Home Kisah Islami Inilah Sahabat Yang Lebih Utamakan Bersama Nabi dari di Keluarganya

Inilah Sahabat Yang Lebih Utamakan Bersama Nabi dari di Keluarganya

17
0

Sobat Berita Islam Yang Dirahmati Allah SWT. Semoga Keadaan kita Selalu di Lindungan Allah SWT. bila Sebelumnya kita Membaca Artikel Kisah Sahabat Nabi Yang Jasadnya Dilindungi Lebah. Maka Artikel kali Yaitu mengenai sahabat Nabi Yang mengutamakan bersama Nabi dari di keluarganya.

Berikut Kisah sahabat Nabi yang bernama Zaid Bin Haritsah yang Tampang dan perawakannya biasa aja, pendek dengan kulit coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek.  Demikian dikatakan di suatu riwayat.
Masalahnya, bukan di fisiknya Yang membuat sejarah hidupnya hebat dan besar. Namun perjalanan panjang sejarahnya bersama Rasulullah lah ia terkenal. Zaid yang berasal dari suku yang jauh dari Mekah, hingga ke Mekah dengan status budak. akan tetapi begitulah Allah Yang Maha mempunyai rencana supaya Zaid Bisa bertemu dengan Rasul-Nya.
“Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat Nabi Jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih Hayati sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya Bagaikan khalifah!” (Aisyah r.a).

Loading...
MASA KECIL ZAID
Ibu Zaid yang bernama Su’di binti Tsa’labah berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatannya. di suatu pagi yang cerah, suaminya. Mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan isterinya sedang menggendong anak mereka yang masih kecil, yakni Zaid. Di waktu ia akan menitipkan isteri  dan  anaknya kepada  rombongan  kafilah  yang  akan berangkat bersama dengan isterinya, dan ia wajib menunaikan tugas pekerjaannya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, perasaan aneh menyeluruh di hatinya, menyuruh supaya ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Dan kafilah pun Berawal Dari Dinamis memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya untuk Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan untuk putera dan isterinya ….
Demikianiah, ia melepas isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat berdirinya hingga keduanya lenyap dari Etos. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah tak berada di tempatnya yang biasa. Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah Empati berangkat bersama rombongan kafilah
Seusai beberapa lama Su’da, isteri Haritsah berdiam bersama kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. hingga di suatu hari, desa itu dikejutkan oleh Agresi gerombolan perampok badui yang menggerayangi desa Itu.
Kampung dibuat porak poranda. di karenakan tak Bisa mempertahankan diri, semua milik yang berharga dikuras Demisioner dan penduduk yang tertawan digiring oleh para perampok itu Bagaikan tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah. Dengan perasaan duka kembalilah ibu Zaid kepada suaminya seorang diri.
Demi Haritsah mengetahui kejadian Itu, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya ia berjalan Menelusuri anaknya. Kampung demi kampung diselidikinya, padang pasir dijelajahinya. Dia bertanya di kabilah yang lewat, Seandainya-Seandainya ada yang tahu mengenai anaknya tersayang dan buah hatinya  “Zaid.”
akan tetapi usaha itu tak sukses. Maka bersyairlah ia menghibur diri sambil menuntun untanya, yang diucapkannya dari lubuk perasaan yang haru:
    “Kutangisi Zaid, ku tak tahu apa yang telah terjadi, Dapatkah ia diharapkan Hayati, atau telah mati Demi AIlah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya. Apakah di lembah ia celaka atau di bukit ia binasa. Di kala matahari terbit ku terkenang padanya. BiIa surya terbenam ingatan kembali menjelma. Tiupan angin yang membangkitlkan kerinduan pula, Wahai, alangkah lamanya duka nestapa diriku Jadi merana”
Perbudakan kala itu Yaitu sesuatu yang lumrah menurut kondisi masyarakat di Masa itu. Dan itu tak hanya terjadi di Jazirah Arab aja tapi bahkan hampir mendunia. Terjadi di Athena Yunani, begitu di kota Roma, dan begitu pula di seantero Global, dan tak terkecuali di jazirah Arab sendiri.
PERTEMUAN DENGAN RASULULLAH
saat kabilah perampok yang menyerang desa Bani Maan sukses dengan rampokannya, mereka pergi ke pasar Ukaz menjual barang-barang dan tawanan hasil rampokannya. Si kecil Zaid dibeli dibeli oleh Hakim bin Hizam dengan harga 400 dirham. di setelah itu harinya ia memberikannya kepada bibinya, Siti Khadijah binti Khuwailid. di waktu itu, Khadijah radhiallahu’anha telah Jadi isteri Muhammad bin Abdullah (sebelum diangkat Jadi rasul oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala).
Selanjutnya Khadijah membagikan khadamnya Zaid Bagaikan pelayan untuk Muhammad. Beliau pun menerimanya dengan suka hati, lalu Genjah memerdekakannya. Dengan pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan Afeksi sayang seperti terhadap anaknya sendiri.
PENCARIAN AYAH ZAID TERHADAP ANAKNYA
di Disorientasi satu musim haji, sekelompok orang dari desa tempat Haritsah tinggal berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bunda Zaid. Zaid balik menyampaikan pesan salam rindu dan hormatnya kepada kedua orang tuanya. Kepada para hujaj atau jamaah haji itu, Zaid berkata, “Tolong beritakan kepada kedua orang tuaku bahwa aku di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling mulia.”
Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, Genjah ia mengatur perjalanan ke Mekah bersama seorang saudaranya. Sesampainya di Mekah, ia menanyakan di mana rumah Muhammad. Seusai bertemu dengan Muhammad, Haritsah berkata,
    “Wahai Ibnu Abdul Muththalib…!, wahai putera dari pemimpin kaumnya! kita termasuk penduduk tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi Boga para tawanan. Kami datang ini kepada kita hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”
ZAID MEMILIH BERADA DI Hepotenusa RASULULLAH DARI di KELUARGANYA
Rasulullah sendiri mengetahui benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tapi di di itu merasakan pula Copyright seorang ayah terhadap anaknya. Maka Perkataan Nabi kepada Haritsah:
    “Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih kita, maka akan saya kembalikan kepada kita tanpa tebusan. Sebaliknya bila ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!”
Mendengar ucapan dari Rasulullah saw yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegembiraan, di karenakan tak disangkanya Serupa sekali kemurahan hati seperti itu, lalu ucapnya:  “Benar-benar kita telah menyadarkan kami dan kita beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!”
setelah itu Nabi menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya di hadapannya, beliau langsung bertanya: “Tahukah engkau siapa orang-orang ini?” “Ya, tahu”, jawab Zaid, “Yang ini ayahku sedang yang seorang lagi Yaitu pamanku”.
setelah itu Nabi mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, Yaitu mengenai kebebasan memilih orang yang disenanginya.
Tanpa berfikir panjang, Zaid menjawab: “Tak ada orang pilihanku kecuali kita! Andalah ayah, dan Andalah pamanku!”
Mendengar itu, kedua mata Rasulullah basah dengan air mata, di karenakan rasa syukur dan haru. Lain dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka’bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lain serunya: “Saksikan oleh halian semua, bahwa Berawal Dari di ini, Zaid Yaitu anakku … yang akan Jadi ahli warisku dan aku Jadi ahli warisnya’
Mendengar itu hati Haritsah seakan-akan berada di awang-awang di karenakan suka citanya, sebab ia bukan aja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malah sekarang diangkat anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan “Ash-Shadiqul Amin”, — Orang lurus Terpercaya –, keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.
Maka kembalilah ayah Zaid dan pamannya kepada kaumnya dengan hati tenteram, meninggalkan anaknya di seorang pemimpin kota Mekah di keadaan aman sentausa, yakni sesudah demikian lama tak mengetahui apakah ia celaka terguling di lembah atau binasa terkapar di bukit.
Rasulullah telah mengangkat Zaid Bagaikan anak angkat…, maka Jadi terkenallah ia di seluruh Mekah dengan nama “Zaid bin Muhammad” ….
Wahai….. apakah yang lebih Bisa membuat hati Zaid terpaut kepada Rasulullah ketimbang orang tua kandungnya daripada Seusai melihat akhlaq manusia teragung yang dikirim ditengah manusia-manusia yang sedang menemui dekadensi moral. Heroisme kanak-kanaknya yang fitrah dengan mantap menjatuhkan pilihan yang selaras dengan kecenderungannya kepada kefitrahan.
RASA SAYANG RASULULLAH KEPADA ZAID
tak tak lama Seusai Muhammad memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu Itu, jadilah Zaid Bagaikan orang yang kedua masuk Islam.
Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar dikarenakan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, sertaiterpelihara lidah dan tangannya.
Semua itu menyebabkan Zaid punya kedudukan tersendiri Bagaikan “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan sahabat-sahabat rasul kepadanya. Berkatalah Aisyah ra, “Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat Jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih Hayati sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya Bagaikan khalifah.”
Zaid merupakan seorang panglima perang yang gagah berani, dan terbaik di membidik panah, Empati di perang Badr, dan Jadi perisai terhadap tubuh Nabi di perang Uhud, Empati di perang Khandak, perjanjian Hudaibiyah, penaklukan Khaibar, dan perang Hunain, dan Rasulullah saw menjadikan Bagaikan panglima di 7 kali perang gerilya : Al-jumu’, Al-thorf, al-‘aish, hismi dan lain-lainnya,
di tentara Romawi mengubah perbatasan negara Islam dan menjadikan Syam Bagaikan pusat pemerintahan mereka; Rasulullah saw mengirim pasukan ke daerah Balqo di bagian negara Syam, dan membagikan wejangan dan pesan kepada para prajuritnya Seusai menunjuk Zaid bin Haritsah Bagaikan pemimpin pasukan, maka Rasulullah saw berdiri melepas bala tentara Islam yang akan berangkat Futuristis medan perang Muktah melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan di pasukan dengan cara berurutan, sabdanya:
    “Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan seandainya Jafar tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Rawahah.”
hingga ke tingkat inilah kedudukan Zaid di Hepotenusa Rasulullah
AWAL SEBUTAN ZAID BIN HARITSAH
Seusai Rasulullah saw mengizinkan para sahabatnya berhijrah ke Madinah Zaid Empati serta berhijrah, dan Rasulullah saw mempersaudarkannya dengan Asid bin Khadir, dan di di itu Zaid masih dipanggil dengan Zaid bin Muhammad hingga turun firman Allah SWT : “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka”. (Al-Ahzab:5), maka di itu pula Zaib dipanggil nama dengan Zaid bin Haritsah, dan Rasulullah saw menikahkannya dengan tuannya Ummu Aiman dan melahirkan anak yang bernama Usamah bin Zaid
Rasulullah saw menikahkan Zaid dengan Zainab. Sayangnya, pernikahannya tak berumur panjang dan berakhir dengan perceraian. Kesediaan Zainab menikah dengan Zaid hanya di karenakan rasa enggan menolak anjuran dan syafaat Rasulullah, dan di karenakan tak hingga hati menolak Zaid sendiri. Ketidakharmonisan ini sangat mengganggu Zaid sehingga Zaid pergi menghadap Rasulullah saw mengadukan hal Itu, maka Rasulullah saw memerintahkannya untuk menahannya dan bersabar atasnya, namun Allah SWT memeirntahkan kepada Rasul-Nya untuk menceraikan Zainab dari Zaid setelah itu beliau menikahi mantan istri dari Zaid, yang demikian untuk menghilangkan persepsi kebiasaan mengadopsi anak yang telah Jadi adat dikalangan jahiliyah, bahwa di waktu itu anak angkat diperlakukan seperti anak sendiri,
    Allah berfirman : “Dan (ingatlah), saat kita berkata kepada orang yang telah Allah melimpahkan nikmat kepadanya dan kita (juga) telah memberi nikmat kepadanya : “Tahanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah”, sedang kita menyembunyikan di di hatimu apa yang telah allah menyatakannya, dan kita takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kita takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kita dengan dia, supaya tak ada keberatan untuk orang mu’min untuk (mengawani) istri-istri anak-anak angkat mereka, bila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan Yaitu ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (Al-Ahzab:37).
Dan cukuplah untuk Zaid mendapatkan kebanggaan namanya dicantumkan di Al-Qur’an Al-Karim, dan setelah itu Rasulullah saw menikahkan beliau dengan Ummi Kultsum binti Uqbah.
Maka Rasulullah saw mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid ini yang telah pecah itu. Rasulullah merangkul Zainab dengan menikahinya Bagaikan isterinya, setelah itu mencarikan Ummu Kultsum binti ‘Uqbah yang setelah itu dinikahkan dengan Zaid.
di karenakan peristiwa Itu, terjadilah kegemparan di kalangan masyarakat kota madinah. Mereka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya.
Tantangan dan kecaman ini setelah itu dijawab oleh Allah SWT dengan wahyu-Nya yang membedakan antara anak angkat dan anak kandung atau anak adaptasi dengan anak sebenarnya, sekaligus membatalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi Bagaikan berikut:
    “Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. akan tetapi, ia Yaitu Rasul Allah dan Nabi Epilog. (al-Ahzab: 40)
Dengan turunnya wahyu Itu, Zaid setelah itu dipanggil dengan sebutan “Zaid bin Haritsah.”
SYAHIDNYA ZAID DI MEDAN JIHAD
Suatu saat datanglah perang Muktah yang terkenal itu. Adapun orang-orang Romawi dengan kerajaan mereka yang telah tua dengan cara diam-diam Berawal Dari cemas dan takut terhadap kekuatan Islam, bahkan mereka melihat adanya bahaya besar yang Bisa mengancam keselamatan mereka. Terutama di daerah jajahan mereka, Syam (Syiria) yang berbatasan dengan negara dari agama baru ini, yang senantiasa Dinamis maju di membebaskan negara-negara tetangganya dari cengkeraman penjajah. Bertolak dari pikiran demikian, mereka hendak mengambil Syria Bagaikan batu loncatan untuk menaklukan jazirah Arab dan negeri-negeri Islam.
Gerak-gerik orang-orang Romawi dan tuan terakhir mereka yang hendak menumpas kakuatan Islam Bisa tercium oleh Rasulullah. Bagaikan seorang yang ahli strategi, Rasulullah memutuskan untuk mendahului mereka dengan Agresi mendadak sebelum diserang di daerahnya sendiri.
Demikianlah, di bulan Jumafil Ula, tahun yang kedelapan Hijriah, tentara Islam maju Dinamis ke Balqa’ di wilayah Syam. Demi mereka hingga di perbatasannya, mereka dihadapi tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, Padahal laskar Islam mengambil Letak di dekat negeri kecil yang bernama Muktah yang setelah itu dijadikan nama pertempuran ini.
Rasulullah saw mengetahui benar arti penting dan bahayannya peperangan ini. Oleh sebab itu, beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertakarub mendekatkan mendekatkan diri kepada Ilahi, Padahal di siang hari Bagaikan pendekar pejuang pembela agama. Tiga orang pahlawan itu Yaitu mereka yang siap menggadaikan Heroisme raga mereka kepada Allah, yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid di perjuangan menegakkan kalimat Allah, yang mengharap semata-mata ridha Illahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak.
Mereka bertiga dengan cara berurutan memimpin tentara itu ialah: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah rela kepada mereka dan menjadikan mereka rela kepada-Nya, serta Allah merelakan pula seluruh sahabat lainya.
Rasul berdiri di hadapan pasukan tentara Islam yang hendak berangkat itu. Rasul melepas mereka dengan amanat, “Kalian wajib tunduk kepada Zaid bin Harits Bagaikan pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan senadainya Ja’far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh Abdullah bin Rawabah.”
Ja’far bin Abi Thalib dijadikan orang yang kedua Seusai Zaid, meskipun keberanian dan ketangkasanya serta keturunan dan kebangsawanannya tak diragukan lagi, bahkan orang yang paling dekat kepada Rasul dari segi Interaksi keluarga, Bagaikan anak pamannya sendiri.
Beginilah contoh dan teladan yang diperlihatkan Rasul di mengukuhkan suatu prinsip. Islam Bagaikan suatu agama baru mengikis Demisioner segala Interaksi lapuk yang didasarkan di darah dan turunan atau yang ditegakkan atas yang batil dan rasialisme. Islam mengganti sistem-sistem yang tak bagus itu atas bimbingan dan hidayah Ilahi yang berpokok kepada hakikat Manusia.
saat Rasulullah memilih mereka bertiga untuk Jadi pemimpin pasukan dengan cara berurutan, seolah-olah beliau telah telah mengetahui dengan cara ghaib mengenai pertempuarn yang akan berlangsung. Beliau mengatur dan menetapkan susunan panglimanya dengan tertib berurutan: Zaid, lalu lalu Ja’far, setelah itu Ibnu Abi Rawahah, ternyata saat mereka menemui ajalnya, pulang ke rahmat Allah Bagaikan syuhada, sesuai dengan urutan itu pula.
Demi Kaum Muslimin melihat tentara romawi yang jumlahnya menurut taksiran tak Anemia dari 0.000 orang, suatu jumlah yang tak mereka duka Serupa sekali, mereka terkejut. akan tetapi kapankah pertarungan yang didasari iman mempertimbangkan jumlah bilangan?
saat itulah, disana, mereka maju terus tanpa gentar, tak perduli dan tak menghiraukan besarnya musuh. Didepan sekali kelihatan dengan tangkasnya mengendarai kuda, panglima mereka Zaid, sambil memegang teguh panji-panji Rasulullah SAW. maju menyerbu laksana topan, dicelah-celah desingan anak panah, ujung tombak dan pedang musuh. Mereka bukan hanya semata-mata Menelusuri kemenangan, akan tetapi lebih dari itu mereka Menelusuri apa yang telah dijanjikan Allah, yakni tempat pembaringan disisi Allah, karen sesuai dengan firman-Nya:
    “Sesungguhnya Allah telah membeli Heroisme dan harta orang-orang Mu’min dengan surga Bagaikan imbalannya.” (QS. at-Taubah: 111)
Zaid tak Sempat melihat pasir Balqa’, bahkan pula keadaan bala tentara Romawi, akan tetapi ia langsung melihat Estetika taman-taman surga dengan dedaunannya yang hijau berombak laksana kibaran bendera, yang memberitakan kepadanya, bahwa itulah hari istirahat dan kemenangannnya.
Ia telah terjun ke medan laga dengan menerpa, menebas, membunuh atau dibunuh. akan tetapi ia tidaklah memisahkan kepala musuh-musuhnya, ia hanyalah Mengakses pintu dan menembus dinding, yang menghalanginya kekampung kedamaian, surga yang kekal disisi Allah.
Ia telah menemui tempat peristirahatannya yang akhir. Rohnya yang melayang di perjalanannya ke surga tersenyum bangga melihat jasadnya yang tak berbungkus sutera dewangga, hanya berbalut darah suci yang mengalir di jalan Allah.
Senyumnya semakin melebar dengan tenang penuh nikmat, di karenakan melihat panglima yang kedua Ja’far melesit maju ke depan laksana anak panah lepas dari busurnya. untuk menyambar panji-panji yang akan dipanggulnya sebelum jatuh ketanah.
Rasulullah saw pun berdo’a untuknya :
    “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian, sungguh (Zaid) telah menemui cita-citanya untuk masuk surga”. (Ibnu Sa’ad).
Zaid bin Haritsah r.a gugur Bagaikan syahid di perang Mu’tah, di Jumadil Awwal 8 H. di waktu itu usianya 55 tahun. 
(disarikan dari nabilmufti.wordpress.com)

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kita Ketahui

Tag : Kisah Sahabat Nabi

Inilah Sahabat Yang Lebih Utamakan Bersama Nabi dari di Keluarganya

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here