JUNJUNGAN JILID 1: KESABARAN RASULULLAH MENGHADAPI ANCAMAN PUAK QURAISY (5) (AKHLAK SABAR SAW)

Sesudah Frustasi asa di karenakan menghalangi Nabi Muhammad dengan tutorial kekerasan ternyata tak menggentarkan Rasulullah saw dan para pengikutnya, Abu Jahal lalu mendatangi Abu Thalib, paman dan pelindung Rasulullah. Abu Jahal meminta supaya disampaikan kepada Muhammad bahwa ia akan membagikan apa aja yang dikehendaki Muhammad; gadis-gadis yang paling cantik, harta Harta yang melimpah, atau kedudukan terhormat di jajaran kepemimpinan bangsa Arab. Abu Thalib Genjah menyampaikan tawaran Abu Jahal dan suku Quraisy itu kepada Nabi saw.
Dengan tegar Nabi Menyebut, “Demi Allah, wahai pamanku. Andaikata diletakan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, supaya saya menggagalkan perjuangan menegakan kebenaran, saya takkan surut, hingga tercapai kemenangan atau saya hancur binasa di perjuangan.” Itulah benih kegigihan dan ketangguhan Rasulullah semenjak awal perjuangan. Ternyata sifat beliau tak berubah walaupun sudah sukses Jadi pemimpin umat yang agung dan disegani.
di suatu malam terdengar ribut-ribut diluar kota Madinah. Para sahabat mengira musuh sedang Dinamis hendak menyerang kota. Waktu itu Nabi saw sedang tidur. Jadi para sahabat sepakat untuk tak memebritahukan Rasulullah sebab mereka tahu Nabi amat lelah. Mereka Genjah memberangkatkan sepasukan tentara Futuristis ke arah terjadinya ribut-ribut itu. Di tengah perjalanan, sebelum tiba ke tempat itu mereka berpapasan denga Rasulullah yang sedang mengendarai kuda hendak kembali ke Madinah. Di pinggangnya terselempang sebilah pedang.
Nabi berkata, “Wahai para sahabatku yang setia. Pulang sajalah kita ke Madinah. tak ada apa-apa di sana. tak ada musuh. Aman belaka. Yang ribut-ribut tadi hanya suara kuda yang kedinginan.” Alangkah malunya para sahabat. Ternyata mereka kalah tanggap dan kalah cekatan dibandingkan Rasulullah saw yang disangka masih tertidur lelap di pembaringan.
di suatu peperangan, Nabi terlau capai hingga lengah, beliau terduduk di bawah sebatang pohon tanpa sebilah senjata pun. Seorang pendekar kaum musyirikin yang ditakuti, tiba-tiba muncul di hadapannya, berdiri berkacak pinggang di di Nabi terkantuk-kantuk.
Dengan suara lantang, dedengkot musuh yang bernama Da’tsur itu menghardik Rasulullah sambil mengacungkan pedangnya, “Hai Muhammad. Siapa sekarang yang Bisa menyelamatkanmu dari keganasan pedangku?”
Nabi tersentak sekejab, lalu menatap mata Da’tsur lurus matanya. Da’tsur tergetar melihat Etos yang yang sejuk akan tetapi tak kenal takut itu. Nabi menjawab tenang, “di karenakan Bagaikan manusia, aku sudah tak punya daya, tiada lagi yang akan melindungi diriku kecuali Allah?”
Da’tsur menggigil mendengar jawaban itu. Macam apa pula kekuatan Allah yang disebut-sebut Muhammad itu, hingga ia yakin Allah pasti melindunginya? Kebimbangannya kian bertambah menyaksikan Nabi tetap tabah, hingga akhirnya pedang Da’tsur terlepas dari genggamannya dan jatuh.
Nabi Genjah mengambil pedang itu lantas mengacungkannya kepada Da’tsur, “Nah, di ini siapakah yang akan menyelamatkanmu dari pedangku?” Dengan bibir bergetar Da’tsur menjawab, “Hanya engkau Muhammad yang Bisa menyelamatkanku. Sungguh, hanya engkau belaka.”
Namun Nabi bukanlah tipe pemimpin yang suka menyimpan dendam. Beliau tak ingin membelas kekerasan dengan kekerasan. Maka beliau Genjah menyerahkan pedang itu kembali di Da’tsur selaku pemiliknya. Dengan terjadinya peristiwa Itu, kelak Da’tsur masuk Islam, dan Jadi pahlawan membela agama.

JUNJUNGAN JILID 1: KESABARAN RASULULLAH MENGHADAPI ANCAMAN PUAK QURAISY (5) (AKHLAK SABAR SAW)

Facebook Comments

Leave a Reply