Home Kisah Islami Inilah Sahabat Nabi Yang Mati Syahid Tapi Masih Hayati

Inilah Sahabat Nabi Yang Mati Syahid Tapi Masih Hayati

26
0

Loading...
Kisah Sahabat Nabi – Sobat Berita Islam, Kali ini mengenai Sahabat Nabi Yang Mati Syahid Tapi Masih Hayati. Semoga Artikel ini Bisa menambah keimanan kita Kepada Allah SWT, dengan mencontoh para Sahabat Nabi Yang Mulia. bila kita belum membaca kisah Sahabat Nabi Sebelumnya. kita Bisa lihat disini.
Berikut Kisah Sahabat Nabi Yang Mati Syahid Tapi Masih Hayati :

Rasulullah bersabda : 
“Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi Seusai mendapatkan kematiannya, maka lihatlah Thalhah,”
Sejak di itu apabila orang membicarakan perang Uhud di hadapan Abu Bakar, maka beliau selalu menyahut, “Perang hari itu Yaitu peperangan Thalhah seluruhnya. hingga akhir hayatnya, perjuangan sahabat mulia itu tak kenal henti. suatu sejarah besar diukir, sejarah itu bernama Thalhah bin Ubaidillah.”
Nama lengkapnya Yaitu Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Ibunya bernama Ash-Sha’bah binti Abdullah bin Abbad bin Malik, saudara perempuan Al-‘Ala’ bin Al-Hadrami. Wanita ini telah menyatakan dirinya Bagaikan seorang muslimah.
Thalhah seorang pemuda Quraisy yang memilih profesi Bagaikan saudagar. Meski masih muda, Thalhah punya kelebihan di strategi berdagang, ia cerdik dan pintar, hingga Bisa mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua.
THALHAH MEMELUK ISLAM
di suatu saat Thalhah bin Ubaidillah dan rombongan pergi ke Syam. Di Bushra, Thalhah bin Ubaidillah mendapatkan peristiwa menarik yang mengubah garis hidupnya.
Tiba-tiba seorang pendeta berteriak-teriak,
“Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?.”
“Ya, aku penduduk Makkah,” sahut Thalhah.
“Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanyanya.
“Ahmad yang mana?“, Thalhah menjawab.
“Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul Bagaikan Nabi Epilog para Nabi. Tempat munculnya Yaitu tanah haram, kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Ia akan Berpindah ke negeri yang Fertile makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau Genjah menemuinya wahai anak muda,” sambung pendeta itu.
Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah bin Ubaidillah, hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar ia langsung pulang ke Makkah. Setibanya di Makkah, ia langsung bertanya kepada keluarganya,
“Ada peristiwa apa sepeninggalku?”
“Ada Muhammad bin Abdullah Menyebut dirinya Nabi dan Abu Bakar bin Abu Quhafah telah mempercayai dan mengikuti apa yang dikatakannya,” jawab mereka.
“Aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang lapang dada, penyayang dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan teguh. Kami Bergaul bagus, banyak orang menyukai majelisnya, di karenakan dia ahli sejarah Quraisy,” gumam Thalhah bin Ubaidillah lirih.
Seusai itu Thalhah bin Ubaidillah langsung Menelusuri Abu Bakar As Siddiq.
“Benarkah Muhammad bin Abdullah telah Jadi Nabi dan engkau mengikutinya?“, Thalhah bertanya
“Betul.“, jawab Abu Bakar.
Thalhah Genjah menemui Abu Bakar untuk menanyakan kebenaran berita Itu.
Thalhah bin Ubaidillah bercerita mengenai pertemuannya dengan pendeta Bushra. Abu Bakar As Siddiq tercengang. Lalu Abu Bakar As Siddiq mengajak Thalhah bin Ubaidillah untuk menemui Muhammad dan menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan pendeta Bushra. Di hadapan Rasulullah, Thalhah bin Ubaidillah langsung mengucapkan dua kalimat syahadat.
Tanggapan Keluarga Thalhah terhadap Keislamannya
untuk keluarganya, masuk Islamnya Thalhah bin Ubaidillah bagaikan petir di siang bolong. Keluarganya dan orang-orang satu sukunya berusaha mengeluarkannya dari Islam. Mulanya dengan bujuk rayu, namun di karenakan pendirian Thalhah bin Ubaidillah sangat kokoh, mereka akhirnya bertindak kasar.
Siksaan demi siksaan Berawal Dari mendera tubuh anak muda yang santun itu. Sekelompok pemuda menggiringnya dengan tangan terbelenggu di lehernya, orang-orang berlari sambil mendorong, memecut dan memukuli kepalanya, dan ada seorang wanita tua yang terus berteriak mencaci maki Thalhah bin Ubaidillah, Yaitu ibunya, Sha’bah binti Hadramy, saudara dari seorang sahabat Rasulullah Saw, Ala’ bin Hadramy. Walau disakiti dan dipermalukan oleh orang yang sangat dicintai dan dihormatinya, keyakinan dan keimanannya tak bergeming. Bagaimanapun juga Allah SWT dan Nabi SAW lebih dicintainya daripada ibu dan sanak keluarganya yang lain
Seusai keislamannya diketahui oleh orang-orang Quraisy, Nufail bin Khuwailid, Disorientasi seorang pembesar yang terkenal dengan sebutan ‘Singa Quraisy’ Menelusuri-cari dirinya. Mereka bertemu Thalhah sedang berjalan dengan Abu Bakar yang Genjah aja keduanya ditangkap dan disiksa. Mereka berdua diikat dengan satu tambang, setelah itu diancam dan diintimidasi. akan tetapi mereka tak berani bertindak terlalu keras dan kejam di karenakan khawatir dengan pembalasan dari kabilahnya Abu Bakar dan Thalhah.
Seusai berbagai ancaman dilakukan, dari yang halus hingga keras tak juga sukses, akhirnya mereka melepaskannya kembali. di karenakan peristiwa ini, Abu Bakar dan Thalhah disebut Bagaikan ‘Al Qarinain’, artinya dua setangkai.
Thalhah bin Ubaidillah termasuk di as sabiqunal awwalin (kelompok yang pertama memeluk Islam), ia juga Disorientasi satu dari sepuluh sahabat yang memperoleh berita gembira masuk surga saat hidupnya. Sembilan lainnya Yaitu empat sahabat Khulafaur Rasyidin, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, Zubair bin Awwam dan Abu Ubaidah bin Jarrah.
Peran Thalhah di Perang Badar
Seusai hijrah ke Madinah, Thalhah hampir tak Sempat tertinggal berjuang bersama Rasulullah SAW, kecuali di Perang Badar. di perang ini Thalhah dan Sa’id bin Zaid dikirimkan Rasulullah Saw untuk tugas mata-mata ke suatu tempat. Namun demikian beliau memasukkannya Bagaikan Ahlu Badar dan memberi mereka bagian dari ghanimah perang Badar. Ada delapan orang sahabat yang tak dengan cara langsung terlibat di perang Badar akan tetapi Rasulullah Saw menempatkannya Bagaikan Ahlu Badar sebagaimana pahlawan Badar lainnya, yang mendapat pujian di Al Qur’an. Selain Thalhah dan Sa’id bin Zaid, Yaitu Utsman bin Affan, Abu Lubabah, Ashim bin Adi, Harits bin Hathib, Harits bin Shimmah dan Khawwat bin Jubair R.Hum.
PERAN DAN GELAR THALHAH di PERANG UHUD
Julukan Assyahidul Hayy, atau syahid yang Hayati diperoleh Thalhah di perang Uhud. di itu barisan kaum Muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari Hepotenusa Rasulullah. Yang tersisa di dekat beliau hanya 11 orang Anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari Muhajirin. Rasulullah dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke bukit tadi dihadang oleh kaum Musyrikin.
“Siapa berani melawan mereka, dia akan Jadi temanku kelak di surga,” seru Rasulullah. “Aku Wahai Rasulullah,” Perkataan Thalhah bin Ubaidillah. “tak, jangan engkau, kau wajib berada di tempatmu.“, Rasulullah berkata.
“Aku wahai Rasulullah,” Perkataan seorang prajurit Anshar menjawab panggilan Rasulullah. “Ya, majulah,” Perkataan Rasulullah. Lalu prajurit Anshar itu maju melawan prajurit-prajurit kafir. Pertempuran yang tak seimbang mengantarkannya menemui kesyahidan.
Rasulullah kembali meminta para sahabat untuk melawan orang-orang kafir dan selalu aja Thalhah bin Ubaidillah mengajukan diri pertama kali. Tapi, senantiasa ditahan oleh Rasulullah dan diperintahkan untuk tetap ditempat hingga 11 prajurit Anshar gugur menemui syahid dan tinggal Thalhah bin Ubaidillah sendirian bersama Rasulullah.
di itu Rasulullah berkata kepada Thalhah bin Ubaidillah,”Sekarang engkau, wahai Thalhah.”
Dan majulah Thalhah bin Ubaidillah dengan semangat jihad yang berkobar-kobar menerjang ke arah musuh dan menghalau supaya jangan menghampiri Rasulullah. Lalu Thalhah berusaha menaikkan Rasulullah sendiri ke bukit, setelah itu kembali menyerang hingga tak sedikit orang kafir yang tewas.
Diceritakan saat tentara Muslim terdesak mundur dan Rasulullah SAW di bahaya karena ketidakdisiplinan pemanah-pemanah di menjaga pos-pos di bukit, di di itu pasukan musyrikin bagai kesetanan merangsek maju untuk melumat tentara muslim dan Rasulullah SAW, terbayang di pikiran mereka kekalahan yang amat memalukan di perang Badar. Mereka masing-masing Menelusuri orang yang Sempat membunuh keluarga mereka sewaktu perang Badar dan berniat akan membunuh dan memotong-motong dengan sadis.
Semua musyrikin berusaha Menelusuri Rasulullah SAW. Dengan pedang-pedangnya yang tajam dan mengkilat, mereka terus Menelusuri Rasulullah SAW. akan tetapi pasukan muslimin dengan sekuat tenaga melindungi Rasulullah SAW, melindungi dengan tubuhnya dengan daya upaya, mereka rela terkena sabetan, tikaman pedang dan anak panah. Tombak dan panah menghunjam mereka, akan tetapi mereka tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Hati mereka berucap dengan teguh, “Aku korbankan ayah ibuku untuk engkau, ya Rasulullah”.
Disorientasi satu diantara mujahid yang melindungi Nabi SAW Yaitu Thalhah. Ia berperawakan tinggi kekar. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya berdarah. Dipeluknya Beliau dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya bagai laron yang tak memperdulikan maut. Alhamdulillah, Rasulullah selamat. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat julukan “Burung elang hari Uhud.”
di itu  Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Jarrah yang berada agak jauh dari Rasulullah telah hingga di dekat Rasulullah. “Tinggalkan aku, bantulah Thalhah, kawan kalian,” seru Rasulullah.
Keduanya bergegas Menelusuri Thalhah bin Ubaidillah, saat ditemukan, Ia di keadaan pingsan, Padahal badannya berlumuran darah segar. Tak Anemia 79 luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing dan lemparan panah memenuhi tubuhnya dan jari tangannya Frustasi.”
Keduanya mengira Thalhah sudah gugur, ternyata masih Hayati. di karenakan itulah gelar syahid yang Hayati diberikan Rasulullah. “Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi Seusai mendapatkan kematiannya, maka lihatlah Thalhah,”sabda Rasulullah.
Sejak di itu apabila orang membicarakan perang Uhud di hadapan Abu Bakar As Siddiq, maka beliau selalu menyahut, “Perang hari itu Yaitu peperangan Thalhah seluruhnya hingga akhir hayatnya.”
PRIBADI YANG PEMURAH DAN DERMAWAN
Kemurahan dan kedermawanan Thalhah bin Ubaidillah patut kita contoh dan kita teladani. di hidupnya ia mempunyai tujuan utama Yaitu bermurah di pengorbanan Heroisme. Thalhah  bin Ubaidillah merupakan Disorientasi seorang dari sepuluh orang yang pertama masuk Islam, dimana di di itu satu orang bernilai seribu orang.
Sejak awal keislamannya hingga akhir hidupnya dia tak Sempat mengingkari janji. Janjinya selalu tepat. Ia juga dikenal Bagaikan orang jujur, tak Sempat menipu apalagi berkhianat. Pernahkah kalian melihat sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi dataran dan lembah? Begitulah Thalhah bin Ubaidillah. Ia Yaitu seorang dari kaum muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan.
Sempat Thalhah sukses menjual tanahnya dengan harga tinggi sehingga harta bertumpuk di rumahnya, maka mengalirlah air matanya, dan ia berkata,
“Sungguh, bila seseorang ‘dibebani’ bermalam dengan harta sebanyak ini dan tak tahu apa yang akan terjadi, pastilah akan mengganggu ketentraman ibadahnya kepada Allah…!”
Malam itu juga ia memanggil beberapa sahabatnya dan membawa harta Itu berkeliling di jalan-jalan di kota Madinah untuk membagi kepada yang memerlukan. hingga fajar tiba belum Demisioner juga, dan diteruskan  Seusai shalat subuh hingga menjelang siang. Ia baru merasa lega Seusai tak tersisa lagi walau hanya satu dirham.
Assaib bin Zaid berkata mengenai Thalhah bin Ubaidillah, katanya, “Aku berkawan dengan Thalhah bagus di perjalanan ataupun sewaktu bermukim. Aku melihat tak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya.”
Jaabir bin Abdullah bertutur, “Aku tak Sempat melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta.”
Oleh di karenakan itu patutlah bila dia dijuluki “Thalhah si dermawan”, “Thalhah si pengalir harta”, “Thalhah kebaikan dan kebajikan”.
WAFATNYA THALHAH BIN UBAIDILLAH
Berlalulah waktu, Rasulullah wafat dan digantikan Abu Bakar, Abu Bakar wafat dan digantikan oleh Umar. Selama itu irama hidupnya tak banyak berbeda, memanggul senjata untuk menegakkan panji Islam atau menjalankan perniagaannya. Selama itu pula ia terus menunggu kapan penantiannya akan berakhir? Kapan “syahid” yang berjalan di muka bumi (yakni dirinya, sebagaimana disebut Rasulullah Saw)  akan Jadi benar-benar syahid?
Thalhah akhirnya menemui syahidnya di perang Jamal di masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Ironinya, di peperangan Itu ia bersama Zubair bin Awwam dan Ummil Mukminin Aisyah memimpin pasukan dari Bashrah  untuk menjalankan perlawanan kepada Ali bin Abi Thalib, dengan dalih menuntut balas kematian Utsman. Padahal beberapa waktu sebelumnya mereka Empati memba’iat Ali Bagaikan khalifah. Inilah memang dahsyatnya bahaya fitnah, sehingga orang-orang terpilih di masa Rasulullah SAW saling berperang satu Serupa lainnya.
Ada Disparitas pendapat mengenai syahidnya Thalhah. Satu riwayat menyebutkan, saat pertempuran Berawal Dari berlangsung dan dari kedua pihak berjatuhan korban tewas, Ali menangis dan menghentikan pertempuran, Padahal di itu posisinya di keadaan menang. Ali meminta kehadiran Thalhah dan Zubair untuk menjalankan islah. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair berbagai hal saat bersama Rasulullah SAW, termasul ramalan-ramalan beliau mengenai mereka bertiga. Thalhah dan Zubair menangis mendengar penjabaran Ali dan seolah diingatkan akan masa-masa indah bersama Rasulullah SAW. Apalagi di itu mereka melihat Ammar bin Yasir Empati bergabung di pasukan Ali. Masih jelas terngiang di telinga mereka sabda Nabi SAW saat kerja bakti membangun masjid Nabawi, “Aduhai Ibnu Sumayyah (yakni, Ammar bin Yasir), ia akan terbunuh oleh kaum pendurhaka…..!!”
Seandainya terus memaksakan pertempuran ini, jangan-jangan mereka Jadi “kaum pendurhaka” Itu. Thalhah dan Zubair memutuskan menghentikan pertempuran dan ia menyarungkan senjatanya, setelah itu  berbalik menemui pasukannya. akan tetapi ada anggota pasukan yang tak puas dengan keputusan ini dan mereka  memanah dan menyerang keduanya hingga tewas. Sebagian riwayat menyebutkan penyerangnya dari pasukan Ali, riwayat lain dari pasukan Bashrah sendiri.
Padahal riwayat lain menyebutkan, pertempuran berlangsung seru dan pasukan Bashrah dikalahkan oleh pasukan Ali, Thalhah dan Zubair bin Awwam gugur menemui syahidnya.
Sewaktu terjadi pertempuran “Aljamal (Perang Unta)” Itu, suatu panah beracun mengenai betisnya, maka dia Genjah dipindahkan ke Basrah dan tak berapa lama setelah itu di karenakan lukanya ia wafat. Thalhah bin Ubaidillah wafat di usia enam puluh tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basrah.
Dia wafat di usia lebih Anemia 60 tahun.Talhah bin Ubaidillah meninggal Global di tahun 36 Hijrah bersamaan 656 Masehi.
Sesungguhnya Thalhah bin Ubaidillah berharap Bisa gugur saat berjuang bersama Rasulullah saw di menghadapi musuh Islam. Namun, ketentuan Ilahi menghendaki dia tewas di tangan orang Islam sendiri.
Rasulullah Sempat berkata kepada para sahabat, “Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa suka melihat seorang syahid berjalan diatas bumi maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah”.
Hal itu juga dikatakan ALLAH SWT di firmanNya :
    “Diantara orang-orang Mu’min itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang membagikan nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak Sempat mereka merubah pendiriannya sedikit pun juga!” (QS. Al-Ahzaab: 23).(disarikan dari nabilmufti.wordpress.com)

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kalian Ketahui

Tag : Kisah Sahabat Nabi

Inilah Sahabat Nabi Yang Mati Syahid Tapi Masih Hayati

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here