Home Kisah Islami Inilah Sahabat Nabi Sang Kepercayaan Ummat

Inilah Sahabat Nabi Sang Kepercayaan Ummat

29
0

Loading...
Kisah Sahabat Nabi – Sahabat Nabi tak ubahnya seperti kita yakni dari kalangan manusia biasa. Mereka bukanlah dari kalangan para Nabi ataupun Rasul. Mereka Hayati dari kalangan Kaum Kafirin. Namun saat Cahaya Iman dan Islam Masuk di hati mereka. Maka Allah Muliakan Mereka. 
Dengan Iman yang mereka Miliki, Mereka pertaruhkan nyawa dan Hayati mereka untuk berjuang Bersama Rasulullah. Nah sobat Kali ini Yaitu Sahabat Nabi Sang Kepercayaan Ummat. Namun bila kita belum Membaca Kisah Sebelumnya, kita Bisa Baca Disini.

Baiklah sobat, Inilah kisahnya :
Rasulullah saw Sempat bersabda yang maksudnya, “Setiap umat mempunyai sumber kepercayaan, sumber kepercayaan umat ini Yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah.” Itulah penghargaan bintang mahaputra yang diterima oleh Abu Ubaidah dari Rasulullah SAW. Penghargaan yang tak diberikan Rasulullah kepada sahabat yang lainnya.
Nama lengkapnya Yaitu Amir bin Abdullah bin al-Jarah bin Hilal al-Fahry al-Qursy, biasanya dipanggil dengan sebutan Abu Ubaidillah. Dia Yaitu Disorientasi satu sahabat Rasulullah SAW yang berasal dari kaum Quraisy. Lahir di Makkah dari suatu keluarga yang terhormat. Abu Ubaidah Yaitu seorang yang berperawakan tinggi, kurus, dan tak terlalu berisi. Jenggotnya tak tebal. Orangnya pemurah dan sederhana. berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu. Dia juga termasuk orang yang berani saat di kesulitan. Meski seorang yang pemalu dia disenangi oleh semua orang yang melihatnya, sehingga siapapun yang mengikutinya akan merasa tenang.
MASUK ISLAMNYA ABU UBAIDAH
Abu Ubaidah termasuk orang yang pertama-tama masuk lslam. Keislamannya selang sehari Seusai Abu Bakar atau sehari sebelum Abdurrahman bin Auf memeluk lslam. Masuknya Abu Ubaidah ke di ajaran Islam Yaitu berkat peran dari Abu Bakar Al-Shiddiq. di karenakan dia telah Bergaul dan mengenal sejak lama shahabat Abu Bakar, sehingga tak sulit untuk Abu Ubaidah untuk menerima ajakan Abu Bakar untuk mempercayai ajaran baru yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Suatu saat ia sadar dan memahami apa yang dimaksudkan Abu Bakar terhadap dirinya. Akhirnya dia berangkat bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Ustman bin Maz’un dan Arqam bin Abi Arqam untuk menemui Rasulullah SAW. Di depan Rasulullah SAW mereka Serupa-Serupa mengucapkan kalimat syahadah.
Sebagaimana sahabat yang lain, keislaman Abu Ubaidillah juga tak lepas dari tantangan dan siksaan dari orang-orang kafir Quraisy, meski dia berasal dari keluarga yang cukup terhormat di mata kaum Quraisy. Ayahnya sendiri sangat menentang keputusannya untuk meninggalkan ajaran nenek moyangnya. Dia terus menerus dibujuk oleh ayahnya untuk kembali kepada ajarannya semula, hingga ayah Abu Ubaidah mempersempit ruang geraknya. akan tetapi semua cobaan Bisa dilalui dengan sabar dan tawakkal kepada Allah SWT.
Abu Ubaidah Jadi sahabat kesayangan dan kepercayaan Rasulullah SAW. Bahkan dia termasuk satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga di suatu hadits Rasulullah SAW.
    “Dari Abdurrahman bin ‘Auf, dia berkata: Rasulullah bersabda: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’d di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah di surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]
ABU UBAIDAH di PERANG BADAR DAN PEMBUKTIAN KEIMANANNYA MELEBIHI KELUARGANYA
Perang pertama antara kaum muslimin dan kaum kafir, perang Badar, Jadi ujian pertama untuk kualitas keimanannya. Selaku tentara, tentu aja dia wajib senantiasa patuh kepada perintah panglimanya, Yaitu Rasulullah saw. Sementara Bagaikan seorang mukmin, dia berkeyakinan bahwa semua yang berperang di bawah panji Rasulullah Yaitu saudara dan keluarganya, meskipun mereka berbeda asal-usul dan warna kulitnya.
Sebaliknya, semua yang berperang di bawah bendera Quraisy atau sekutu mereka Yaitu musuhnya, meskipun mereka Yaitu keluarga terdekatnya. Maka saat dilihatnya sang ayah yang kafir berada di barisan tentara Quraisy, jiwanya bergejolak. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat ayahnya memerangi dan membunuhi saudara-saudaranya seiman. Pergolakan batin antara dirinya Bagaikan seorang anak dan dirinya Bagaikan seorang mukmin memaksanya untuk memutuskan sikap. Maka majulah ia menghampiri ayahnya, dan menghadapinya Bagaikan seorang musuh yang patut diperangi. Dengan keyakinannya, dia mengambil sikap Bagaikan seorang mukmin sejati yang memandang tali persaudaraan dan kekerabatan dari sudut pandang yang benar.
“Wahai ayah,” seru Abu Ubaidah begitu kudanya mendekati kuda ayahnya.”Bertobatlah. Sadarilah bahwa jalan yang engkau tempuh itu Yaitu jalan yang sesat. lkutlah bersamaku, dan jadilah keluargaku di iman.”
‘Anak Anemia ajar! Bukan untuk ini kau kubesarkan. Sungguh, bila aku tahu akan begini jadinya, sudah sejak Dulu kau kubunuh. Dasar anak durhaka!” Teriak ayahnya sambil terus menghantamkan pedangnya.
“Seandainya ayah tak mau menuruti nasihatku, maka maafkan saya bila terpaksa melawan ayah.” Perkataan Abu Ubaidah masih dengan nada yang lembut.
‘Apa?! kita menantangku? Dasar anak tak tahu diuntung! Ayo maju, biar sekalian kupenggal kepalamu seperti teman-temanmu!”
Maka Abu Ubaidah pun menerjang bagai banteng terluka. Dihantamkannya pedang di tangannya tanpa ragu-ragu. Ayah dan anak itu bertempur layaknya dua orang musuh yang Serupa sekali tak mempunyai Interaksi darah. Keduanya saling memukul, menangkis, dan terkadang menusukkan pedang masing-masing. Pelan tapi pasti, Abu Ubaidah Bisa mendesak ayahnya. Akhirnya, Seusai pertempuran itu berlangsung beberapa di, Abu Ubaidah sukses merobohkan ayahnya.
“Maafkan saya, ayah.” Perkataan Abu Ubaidah Iirih sambil menatap tubuh ayahnya yang terkapar bersimbah darah.
Sedih, pasti. Sebab, bagaimanapun juga laki-laki yang baru aja dirobohkannya itu ayahnya, orang yang Sempat mengasuh dan membesarkannya. akan tetapi apa mau dikata, peperangan ini Yaitu perang akidah, dan ayahnya berada di pihak musuh yang memerangi saudara-saudaranya seiman.
Tindakan Abu ubaidah yang luar biasa itu mengundang turunnya wahyu dari langit, sebagaimana tersurat di di Al-Qur’an:
    “Engkau (Muhammad) tak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang di hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke di surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. lngatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (Q.S. al-Mujadilah [58]: 22)
ABU UBAIDAH di PERANG UHUD
di peperangan berikutnya, perang Uhud, Abu Ubaidah semakin menunjukkan kualitas imannya. Dialah orang yang merelakan tubuhnya dijadikan Bagaikan perisai untuk melindungi Nabi saw. dari senjata musuh.
saat pasukan muslimin kocar-kacir dan banyak yang lari meninggalkan pertempuran, Abu Ubaidah justru berlari menghampiri Rasulullah saw. di karenakan melihat beliau di bahaya. Abu Ubaidah tak memperdulikan keselamatan dirinya, dan Serupa sekali tak menunjukkan rasa takut sedikit pun terhadap banyaknya lawan dan rintangan, Rasulullah saw. sendiri memang di bahaya. Bahkan beliau terluka parah. Di pipinya terhunjam dua rantai besi Epilog kepala beliau yang melesak terhantam senjata lawan.
Melihat itu, Abu Ubaidah Genjah berusaha untuk mencabut rantai Itu dari pipi Rasulullah SAW dengan memakai giginya. Digigitnya rantai itu hingga akhirnya terlepas dari pipi Rasulullah SAW. Namun, bersamaan dengan itu, satu gigi seri Abu Ubaidah Empati terlepas dari tempatnya. Abu Ubaidah tak jera. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit rantai besi satunya yang masih menancap di pipi Rasulullah hingga terlepas. Kali ini pun satu gigi serinya wajib lepas, sehingga dua gigi seri Abu Ubaidah ompong karenanya. Tindakannya itu membuat Rasulullah sangat terharu dan merasa bangga kepadanya.
di itu Abu Bakar berkata, “Sebaik-bagus gigi yang terputus, itulah gigi Abu Ubaidah bin Jarrah.”
KEPERCAYAAN RASULULLAH YANG TINGGI TERHADAP ABU UBAIDAH
Abu Ubaidillah mendapat julukan Aminul Ummah (Orang yang dipercaya untuk kaumnya) dan Amirul Umaro (pemimpin para pemimpin) dari Rasulullah SAW. Kepercayaan Rasulullah SAW. kepada Abu Ubaidah tak hanya di urusan peperangan, akan tetapi juga di urusan keagamaan.
Suatu saat, sekelompok orang Kristen Najran dari Yaman datang menyatakan keislaman mereka. di kesempatan yang Serupa, mereka sekaligus meminta kepada Nabi supaya dikirimi seorang guru untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta seluk beluk agama lslam.
“Baiklah, saya akan kirimkan bersama kalian seseorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.” Perkataan Rasulullah,
Pujian yang begitu tulus keluar dari mulut Rasulullah yang mulia itu membuat para sahabat yang mendengarnya terkesima. Mereka semua berharap pilihan Rasulullah jatuh di dirinya, di karenakan pujian Itu merupakan pengakuan yang jujur dari seorang Rasul yang tak diragukan lagi kebenarannya.
Mengenai peristiwa Itu Umar bin Khattab bercerita:
    “Sebenarnya aku tak Sempat tertarik Jadi seorang amir, akan tetapi saat Rasulullah mengucapkan hal itu, aku sangat tertarik dan berharap bahwa orang yang dimaksudkan Rasulullah itu Yaitu aku. Aku pun Genjah-Genjah berangkat ke masjid untuk salat zuhur. Seperti biasa, Rasulullah-lah yang mengimami para jamaah. saat kami selesai salat, Rasulullah menoleh ke kanan dan ke kiri, Maka aku pun mengulurkan badanku, berharap Rasulullah melihatku. Rasulullah memang melihatku, akan tetapi beliau masih melayangkan pandangannya Menelusuri-cari seseorang. saat Etos beliau tertumbuk di Abu Ubaidah, wajah beliau tampak berseri-seri. Genjah dipanggilnya Abu Ubaidah supaya mendekat, lalu beliau bersabda ‘pergilah berangkat bersama mereka. Apabila nanti terjadi perselisihan di antara mereka, selesaikanlah dengan yang haq’. Maka berangkatlah Abu Ubaidah bersama orang-orang dari Yaman itu “
Itulah Citra kepercayaan Rasulullah kepada Abu Ubaidah. Kepercayaan beliau itu terus terjaga hingga beliau wafat. Sepeninggal beliau pun, Abu Ubaidah tetap Jadi orang kepercayaan di masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Bahkan, sesaat Seusai Rasulullah saw wafat, Umar bin Khattab bermaksud membaiatnya di Saqifah.
Umar berkata,
    “Ulurkan tanganmu, wahai Abu Ubaidah, supaya saya Bisa membaiatmu. Sebab, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sungguh di setiap kaum terdapat orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini Yaitu Abu Ubaidah’.”
akan tetapi dijawab dengan penuh zuhud oleh Abu Ubaidah,
    “Saya tak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah saw. menggantikan beliau Jadi imam kita saat beliau sakit (maksudnya Abu Bakar ra.). Oleh sebab itu, sudah semestinyalah kita membaiatnya Jadi pemimpin kita sepeninggal Rasulullah saw.” jawab Abu Ubaidah.
Begitulah Abu Ubaidah, sahabat kepercayaan Rasulullah yang rendah hati. Pantaslah apabila dia Jadi suri teladan untuk seluruh umat. Dia senantiasa memikul semua tanggung jawab dengan sifat amanah. saat Khalifah Abu Bakar memberinya jabatan mengurus keuangan negara, Abu Ubaidah pun menjadikan jabatan itu Bagaikan amanah yang dipikulnya dengan penuh tanggung jawab.
saat Umar bin Khattab sang khalifah hendak menghembuskan nafas terakhirnya, dia juga berkata:
    “Seandainya Abu Ubaidillah bin Al-Jarrah masih Hayati, niscaya aku menunjuknya Bagaikan penggantiku. bila Rabbku bertanya kepadaku mengenai dia, maka aku jawab, ‘Aku telah menunjuk kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya Bagaikan penggantiku.”
Abdullah bin Mas’ud, Disorientasi satu shahabat Rasulullah SAW juga sangat bangga dengannya. Dia berkata:
    “Paman-pamanku yang paling setia Bagaikan sahabat Rasulullah saw cuma tiga orang. Mereka Yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah,”
ABU UBAIDAH MERAHASIAKAN PEMECATAN KHALID BIN WALID
saat Aplikasi misi penyerbuan ke Syam (Suriah), Khalifah Abu Bakar menunjuknya Bagaikan panglima tertinggi. Akan akan tetapi dia tak bersedia dan lebih memilih memimpin pasukan di Hims. Panglima perang ke Syam akhirnya dipegang oleh Khalid bin Walid. di perang Yarmuk menghadapi Heraklius, kaisar Romawi Timur, Abu Ubaidah menyerahkan tampuk pimpinan perang kepada Khalid bin Walid.
di Umar bin Khattab Jadi khalifah, jabatan panglima perang diserahkan kembali kepada Abu Ubaidah. Penggantian itu berbarengan dengan tengah berkecamuknya peperangan besar yang amat menentukan. di itu, Khalid bin Walid sedang memimpin pasukan muslimin dengan gagah berani. Maka dengan kebijaksanaannya, Abu Ubaidah meminta utusan Khalifah untuk merahasiakan berita Itu kepada Generik. Dia tak serta merta mengambil alih tampuk pimpinan pasukan dari tangan Khalid bin Walid, melainkan merahasiakan haknya itu sambil tetap berperang di bawah komando sang panglima. Seusai kemenangan tercapai, barulah Abu Ubaidah menemui Khalid untuk menyerahkan surat dari Khalifah.
    “Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Ubaidah. Mengapa engkau tak menyampaikan kepadaku begitu surat ini datang?” tanya Khalid.
    “Saya tak ingin mematahkan ujung tombak kita. Kita tahu, bukan kekuasaan Global yang kita tuju, dan bukan untuk Global pula kita beramal. Kita semua bersaudara di karenakan Allah.” Demikian jawaban Abu Ubaidah, suatu jawaban yang membuat Khalid semakin mengaguminya.
Seusai serah terima jabatan itu, kepemimpinan pasukan Muslimin beralih ke tangan Abu Ubaidah. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Muslimin sukses menaklukkan kota-kota di Suriah dan Palestina, antara lain Damaskus, Hims, Hama, Qisnisrin, al-Ladhiqiyah (Suriah), Haleb (Alleppo), Antiokia (Suriah), dan Baitulmakdis (Yerusalem). Abu Ubaidah bin Jarrah RA. Empati serta di semua peperangan kaum muslimin, bahkan selalu mempunyai andil besar di setiap peperangan Itu. Disorientasi satu jasa terbesarnya Yaitu penaklukan sebagian negeri Syam yang sukses diraih pasukan Muslimin di bawah pimpinannya.
SIFAT ZUHUD ABU UBAIDAH
Abu Ubaidillah juga dikenal dengan kezuhudannya.di satu kisah disebutkan saat Abu Ubaidillah menjabat Bagaikan seorang gubernur Syam. Umar bin Khattab sang khalifah di di itu hendak berkunjung ke rumahnya. ” Hai Abu Ubaidah, bolehkah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar.
Jawab Abu Ubaidah, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.”
Namun Umar memaksa dan akhirnya Abu Ubaidahpun mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. saat Umar bin Khattab hingga di rumah Abu Ubaidillah, dia sangat terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. tak ada perabotan Serupa sekali. Melihat hal Itu, setelah itu Umar bertanya,
    “Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan suatu piring besar itu, Padahal kau seorang gubernur?”, “Adakah kau mempunyai Boga?” tanya Umar lagi.
Abu Ubaidah setelah itu berdiri dari duduknya Futuristis ke suatu ranjang dan memungut arang yang didalamnya. Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu.
Abu Ubaidah pun berujar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.”
Umar berkata, “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan Global.”
Suatu saat Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, “Abu Ubaidah membagi-untuk uang kirimanmu.” setelah itu Umar berkata, “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang di Islam yang mempunyai sifat seperti dia.”
Begitulah Abu Ubaidah. Hayati baginya Yaitu pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di di genggamannya. Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga.
ABU UBAIDAH WAFAT DAN NASIHATNYA MENJELANG KEMATIANNYA
Itulah mengapa saat Endemi penyakit taun merajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Khattab merasa khawatir akan keselamatan Abu Ubaidah. Beliau Genjah mengirim surat untuk memanggil Abu Ubaidah supaya kembali ke Madinah. di itu Abu Ubaidah sedang berada di tengah-tengah pasukannya, bersama mereka menghadapi ancaman musuh dan Endemi penyakit sekaligus. Maka saat surat Itu datang, Abu Ubaidah menyatakan keberatannya dengan mengirimkan surat balasan yang isinya,
“Wahai Amirul Mukminin, saya tahu bahwa kita memerlukan saya sehingga kita menyuruh saya pulang. Akan akan tetapi, seperti kita ketahui, saya sedang berada di tengah-tengah pasukan muslimin. Saya tak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tak ingin berpisah dari mereka hingga Allah sendiri menetapkan keputusan-Nya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, saya mohon dibebaskan dari rencana Baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.”
Seusai Khalifah Umar membaca surat itu, beliau menangis, sehingga para hadirin bertanya, ‘Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?” “Belum, akan akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.” Jawab Umar sedih.
setelah itu Amirul mu’minin kembali menulis surat untuknya dan memerintahkannya untuk pergi meninggalkan kota ‘Amwas ke tempat yang disebut Al-Jabiyah, hingga semua pasukan tak meninggal karenanya, lalu Abu Ubaidahpun mengikuti perintah Amirul mukminin, namun beliau tetap terserang penyakit kusta.
Menjelang kematiannya, Abu Ubaidah berpesan kepada pasukannya:
    “Saya pesankan kepada kalian suatu wasiat yang bila kalian terima, maka kalian akan selamat. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, berpuasalah di bulan Ramadan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pemimpin kalian dan jangan suka menipunya. Janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, sebab betapapun seseorang menjalankan seribu upaya, dia pasti akan menemui ajalnya seperti saya ini. sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap manusia’ oleh sebab itu, semua orang pasti akan mati. Orang yang paling beruntung Yaitu orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat”‘
setelah itu Abu Ubaidah berpaling kepada Muadz bin Jabal ra. dan berkata kepadanya,
”Wahai Muadz! lmamilah salat mereka.”
Seusai itu Abu Ubaidah RA. pun menghembuskan nafasnya yang terakhir di umur 58 tahun. Beliau dishalatkan oleh Mu’adz bin Jabal, dan dikebumikan di desa Baisan, Syam.
Sepeninggal Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal berpidato di hadapan kaum Muslimin, .
    “Wahai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tak menemukan ada orang yang lebih bagus hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari setelah itu dan sangat suka memberi nasihat kepada semua orang dari beliau, oleh sebab itu doakanlah beliau, semoga kalian semua dirahmati Allah.”
di di Umar bin Khaththab RA mendengar kematian Abu Ubaidah, dia memejamkan kedua matanya di keadaan penuh dengan air mata. Air mata pun mengalir, lalu dia Mengakses kedua matanya di kepasrahan. Ia memohonkan rahmat Allah untuk sahabatnya di keadaan air mata mengalir dari kedua matanya, air mata orang-orang shalih. Air mata mengalir di karenakan kematian orang-orang yang shalih.
di suatu kesempatan Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan kepada para sahabat, “Tunjukkan kepada saya cita-cita tertinggi kalian.” Disorientasi seorang dari mereka mengacungkan tangan dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin sekiranya rumah ini penuh dengan emas, akan saya infakkan seluruhnya untuk jalan Allah.”
Umarpun mengulangi pertanyaannya, “Apa masih ada yang lebih bagus dari itu?”, sahabat yang lainpun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin sekiranya rumah ini dipenuhi dengan intan, emas dan permata, niscaya akan saya infakkan seluruhnya untuk Allah.” Umar bin Khattab kembali  mengajukan pertanyaan yang Serupa. Merekapun serentak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin kami tak tahu lagi apa yang terbaik dari itu.”
Umar bin Khathab setelah itu jelaskan, “Cita-cita yang terbaik Yaitu, seandainya ruangan ini Allah penuhi dengan pejuang muslim seperti Abu Ubaidah yang jujur, adil dan bijaksana.”
(disarikan dari nabilmufti.wordpress.com)

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kita Ketahui

Tag : Kisah Sahabat Nabi

Inilah Sahabat Nabi Sang Kepercayaan Ummat

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here