Home Ceramah Islam Terbaru JANGAN Sempat MENOLAK TAMU di karenakan TAMU MEMBAWA BERKAH

JANGAN Sempat MENOLAK TAMU di karenakan TAMU MEMBAWA BERKAH

28
0

Di riwayatkan ada seorang lelaki yang suka kedatangan tamu. Namun isterinya menunjukkan sikap sebaliknya. Setiap kali ia membawa tamu kerumah, isterinya menunjukkan sikap yang tak bagus. Orang itu mengeluhkan keadaan ini kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم.

Mendengar itu, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, 

“Katakan kepada isterimu, hari ini Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan beberapa orang sahabatnya akan bertamu ke rumah kita.” Rasulullah صلى الله عليه و سلم berpesan kepada orang itu,
“Katakan kepada isterimu supaya ia memerhatikan tamu di di keluar rumah.”

Isteri laki-laki itu menjalankan apa yang diperintahkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم. di di tamu masuk, ia melihat mereka membawa daging dan buah-buahan yang banyak dan di di keluar mereka membawa keluar ular dan kala jengking yang begitu banyak.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, 

“Kedatangan tamu kerumah mendatangkan kurnia yang banyak kedalam rumah dan di di pergi, mereka membawa keluar berbagai Bala.”
 

Dengan menyaksikan hal itu, wanita itu pun berubah Jadi orang yang suka menerima tamu.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, 

“Sesungguhnya seorang tamu yang datang mengunjungi seseorang,membawa rezeki untuk orang Itu dari langit. Apabila ia memakan sesuatu, Allah سبحانه و تعالى akan mengampuni penghuni rumah yang dikunjungi Itu.”

di kesempatan lain, Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda,
“Setiap rumah yang tak dikunjungi tamu, maka malaikat-pun tak akan mengunjungi rumah Itu.”

 

Imam Jaafar ash-Sadiq رضي الله عنه berkata,
“Barangsiapa mengunjungi sahabatnya semata-mata kerana Allah, nescaya Allah سبحانه و تعالى mengutus 70 ribu malaikat untuk menyertainya. Para malaikat itu berkata, ‘Syurga untuk kita.”
_________________________

Loading...

Sesungguhnya beruntunglah rumah-rumah yang sering kedatangan tamu, maka dari itu janganlah mengeluh bila ada orang yang ingin bertamu.. 

Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu

Pembaca muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman di Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Berikut ini Yaitu adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini di dua bagian, Yaitu adab untuk tuan rumah dan adab untuk tamu.
Adab untuk Tuan Rumah
1. saat mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan di dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ
“Janganlah engkau Bergaul melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. tak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya aja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ
“Sejelek-jelek Boga Yaitu Boga walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)
3. tak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya Seandainya diundang.
4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى
“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)
5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu Boga semampunya aja. Akan akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan Boga yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:
فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ
“Dan Ibrahim datang di keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk setelah itu ia mendekatkan Boga Itu di mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
6. di penyajiannya tak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, akan tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) di karenakan betapa mulianya beliau di menjamu tamu.
7. Hendaknya juga, di pelayanannya diniatkan untuk membagikan kegembiraan kepada sesama muslim.
8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.
9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa yang tak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari di kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.
10. Jangan mengangkat Boga yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
11. Di antara adab orang yang membagikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tak tidur sebelum mereka tidur, tak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis saat mereka datang, dan merasa Dehidrasi tatkala pamitan pulang.
12. Mendekatkan Boga kepada tamu tatkala menghidangkan Boga Itu kepadanya sebagaimana Allah ceritakan mengenai Ibrahim ‘alaihis salam,
فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ
“setelah itu Ibrahim mendekatkan hidangan Itu di mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)
13. Mempercepat untuk menghidangkan Boga untuk tamu sebab hal Itu merupakan penghormatan untuk mereka.
14. Merupakan adab dari orang yang membagikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
15. Adapun masa penjamuan tamu Yaitu sebagaimana di sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
“Menjamu tamu Yaitu tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tak halal untuk seorang muslim tinggal di tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya Padahal ia tak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”
16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang hingga ke depan rumah.
Adab untuk Tamu
1. untuk seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ
“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ
“Barang siapa yang tak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)
Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:
  • Orang yang mengundang bukan orang yang wajib dihindari dan dijauhi.
  • tak ada kemungkaran di tempat undangan Itu.
  • Orang yang mengundang Yaitu muslim.
  • Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya untuk orang yang mengundang, tak untuk yang diundang.
  • tak menggugurkan suatu kewajiban Eksklusif saat menghadiri undangan Itu.
  • tak ada mudharat untuk orang yang menghadiri undangan.
2. Hendaknya tak membeda-bedakan siapa yang mengundang, bagus orang yang kaya ataupun orang yang miskin.
3. Berniatlah bahwa kehadiran kita Bagaikan Asterik hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, di karenakan setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)
4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga Genjah pulang Seusai selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala di firman-Nya:
يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kita memasuki rumah-rumah Nabi kecuali apabila kita diizinkan untuk makan dengan tak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, bila kita diundang, masuklah! Dan apabila kita selesai makan, keluarlah kita tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kita keluar. Dan Allah tak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)
5. Apabila kita di keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan di karenakan menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ
“bila Disorientasi seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)
6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tak menolak tempat duduk yang telah disediakan.
7. Termasuk adab bertamu Yaitu tak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin supaya tak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala di ayat di atas: “apabila kita selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)
9. Bagaikan tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah di karenakan hal ini Bisa mempererat Afeksi sayang antara sesama muslim,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)
10. bila seorang tamu datang bersama orang yang tak diundang, ia wajib meminta izin kepada tuan rumah Dulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ
“Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. setelah itu, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku Boga yang dengannya aku Bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya Yaitu beliau. setelah itu, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tak, aku akan meninggalkannya.” setelah itu, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR. Bukhari)
11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya Seusai selesai mencicipi Boga Itu dengan doa:
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ
“Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang bagus telah memakan Boga kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud)
اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي
“Ya Allah berikanlah Boga kepada orang telah yang membagikan Boga kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim)
اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ
“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)
12. Seusai selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.
Semoga bermanfaat..
abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

JANGAN Sempat MENOLAK TAMU di karenakan TAMU MEMBAWA BERKAH

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here