim b Abdissalam rhm (671 – 728 H) yang masyhur dengan sebutan Ibnu Taimiyah. Kitab Itu banyak dikaji dan ditakhrij oleh Ulama, Disorientasi satunya ditakhriij oleh Muhammad Aiman Asy-Syabroowi, terbitan Darul Hadits – Cairo – Mesir, 4 jlid 8 juz dengan total 2.400 halaman, cetakan tahun 1425 H / 2004 M.

Kitab Itu ditulis oleh Ibnu Taimiyah rhm Bagaikan tanggapan terhadap Kitab Minhaajul Karoomah fii Ma’rifatil Imaamah karya Abu Manshur Hasan b Yusuf b Muthohhar Al-Hilliy (w : 726 H) seorang Ulama Syiah Roofidhoh yang di kitabnya Itu menghujat para Shahabat Nabi SAW, khususnya Dua Khalifah yang mulia Yaitu : Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA.

di kitab Itu, Ibnu Taimiyah rhm dengan sangat bagus dan brillian menjalankan pembelaan terhadap para Shahabat Nabi SAW dari Agresi Syiah Roofidhoh, namun sayang mungkin di karenakan terlalu semangat atau penuh emosi, sehingga di menanggapi hujatan Syiah Roofidhoh Itu, terkadang beliau kebablasan sehingga merendahkan Ahli Bait Nabi SAW.


IBNU TAIMIYAH DAN SAYYIDAH KHADIJAH RA

Ibnu Taimiyah rhm dengan sangat bagus sekali menjalankan pembelaan terhadap Sayyidah Aisyah RA yang dilecehkan Syiah Roofidhoh. Beliau dengan sangat cermat dan teliti mengemukakan hujjah-hujjah yang kuat tak terbantahkan. Namun, saking semangatnya menyerang Syiah Roofidhoh yang menyanjung Sayyidah Khadijah RA dengan merendahkan Sayyidah Aisyah RA, sehingga Ibnu Taimiyah rhm terjebak di Letak kebalikannya Yaitu menyanjung Sayyidah Aisyah RA dengan merendahkan Sayyidah Khadijah RA.

di pembelaannya terhadap Sayyidah Aisyah RA, Ibnu Taimiyah rhm meremehkan peran Sayyidah Khadijah RA dengan Menyebut bahwa manfaat iman Sayyidah Khadijah RA hanya terbatas untuk Nabi SAW dan tak manfaat buat umat Islam. (Juz 4 hal.138 ).

IBNU TAIMIYAH DAN SAYYIDAH FATHIMAH RA

Ibnu Taimiyah rhm juga sangat piawai dan cerdas di membela Sayyiduna Abu Bakar RA dari Agresi Syiah Roofidhoh, sehingga semua hujjah Syiah Roofidhoh rontok dan terserabut hingga akar-akarnya. Namun, tatkala beliau menyoroti dan mengulas mengenai perselisihan yang terjadi antara Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyidah Fathimah RA terkait Tanah Fadak, maka Ibnu Taimiyah rhm terjebak di sikap merendahkan Sayyidah Fathimah RA.

di kitab Itu Ibnu Taimiyah rhm menyatakan mengenai Sayyidah Fathimah RA putri Rasulullah SAW, antara lain :

a) Bahwa Pertikaian Fathimah RA dan Abu Bakar RA telah Jadi cela dan cacat buat Fathimah RA. (Juz 4 hal. 111).

b) Bahwa Sikap Fathimah RA tercela di karenakan ingin menyampaikan permasalahan kepada Rasulullah SAW di Hari Akhir nanti mengenai keadaan yang menimpanya sepeninggal sang ayah, Padahal permasalahan itu semestinya kepada Allah SWT bukan kepada Nabi SAW. (Juz 4 hal.111).

c) Bahwa Kemarahan Fathimah RA terhadap Abu Bakar RA seperti kemarahan kaum munafiqin di karenakan hanya lantaran sebab tak diberi permintaannya. (Juz 4 hal.112).

d) Bahwa Fathimah RA bodoh dan berdosa di karenakan berwasiat supaya jenazahnya tak dishalatkan Abu Bakar RA. (Juz 4 hal.113).

e) Bahwa tak ada keutamaan Fathimah RA yang terkait ridho Allah SWT ada di ridhonya dan kemurkaan Allah SWT ada di murkanya. (Juz 4 hal.114).

f) Bahwa yang menyakiti Fathimah RA Yaitu Ali RA, di karenakan ingin memadunya dengan putri Abu Jahal, sehingga Nabi SAW murka. (Juz 4 hal 115).

g) Bahwa Kesedihan Fathimah RA atas kematian ayahandanya, Yaitu Rasulullah SAW, Bagaikan kesedihan yang tak wajib di karenakan tak diperintah oleh Nabi SAW. (Juz 8 hal.243 ).

IBNU TAIMIYAH DAN SAYYIDUNA ALI RA

di kitab Minhaajus Sunnah Itu, Ibnu Taimiyah rhm menyebutkan mengenai Sayyiduna Ali b Abi Thalib RA antara lain Bagaikan berikut :

a) Bahwa Ali RA bodoh di karenakan berhujjah dengan wasiat Fathimah RA supaya jenazahnya tak dishalatkan Abu Bakar RA. (Juz 4 hal 113).

b) Bahwa Ali RA tak adil dan pelaku Nepotisme serta membenci rakyatnya sendiri. (Juz 6 hal.11 & Juz 7 hal.260).

c) Bahwa Ali RA tak dibaiat Bagaikan khalifah kecuali oleh golongan kecil atau sedikit, bahkan banyak orang bagus yang memeranginya. Dan Ali RA selama kekhilafahannya tak menampakkan / menjayakan agama Islam. Serta pembaiatan Ali RA tak disepakati oleh umat Islam, dan selama kekhalifahannya pedang hanya terhunus untuk orang Islam. (Juz 4 hal.51, 56 dan 75).

d) Bahwa Ali RA ditegur keras oleh Nabi SAW di hendak memadu Fathimah RA dengan putri Abu Jahal, dan Ali RA membantah di diajak shalat malam oleh Nabi SAW dengan alasan Qadar. (Juz 4 hal 110 dan 115).

e) Bahwa pendapat Ali RA banyak bertentangan dengan Hadits Nabi SAW, dan Ali RA sering tak mau mencabut pendapatnya yang sudah terang-terangan bertentangan dengan Hadits Nabi SAW. Dan Ali RA Sempat menunda pembaiatan Abu Bakar di karenakan ia yang ingin Jadi Khalifah. (Juz 6 hal.16 dan Juz 7 hal.243).

f) Bahwa Ali RA tak Jadi Acum di karenakan tak ada satu pun Imam Madzhab yang Empati fiqihnya, bahkan Ahli Madinah tak ada yang ambil ilmunya, di karenakan Ali RA tak banyak tahu hadits. (Juz 6 hal.22, Juz 7 hal.277-278 dan 283 & Juz 8 hal.28).

g) Bahwa Ali RA telah membuat perang yang tak ada mashlahat buat agama mau pun Global, dan di kekhilafahannya tak seorang kafir pun terbunuh dan tak seorang muslim pun yang gembira. Dan Ali RA hanya perang untuk jabatan dan kekuasaan dengan mengorbankan orang banyak. (Juz 4 hal 175 & Juz 6 hal.105 ).

h) Bahwa dalil keabsahan Kekhilafahan Ali RA sedikit, dan selama kekhilfahannya tak Sempat memerangi orang Kafir, dan tak Sempat pula ada penaklukan negeri Kafir, di karenakan perang antara kaum muslimin sendiri. (Juz 1 hal.320, Juz 4 hal. 208 – 210 & 226 – 230 ).

i) Bahwa Ali RA tak mendapat pujian dari Nabi SAW lebih tinggi daripada Umar RA mau pun Utsman RA serta Shahabat lainnya, bahkan Ali ditegur keras oleh Nabi SAW. (Juz 4 hal.110).

j) Bahwa Hijrah Ali RA hanya untuk menikahi Fathimah RA, sehingga Hijrah Ali RA bukan untuk Allah SWT dan Rasul-Nya. (Juz 4 hal.116).

k) Bahwa Ali RA tak mempunyai keutamaan di atas Shahabat lain di soal Zuhud, Ibadah, Ilmu, Kecerdasan, Khithobah, Fashohah, Fiqih, Kesilaman, Keberanian mau pun Kekerabatannya dan Kedekatannya dengan Nabi SAW (Juz 5 hal.9 -38 & Juz 8 hal 29 – 50 dan 223-225 serta 263 – 287).

l) Bahwa kebanyakan Shahabat dan Tabi’in membenci Ali RA dan mencacinya serta memeranginya. (Juz 7 hal.77 dan Juz 8 hal.124).

m) Bahwa keislaman Ali RA tak mempunyai pengaruh yang bagus kecuali Serupa dengan keislaman shahabat yang lain, bahkan keislaman Shahabat yang lain lebih besar pengaruhnya daripada keislaman Ali RA.(Juz 7 hal.109).

n) Bahwa peran Ali RA di perang Badar mau pun perang-perang lainnya tak seberapa. (Juz 7 hal 110 dan Juz 8 hal.50 – 70).

o) Bahwa umat Islam dari Timur hingga Barat, termasuk penduduk Madinah hampir tak Sempat mengambil pendapat Ali RA.(Juz 8 hal.28).

p) Bahwa Ali RA Bagaikan orang paling berani Yaitu pernyataan dusta. (Juz 8 hal.44).

q) Bahwa Islamnya Ali RA masih kecil sehingga diragukan dan masih wajib dipertanyakan. (Juz 8 hal 153 dan 224 – 225 ).

r) Bahwa Muawiyah RA tak ingin perang, tapi Ali RA yang inginkan perang dan memulainya, maka Muawiyah RA hanya bela diri, sehingga Ali RA yang tercela dan bersalah di karenakan menumpahkan darah kaum muslimin. (Juz 4 hal.0).

s) Bahwa Ali RA Disorientasi di karenakan telah memberhentikan Muawiyah RA tanpa alasan, dan Ali RA juga Disorientasi di ijtihadnya memerangi Mu’waiyah RA, bahkan sulit diampuni. (Juz 4 hal. 207- 209 dan Juz 6 hal.25 ).

t) Bahwa Ali RA telah memulai memerangi orang Islam yang tak memeranginya dengan alasan Bughot hingga ribuan kaum muslimin terbunuh, dan sebagian Ulama menyetujui pendapatnya, tapi kebanyakan Ulama menyalahinya. (Juz 8 hal.123 – 124).

u) Bahwa Ali RA di kepemimpinannya tak memerangi orang kafir dan tak juga merebut suatu kota, bahkan membunuh seorang kafir pun tak. (Juz 8 hal.128).

v) Bahwa Interaksi mushoharah Ali RA dengan Rasulullah SAW tak sesempurna Interaksi mushoharah Ustman RA dengan Nabi SAW. (Juz 8 hal.125).

w) Bahwa Abu Bakar RA, Umar RA dan Utsman RA tak membutuhkan Ali RA. (Juz 8 hal. 149).

x) Bahwa membenci Ali RA tak munafiq. (Juz 4 hal.135-136 dan Juz 7 hal.83 – 86).

y) Bahwa Ali RA seperti Fir’aun. (Juz 4 hal 136 & 227).

z) Bahwa Ali RA amal terbaiknya hanya memerangi Khawarij. (Juz 6 hal.65).

IBNU TAIMIYAH DAN CUCU RASULULLAH SAW

di membela Mu’awiyah RA serta Yazid dan Bani Umayyah, Ibnu Taimiyah RA lagi-lagi terjebak di penghinaan terhadap Ahlul Bait Nabi SAW, di antaranya Yaitu Dua Cucu Rasulullah SAW Yaitu Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA. Di antaranya beliau menyatakan :

a) Bahwa tak ada dalil mengenai kezuhudan dan keilmuan Al-Hasan RA dan Al-Husein RA, sedang julukan keduanya Bagaikan Dua Pemimpin Pemuda Surga tiada makna istimewa. (Juz 4 hal 19 – 20 dan 78).

b) Bahwa Al-Husein RA menginginan kekuasaan, namun di tak mampu baru minta dipertemukan dengan Yazid. (Juz 2 hal. 29).

c) Bahwa Yazid Yaitu Khalifah yang Absah, sedang Al-Husein RA Yaitu pemberontak yang Disorientasi, di karenakan Al-Husein tak sabar, sehingga pemberontakannya tak ada manfaat agama mau pun Global, bahkan hanya menyebabkan fitnah besar. (Juz 4 hal.241).

d) Bahwa pembunuhan terhadap Al-Husein RA masalah kecil dibandingkan dengan pembunuhan para nabi oleh Bani Israil, di karenakan Al-Husein bukan Nabi. ( Juz 4 hal.252 ).

e) Bahwa sejahat-jahatnya Umar b Sa’ad Si Pembunuh Al-Husein RA tetap muslim tak murtad, bahkan jauh lebih bagus daripada Mukhtar Ats-Tsaqofi Si Pembela Al-Husein RA yang akhirnya murtad di karenakan mengaku Bagaikan Nabi.(Juz 2 hal.31).

Itulah sebabnya, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rhm di kitab Ad-Durorul Kaaminah di mengulas mengenai Ibnu Taimiyah, menyatakan :

Loading...

” ومنهم من ينسبه إلى النفاق لقوله في علي ما تقدم .”

Artinya : ”Dan daripada mereka (para Ulama) ada yang menisbahkannya (Ibnu Taimiyah) kepada Nifaq, di karenakan ucapan / pernyataannya terhadap Ali sebagaimana telah disebutkan.”

Nah, di ini pertanyaannya : ”Apa hukum menghina dan merendahkan Ahli Bait Nabi SAW yang juga merupakan Shahabat paling setianya, seperti Khadijah, Fathimah, Ali dan Al-Hasan serta Al-Husein, rodhiyallaahu ‘anhum ?”

WAHABI MEMBELA IBNU TAIMIYAH

Kaum ”Wahabi Ekstrim” berbeda dengan ”Wahabi Moderat”. Kalangan ”Wahabi Moderat” tak sungkan menerima kritik Ulama Aswaja terhadap Ibnu Taimiyah rhm, dan mereka pun di membela Ibnu Taimiyah rhm tetap santun dan tak Lebih.

Sedang Kalangan ”Wahabi Ekstrim” terlalu Lebih di membela Ibnu Taimyah, seolah Ibnu Taimiyah itu ”Nabi” yang ”Ma’shum tanpa dosa dan kesalahan”. Semua kritik Ulama Aswaja terhadap Ibnu Taimiyah disebut Bagaikan FITNAH, bahkan siapa pun yang mengkritik Ibnu Taimiyah, langsung dituduh Syiah, atau divonis ternodai oleh paham Syiah, lebih dari itu mereka terkadang langsung mengkafirkannya dan menghalalkan darahnya.

Kaum ”Wahabi Ekstrim” pun mengkatagorikan Ibnu Taimiyah Bagaikan Ulama Salaf, sehingga siapa yang mengkritiknya berarti menghina dan melecehkan Ulama Salaf. Padahal, Terminologi Salaf itu hanya berlaku untuk Kaum Sholihin yang Hayati di Tiga Abad Pertama Hijriyyah, sesuai hadits Nabi SAW yang berbunyi :

” خير القرون قرني هذا ، ثم الذي يليه ، ثم الذي يليه ”.

”Kurun (Abad) terbaik Yaitu kurunku ini, setelah itu yang berikutnya, lalu yang berikutnya.”

Nah, Kaum Sholihin yang Hayati di masa Itu Yaitu Shahabat, setelah itu Tabi’in, lalu Tabi’of which Tabi’in. Karenanya, Ibnu Taimiyah rhm tak termasuk Ulama Salaf, sebab beliau lahir di akhir Abad Ketujuh Hijriyyah dan wafat di awal Abad Kedelapan Hijriyyah, bukan di Tiga Abad Pertama Hijriyyah yang merupakan Masa Salaf dengan kesepakatan Ulama.

di soal pernyataan Ibnu Taimiyah rhm terhadap kehormatan Ahli Bait Nabi SAW yang sudah terang benderang termaktub di kitab karangannya sendiri, bahkan para Ulama Aswaja telah menanggapi dan memberi Evaluasi sejak ratusan tahun lalu, melalui kitab-kitab mereka yang mu’tabar, tetap aja Kaum ”Wahabi Ekstrim” menyatakan itu semua FITNAH.

Jadi, jangan heran bila ”Wahabi Ekstrim” selalu menuduh bahwa Aswaja Yaitu Pendusta, Pembohong, Penyebar Fitnah dan Pemecah Belah Umat. Padahal, sebetulnya merekalah yang Pendusta, Pembohong, Penyebar Fitnah dan Pemecah Belah Umat. Itulah yang disebut Maling Teriak Maling.


Kaum ”Wahabi Ekstrim” berusaha membela Ibnu Taimiyah rhm dengan ”dalih” bahwa : ”Sesungguhnya semua pernyataan yang menghujat Ahli Bait Nabi SAW di kitab Minhaajus Sunnah bukanlah pernyataan Ibnu Taimiyah, melainkan pernyataan Kaum Nawaashib yang dinukilkan Ibnu Taimiyah untuk menanggapi Kaum Roofidhoh. Buktinya, di kitab Itu Ibnu Taimiyah ada memuji dan membela Ahlul Bait ”

CATATAN ASWAJA

Namun Aswaja mempunyai beberapa catatan terhadap pembelaan Wahabi Itu, antara lain :

1. Kenapa semua pernyataan Kaum Roofidhoh yang menghujat Shahabat Nabi SAW dijawab dengan cara tegas dan lugas serta tuntas oleh Ibnu Taimiyah rhm, namun banyak pernyataan Khawaarij / Nawaashib yang menghujat Ahli Bait Nabi SAW justru tak dijawab tuntas oleh Ibnu Taimiyah, bahkan justru dijadikan alat untuk menjawab Roofidhoh ?!

2. Apalah artinya pembelaan dan pujian Ibnu Taimiyah rhm untuk Ahlul Bait, bila dicampur dengan aneka hinaan dan pelecehan ? Justru, Jadi kontradiksi dan terkesan ”Mudzabdzab”.

3. Pola Jawab Ibnu Taimiyah rhm terkesan sangat angkuh dan terasa amat Lebih, sehingga terkadang beraroma merendahkan Ahlul Bait, misalnya :

a) Juz 2 hal. 27 Ibnu Taimiyah menyatakan :

”bila mereka (Roofidhoh) berhujjah mengenai kemutawatiran riwayat keislaman Ali dan Hijrah serta Jihadnya, maka riwayat mereka (Khawaarij / Nawaashib) pun Mutawatir mengenai keislaman Mu’waiyah, Yazid, dan para Khulafa Bani Umayyah dan Bani Abbas, serta mengenai Shalat, Puasa dan Jihadnya melawan orang-orang kafir. bila mereka (Roofidhoh) menuduh mereka dengan Nifaq, maka Khawarij (Nawaashib) pun lebih Bisa menuduh (Ali) dengan Nifaq. bila mereka (Roofidhoh) menyebutkan suatu dalih, mereka (Khawaarij) punya dalih lebih hebat lagi.”


b) Juz 4 hal.175 Ibnu Taimiyah menyatakan :

“ bila Rafidhi menyatakan bahwa Mu’awiyah Yaitu Pemberontak yang Zholim, maka Nashibi (Khawaarij) akan Menyebut kepadanya : ”Ali juga Pemberontak Zholim, di karenakan membunuh kaum muslimin untuk merebut kekuasaannya, dan dia yang memulai perang, serta menyerang umat Islam, lalu menumpahkan darah umat Islam tanpa manfaat untuk mereka, bagus manfaat Global mau pun akhirat, dan di zamannya pedang terhunus terhadap kaum muslimin, tak Sempat diarahkan ke kaum kafirin.”

c) Juz 6 hal.185 Ibnu Taimiyah Menyebut :

”Inilah Hujjah Khawarij (Nawaashib). Dan Hujjah mereka di menghujat Ali lebih kuat daripada Hujjah Syiah (Roofidhoh) di membela Ali. Dan Pedang mereka lebih kuat daripada pedang Syi’ah, Agama mereka pun lebih Absah, dan mereka orang-orang yang jujur bukan pembohong …”

Terkait dengan berbagai pernyataan Ibnu Taimiyah rhm yang tak patut terhadap Ahlul Bait Nabi SAW, sejumlah Ulama Aswaja telah menanggapinya melalui berbagai karya tulis mereka, di antaranya Yaitu kitab Al-Maqoolaat As-Sunniyyah Fii Kasyfi Dholaalaati Ibni Taimiyyah karya Asy-Syeikh Abdullah Al-Harawi. Selain itu masih ada kitab Akhthoo-u Ibni Taimiyah Fii Haqqi Rasuulillaahi wa Ahli Baitihi karya DR. Mahmud As-Sayyid Shubaih, yang ditanggapi oleh pengikut Ibnu Taimiyah rhm melalui kitab dengan judul Rof’ul Malaam ‘an Syaikhil Islaam karya DR. ‘Athiyyah ‘Adlaan.

KESIMPULAN

Ibnu Taimiyah rhm Yaitu Ulama Besar di zamannya, keluasan ilmu dan kecerdasannya di berhujjah diakui oleh para Ulama Aswaja. Namun demikian, beliau ”tak ma’shum”, sehingga tak luput dari kesalahan di berijtihad sebagaimana Ulama yang lainnya.

wajib kita akui dengan jujur bahwasanya Ibnu Taimiyah rhm di akhirnya bertaubat dari sikap ”Takfir” sebagaimana disebutkan oleh muridnya sendiri Yaitu Imam Adz-Dzahabi rhm di kitab Siyar A’laamin Nubalaa Juz 11 Nomor 2.898, tatkala membahas mengenai Imam Asy’ari rhm.

Dan wajib kita akui dengan jujur pula bahwasanya Ibnu Taimiyah rhm Sempat menulis suatu kitab Eksklusif mengenai Ahli Bait Nabi SAW dengan judul Huquuq Aalil Bait. di kitab Itu beliau menunjukkan rasa cinta dan penghormatannya yang tinggi terhadap Ahlul Bait.

Serta mesti kita akui dengan tulus dan ikhlas pula bahwasanya Ibnu Taimiyah rhm di kitabnya Majmuu’ Faataawaa menolak sikap ”Takfir” antar sesama muslim. Semua pernyataannya Bisa kita cermati antara lain :

1. di juz 3 hal.245 mengenai sikap arif dan bijaknya di menyikapi pihak yang mengkafirkan dirinya.

2. di juz 3 hal.353 mengenai pengakuannya terkait Iman dan Taqwa yang dimiliki mereka yang dicapnya Bagaikan Ahli Bid’ah.

3. di juz 13 hal.96 ada pengakuannya mengenai jasa Ahli Bid’ah di penyebaran Islam.

4. di juz 13 hal.97 ada pengakuannya mengenai jasa Ahli Bid’ah di membela Islam.

5. di juz 35 hal.201 ada pengakuannya mengenai Ahli Bid’ah lebih bagus daripada Yahudi dan Nashrani.

Karenanya, kami ber-Husnu Zhon bahwa semua ungkapan Ibnu Taimiyah rhm yang negatif mengenai Ahli Bait Nabi SAW di kitab Minhaajus Sunnah hanya merupakan sikap lama (qodim) yang sudah diinsyafinya, atau merupakan kekhilafan di karenakan luapan emosi di menanggapi tuduhan-tuduhan keji Kaum Roofidhoh terhadap Para Shahabat Nabi SAW, sebagaimana digambarkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rhm di kitab Lisaanul Miizaan :

” وكم من مبالغة لتوهين كلام الرافضي أدته أحيانا إلى تنقيص علي .”

Artinya : ”Berapa banyak sikap Lebih (Ibnu Taimiyah) di merendahkan Ungkap Roofidhi terkadang mengantarkannya kepada merendahkan Ali RA.”

Hadaaniyallaahu wa Iyyaakum ilaa Shiroothihil Mustaqiim …
Wallaahul Muwaffiq ilaa Aqwamith Thoriiq … 


Wassalaamu ‘Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh …

Sumber :
http://www.habibrizieq.com/


abdkadiralhamid@2016
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Kekhilafan Ibnu Taimiyah di Merendahkan Ahli Bait Nabi SAW

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here