Home Doa Islam Keistimewaan dan Keutamaan Bulan Muharram

Keistimewaan dan Keutamaan Bulan Muharram

130
0

Website Eksklusif Doa – Alhamdulillah kita sekarang sudah memasuki bulan muharram, Yaitu Disorientasi satu bulan yang banyak mempunyai keutamaan dan keistimewaan. di bulan muharram ini, biasa umat muslim dari segala penjuru Global menjalankan puasa muharram. Untuk lebih jelasnya mengenai puasa sunnah ini, teman-teman silakan pelajari artikel sebelumnya yang berjudul “Hukum Puasa Muharram – Puasa Asyura”.

Untuk lebih jauh memahami mengenai bulan muharram, berikut ini akan kami share beberapa keutamaan dan keistimewaan bulan muharram sebagaimana kami kutip dari berbagai sumber.

#1. Bulan Muharram Yaitu Disorientasi Satu Diantara Bulan-Bulan Haram

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya :
“Sesungguhnya bilangan bulan di Hepotenusa Allah ialah dua belas bulan, di ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kita menganiaya diri kita di bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kita semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. at Taubah :36).

di ayat ini menerangkan kepada kita bahwa Seusai penciptaan langit dan bumi Allah menciptakan bulan yang berjumlah 12 bulan yang mana bulan Itu merupakan bulan tahun Hijriah. di bulan-bulan Itu terdapat 4 bulan yang paling istimewa diantara bulan yang lainnya, Disorientasi satunya Yaitu bulan Muharram. di bulan Muharram Allah mengharamkan umat islam menjalankan perbuatan yang dilarang, (membunuh, berperang). akan tetapi disana juga jelaskan bahwa orang muslim wajib memerangi orang kafir yang selalu mengajak kepada kehancuran. Yang dilakukan orang kafir, Yaitu bukan di karenakan ingin merampas harta seperti yang dilakukan sebelum datangnya islam, merebut kekuasaan, balas dendam seperti yang telah dialami saat umat islam mengusir orang kafir untuk meninggalkan Makkah dan Madinah, akan tetapi mereka menginginkan agama Islam hancur.

Disorientasi seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Di’amah Sadusi rahimahulloh menyatakan:

“Amal sholeh lebih besar pahalanya bila dikerjakan di bulan-bulan haram sebagaimana kezholiman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezholiman yang dikerjakan di bulan-bulan lain meskipun dengan cara Generik kezholiman Yaitu dosa yang besar”

Disinilah yang Jadi inti di bulan Muharram, bahwa diharamkan umat-Nya melakukankan berperang atau membunuh di bulan-bulan istimewa Itu, di karenakan apabila melanggarnya, maka dosanya akan dilipat gandakan dari bulan-bulan yang lain. Dengan adanya larang Itu berarti Allah juga akan membagikan pahala untuk umat-Nya yang mengerjakan alaman seperti yang disunahkan.

di hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah radhiyallohu anhu, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam jelaskan keempat bulan haram yang dimaksud :

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya :
“Sesungguhnya Masa itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah Yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhiroh dan Sya’ban.” [ HR. Bukhari (3197) dan Muslim(1679) ]

Para ulama bersepakat bahwa keempat bulan haram Itu mempunyai keutamaan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain selain Ramadhan, namun demikian mereka berbeda pendapat, bulan apakah yang paling afdhal diantara keempat bulan haram yang ada? Imam Hasan Al Bashri rahimahulloh dan beberapa ulama lainnya berkata,

“Sesungguhnya Allah telah memulai waktu yang setahun dengan bulan haram (Muharram) lalu menutupnya juga dengan bulan haram (Dzulhijjah) dan tak ada bulan di setahun Seusai bulan Ramadhan yang lebih agung di Hepotenusa Allah melebihi bulan Muharram”

#2. Bulan Muharram disifatkan Bagaikan Bulan Allah

Kedua belas bulan yang ada Yaitu makhluk ciptaan Allah, akan akan tetapi bulan Muharram meraih keistimewaan Eksklusif di karenakan hanya bulan inilah yang disebut Bagaikan “syahrullah” (Bulan Allah). Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya :
“Puasa yang paling utama Seusai Ramadhan Yaitu puasa di bulan Allah (Yaitu) Muharram. Padahal shalat yang paling utama Seusai shalat fardhu Yaitu shalat malam”.[ H.R. Muslim (11630) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallohu anhu]

Hadits ini mengindikasikan adanya keutamaan Eksklusif yang dimiliki bulan Muharram di karenakan disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafazh Allah). Para Ulama telah menerangkan bahwa saat suatu makhluk disandarkan di lafzhul Jalalah maka itu mengindikasikasikan tasyrif (pemuliaan) terhadap makhluk Itu, sebagaimana istilah baitullah (rumah Allah) untuk mesjid atau lebih Eksklusif Ka’bah dan naqatullah (unta Allah) istilah untuk unta nabi Sholeh ‘alaihis salam dan lain sebagainya.

Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqy rahimahulloh jelaskan,

“Apa hikmah dari penamaan Muharram Bagaikan syahrulloh (bulan Allah) sementara seluruh bulan milik Allah ? Mungkin dijawab bahwa hal itu dikarenakan bulan Muharram termasuk diantara bulan-bulan haram yang Allah diharamkan padanya berperang, disamping itu bulan Muharram Yaitu bulan perdana di setahun maka disandarkan padanya lafzhul Jalalah (lafazh Allah) Bagaikan bentuk pengkhususan baginya dan tak ada bulan lain yang Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam sandarkan kepadanya lafzhul Jalalah melainkan bulan Muharram”

As Suyuthi Menyebut: Dinamakan syahrullah – sementara bulan yang lain tak mendapat gelar ini – di karenakan nama bulan ini “Al Muharram” nama nama islami. Berbeda dgn bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di Masa jahiliyah. Sementara Dulu, orang jahiliyah Menyebut bulan Muharram ini dgn nama : Shafar Awwal. setelah itu saat islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dgn Al Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah).

Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, di karenakan sangat terhormatnya bulan ini. di karenakan itu, tak boleh ada sedikitpun riak & konflik di bulan ini.

#3. Beberapa Amalan Yang Dianjurkan di Bulan Muharram

Sebagaimana telah disebutkan di atas dari Ungkap Qatadah rahimahulloh bahwa amalan sholeh dilipatgandakan pahalanya di bulan-bulan haram, dengan demikian dengan cara Generik segala jenis kebaikan dianjurkan untuk diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya di bulan Muharram. Adapun ibadah yang dianjurkan dengan cara Eksklusif di bulan ini Yaitu memperbanyak puasa sunnah sebagaimana yang telah disebutkan di hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, beliau berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya :
“Puasa yang paling utama Seusai Ramadhan Yaitu puasa di bulan Allah (Yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama Seusai puasa wajib Yaitu sholat lail” [HR. Muslim(11630) ]

Mulla Al Qari’ menyebutkan bahwa hadits di atas Bagaikan dalil anjuran berpuasa di seluruh hari bulan Muharram. Namun ada satu masalah yang terkadang ditanyakan berkaitan dengan hadits ini Yaitu, ‘Bagaimana memadukan antara hadits ini dengan hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallohu alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban yang Jadi bulannya Allah, bukan di bulan Muharram? Imam Nawawi rahimahullah telah menjawab pertanyaan ini, beliau Menyebut boleh Jadi Rasulullah shallallohu alaihi wasallam belum mengetahui keutamaan puasa Muharram kecuali di akhir hayat beliau atau mungkin ada aja beberapa udzur yang menghalangi beliau untuk memperbanyak berpuasa di bulan Muharram seperti beliau mengadakan safar atau sakit.

setelah itu anjuran berpuasa di bulan Muharram ini lebih dikhususkan dan ditekankan hukumnya di hari yang dikenal dengan istilah Yaumul ‘Asyuro, Yaitu di tanggal sepuluh bulan Muharram (‘asyuro). ‘Asyuro berasal dari Perkataan ‘Asyarah yang berarti sepuluh. di hari ‘Asyuro ini, Rasulullah shallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro.

#4. Hadits-Hadits Disyariatkannya Puasa ‘Asyuro

Adapun hadis-hadis yang Jadi dasar ibadah puasa Itu banyak, kami akan sebutkan diantaranya dengan pengklasifikasian Bagaikan berikut:

Kaum Yahudi juga berpuasa di hari Asyuro bahkan menjadikannya Bagaikan Ied (hari raya)

Loading...
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Artinya :
Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma berkata : saat Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘ Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini?. Mereka menjawab, “Ini Yaitu hari istimewa, di karenakan di hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, di karenakan itu Nabi Musa berpuasa di hari ini. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pun bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa di tahun yang akan datang. [H.R. Bukhari (1865) dan Muslim(1910) ]

Hadis lain jelaskan:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ

Artinya :
Dari Abu Musa radhiyallohu anhu berkata, “Hari ‘Asyuro Yaitu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya Bagaikan hari raya, maka Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda (kepada ummatnya), “Berpuasalah kalian (di hari itu)” [HR. Bukhari (1866) dan Muslim(1912), lafal hadits ini menurut periwayatan imam Muslim)

Kaum Quraiys di Masa Jahiliyah juga berpuasa Asyuro dan puasa ini diwajibkan atas kaum muslimin sebelum kewajiban puasa Ramadhan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ . متفق عليه.

Artinya :
Dari Aisyah radhiyallohu anha berkata, Kaum Qurays di masa Jahiliyyah juga berpuasa di hari ‘Asyuro dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam juga berpuasa di hari itu, saat beliau telah tiba di Medinah maka beliau tetap mengerjakannya dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa. Seusai puasa Ramadhan telah diwajibkan beliau pun meninggalkan (kewajiban) puasa ‘Asyuro, seraya bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa maka silakan tetap berpuasa dan barangsiapa yang tak ingin berpuasa maka tak mengapa” [ HR. Bukhari (1863) dan Muslim(1897) ]

عن عَبْد اللَّهِ بْن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ (رواه مسلم)

Artinya :
Dari Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma bahwa kaum Jahiliyah Dulu berpuasa Asyuro dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam serta kaum muslimin juga berpuasa sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari ‘Asyuro termasuk hari-hari Allah, barangsiapa ingin maka berpuasalah dan siapa yang ingin meninggalkan maka boleh” [ HR. Muslim(1901) ]

Perhatian Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullohi alaihim ajmain yang begitu besar terhadap puasa ‘Asyuro

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ

Artinya :
“Aku tak Sempat melihat Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, berupaya keras untuk puasa di suatu hari melebihi yang lainnya kecuali di hari ini, Yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini Yaitu Ramadhan.” [ H.R. Bukhari (1867) dan Muslim(1914) ]

عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الْإِفْطَارِ

Artinya :
Dari Rubai’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’ radhiyallohu ‘anha berkata, Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam di pagi hari Asyuro mengutus ke perkampungan kaum Anshar yang berada di sekitar Medinah (pesan), “Barangsiapa yang tak berpuasa hari itu hendaknya menyempurnakan sisa waktu di hari itu dengan berpuasa dan barangsiapa yang berpuasa maka hendaknya melanjutkan puasanya”. Rubai’ berkata, “Maka sejak itu kami berpuasa di hari ‘Asyuro dan menyuruh anak-anak kami berpuasa dan kami buatkan untuk mereka permainan yang terbuat dari kapas lalu bila Disorientasi seorang dari mereka menangis di karenakan ingin makan maka kami berikan kepadanya permainan Itu hingga masuk waktu berbuka puasa” [ HR. Bukhari (1960) dan Muslim (1136), redaksi hadits ini menurut periwayatan Imam Muslim ]

Itulah beberapa keistimewaan bulan muharram yang Bisa kami share seperti dikutip dari laman Syamsul Website, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Keistimewaan dan Keutamaan Bulan Muharram

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here