Home Ceramah Islam Terbaru JENIS AIR DAN HUKUM PENGGUNAANNYA

JENIS AIR DAN HUKUM PENGGUNAANNYA

30
0
BAB THAHARAH (BERSUCI)


MUKADIMAH

dengan cara bahasa, thaharah berasal dari akar Perkataan thahara yathhuru yang berarti Higienis, bagus Higienis dari kotoran yang bersifat materi, seperti najis, ataupun dari kotoran maknawi, seperti Arogan dan dengki.
Adapun definisi thaharah menurut istilah para ahli fikih Yaitu menghilangkan hadas atau membersihkan najis dengan tips Eksklusif.
Thaharah mempunyai empat macam tata tips Aplikasi, Yaitu wudhu (untuk hadas kecil), mandi (untuk hadas besar), tayammum (untuk hadas kecil dan besar) dan menghilangkan najis.
Dan pelaksanaannya thaharah memakai empat sarana, Yaitu air (di wudhu dan mandi), debu (di tayammum), samak (untuk membersihkan najis di kulit Fauna) dan batu (di istinja’/cebok).
Oleh di karenakan itu, najis tak Bisa dinyatakan hilang dengan dijemur dibawah matahari, dianginkan, dicuci dengan cairan kimia, dibersihkan dengan debu (tanah), dan lain sebagainya, meskipun wujudnya sudah tak ada.


A. A I R

a. Macam-macam air
Ditinjau dari hukum pemakaiannya, air Bisa Dikotomi Jadi tiga jenis:

  1. Air suci dan mensucikan (air Absolut/air murni)

Yaitu air yang masih di keadaan penciptaan awalnya. Inilah satu-satunya air yang Bisa digunakan untuk bersuci.
Dilihat dari asal (penciptaannya), air Bisa Dikotomi Jadi dua: pertama, air dari langit, Yaitu air hujan, air salju dan air embun. Dan kedua, air dari bumi, Yaitu air Bahari, air sungai, air sumur dan air mata air.
Tidaklah mempengaruhi kesucian air Itu bila terjadi perubahan di karenakan sesuatu yang tak Bisa dihindarinya, seperti tempat yang mewadahinya, tempat yang dialirinya, lumut, tanah dan dibiarkan di waktu yang lama.

air wudhu

Allah SWT berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرُكَمْ بِهِ

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kita dengan hujan itu.” (Al-Anfaal: 11)

Nabi SAW Sempat ditanya oleh seorang sahabat yang pergi berlayar sementara tak membawa cukup air apakah boleh berwudhu dengan air Bahari, lalu beliau menjawab:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Ia (air Bahari) airnya mensucikan dan bangkainya halal.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i, Ibnu Majah dan Ahmad).

  1. Air suci tapi tak mensucikan.

Yaitu air yang suci akan tetapi tak Bisa digunakan untuk bersuci di karenakan telah hilang daya penyuciannya dikarenakan Sempat dipakai atau berubah sifatnya. Air ini terbagi Jadi dua Yaitu:

  • Air musta’mal (air bekas pakai). Yaitu air yang telah dipakai untuk membersihkan hadas –Yaitu basuhan pertama di wudhu atau mandi– atau menghilangkan najis.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ

“Janganlah seorang diantara kalian mandi di air yang tergenang sementara dia junub.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa air yang Sempat dipakai seseorang yang berhadas (junub) tak Bisa lagi dipakai untuk bersuci lagi.

  • Air berubah sifatnya di karenakan tercampur benda suci dengan cara sengaja dan tak Bisa dipisahkan kembali. Seperti air kopi, air sabun, air bunga, dan lain sebagainya. Air ini tak Bisa mensucikan lagi di karenakan air Itu tak lagi disebut dengan air Absolut (murni).
  1. Air najis atau ternajisi.

Yaitu air yang terkena benda najis sehingga kesuciannya Jadi hilang. Air ini Dikotomi Jadi dua:

  1. Air sedikit, Yaitu yang Anemia dari dua qulah (+ 217 liter). bila air sedikit ini terkena najis, bagus sedikit ataupun banyak, maka air itu Jadi najis sehingga tak Bisa dijadikan untuk bersuci bagus dari hadas ataupun untuk membersihkan najis.
  2. Air banyak, Yaitu yang berjumlah dua qulah atau lebih. bila terkena najis, air banyak ini tak Jadi najis kecuali berubah satu dari Disorientasi satu sifatnya, Yaitu bau, warna atau rasanya.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW ditanya mengenai air di padang terbuka yang terkadang didatangi binatang buas. Beliau menjawab:

Loading...
إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ، وفي رواية: فَإِنَّهُ لاَ يَنْجُسُ

“bila suatu air mencapai ukuran dua qulah maka ia tak membawa najis.” di riwayat lain: “Maka ia tak najis.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa`i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Mafhum dari hadis ini menunjukkan bahwa air yang Anemia dari dua qulah bila terkena najis maka Jadi najis meskipun tak berubah sifat airnya. Ini dikuatkan oleh hadits:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحُدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِيْ اْلإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثاً، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“bila Disorientasi seorang diantara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah ia memasukkan tangannya di bejana air hingga mencucinya tiga kali, di karenakan ia tak tahu dimanakah tangannya bermalam.” (HR. Muslim).


b. tips mensucikan air najis

Air daur ulang

Air yang hilang kesuciannya di karenakan tercampur benda najis Bisa disucikan kembali dengan tiga tips, Yaitu:

  1. Suci dengan sendirinya dengan dibiarkan lama di tempatnya dengan syarat jumlah airnya tak Anemia dari dua kulah.
  2. Menyucikan dengan menambahkan air Higienis padanya sehingga Jadi dua kulah atau lebih dan sifat air kembali normal.
  3. Menyucikan dengan mengurangi airnya hingga sifatnya kembali seperti semula dan tak Anemia dari dua kulah.


c. Perubahan air berdasarkan taksiran
Yaitu menghukumi suci atau tidaknya air berdasarkan Diagnosis (Estimasi) meskipun dengan cara kasat mata air itu tampak suci. Diagnosis ini mempunyai dua keadaan:

  1. bila terdapat najis yang jatuh ke air dan mempunyai sifat seperti sifat air itu. Misalnya, air kencing yang sudah hilang baunya. Maka kesucian air Itu dinilai dengan tips menaksir bila air itu kemasukan benda yang mempunyai sifat yang paling tinggi (pekat) sebanyak benda najis yang terjatuh itu. Seperti tinta (untuk menilai perubahan warna air), minyak kasturi (menilai bau air), atau cuka (menilai rasa air). bila sifat air berubah Seusai dimasukkan benda-benda Itu maka air itu dihukumi najis, tapi bila tak berubah maka dihukumi suci.Keadaan ini hanya dilakukan di air yang berjumlah dua kulah atau lebih. di karenakan bila air itu Anemia darinya maka langsung dihukumi najis. Hukum menjalankan Diagnosis ini Yaitu wajib.
  1. bila terdapat benda suci yang jatuh ke di air dan mempunyai sifat seperti sifat air. Misalnya, air bunga mawar yang sudah hilang baunya, atau air musta’mal.Maka kesucian air Itu dinilai dengan memasukkan benda yang mempunyai sifat sedang sebanyak benda yang jatuh itu. Yaitu seperti warna sari buah, rasa buah delima dan bau liban. bila sifat air itu berubah dengan masuknya benda-benda Itu maka air itu dihukumi tak suci.Diagnosis ini dilakukan di air sedikit (Anemia dari dua kulah) dan air banyak (dua kulah atau lebih). Hukum menjalankan Diagnosis ini Yaitu dianjurkan (sunah).


wallahu a’lam.

Sumber : http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

JENIS AIR DAN HUKUM PENGGUNAANNYA

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here