Inilah Panglima Perang Termuda Sahabat Nabi



Kisah Sahabat Nabi – Sobat Berita Islam yang setia, Semoga Allah SWT melimpahkan karunianya selalu untuk kita. Inilah Kisah Panglima Perang Termuda Sahabat Nabi. Semoga Artikel ini Bisa membagikan cahaya Iman Kepada kita. Dan Jadi Inspirasi untuk kita. Berikut Kisahnya :
saat itu Rasulullah saw. sedang susah di karenakan tindakan kaum Qurasy yang menyakiti beliau dan para sahabat. Kesulitan dan kesusahan berdakwah menyebabkan beliau senantiasa wajib bersabar. di suasana seperti itu, tiba-tiba seberkas cahaya memancar membagikan hiburan yang menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan kepada beliau, “Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah Rasulullah berseri-seri di karenakan gembira menyambut berita Itu.
Siapakah bayi itu? Sehingga, kelahirannya Bisa mengobati hati Rasulullah yang sedang duka, berubah Jadi gembira ? Itulah dia, Usamah bin Zaid.
ORANGTUA USAMAH
Para sahabat tak merasa aneh apabila Rasulullah bersuka-cita dengan kelahiran bayi yang baru itu. di karenakan, mereka mengetahui kedudukan kedua orang tuanya di Hepotenusa Rasulullah. Ibu bayi Itu seorang wanita Habsyi yang diberkati, terkenal dengan panggilan “Ummu Aiman”. Sesungguhnya Ummu Aiman Yaitu bekas sahaya ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih Hayati. Dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. di karenakan itu, di kehidupan Rasulullah, beliau hampir tak mengenal ibunda yang mulia, selain Ummu Aiman
Rasulullah menyayangi Ummu Aiman, sebagaimana layaknya sayangnya seroang anak kepada ibunya. Beliau sering berucap, “Ummu Aiman Yaitu ibuku satu-satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu-satunya keluargaku yang masih ada.” Itulah ibu bayi yang beruntung ini.
Adapun bapaknya Yaitu kesayangan ) Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Rasulullah Sempat mengangkat Zaid Bagaikan anak angkatnya sebelum ia memeluk Islam. Dia Jadi sahabat beliau dan tempat mempercayakan segala rahasia. Dia Jadi Disorientasi seorang anggota keluarga di rumah tangga beliau dan orang yang sangat dikasihi di Islam.
KEGEMBIRAAN KAUM MUSLIMIN DAN SAYANGNYA RASULULLAH SAW KEPADA USAMAH
Kaum muslimin turut bergembira dengan kelahiran Usamah bin Zaid, melebihi kegembiraan meraka atas kelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu Bisa terjadi di karenakan tiap-tiap sesuatu yang disukai Rasulullah juga mereka sukai. apabila beliau bergembira mereka pun turut bergembira. Bayi yang sangat beruntung itu mereka panggil “Al-Hibb wa Ibnil Hibb” (kesayangan anak kesayangan).
Kaum muslimin tak berlebih-lebihan memanggil Usamah yang masih bayi itu dengap panggilan Itu. di karenakan, Rasulullah memang sangat menyayangi Usamah sehingga Global seluruhnya agaknya iri hati. Usamah sebaya dengan cucu Rasulullah, Hasan bin Fatimah az-Zahra. Hasan berkulit putih tampan bagaikan bunga yang mengagumkan. Dia sangat mirip dengan kakeknya, Rasulullah saw. Usamah kulitnya hitam, hidungnya pesek, sangat mirip dengan ibunya wanita Habsyi. Namun, Afeksi sayang Rasulullah kepada keduanya tiada berbeda. Beliau sering mengambil Usamah, lalu meletakkan di Disorientasi satu pahanya. setelah itu, diambilnya pula Hasan, dan diletakkannya di paha yang satunya lagi. setelah itu, kedua anak itu dirangkul bersama-Serupa ke dadanya, seraya berkata, “Wahai Allah, saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pulalah mereka!”
Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah, di suatu kali Usamah tersandung pintu sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah menyuruh Aisyah membersihkan darah dari luka Usamah, akan tetapi tak mampu melakukannya. di karenakan itu, beliau berdiri mendapatkan Usamah, lalu beliau isap darah yang keluar dari lukanya dan ludahkan. Sesudah itu, beliau bujuk Usamah dengan Perkataan-Perkataan manis yang menyenangkan hingga hatinya merasa tenteram kembali.
Sebagaimana Rasulullah menyayangi Usamah waktu kecil, tatkala sudah besar beliau juga tetap menyayanginya. Hakim bin Hazam, seorang pemimpin Qurasy, Sempat menghadiahkan pakaian mahal kepada Rasulullah. Hakam membeli pakaian itu di Yaman dengan harga lima puluh dinar emas dari Yazan, seorang pembesar Yaman. Rasulullah enggan menerima hadiah dari Hakam, sebab saat itu dia masih musyrik. Lalu, pakaian itu dibeli oleh beliau dan hanya dipakainya sekali saat hari Jumat. Pakaian itu setelah itu diberikan kepada Usamah. Usamah senantiasa memakainya pagi dan petang di tengah-tengah para pemuda Muhajirin dan Anshar sebayanya.
Sejak Usamah meningkat remaja, sifat-sifat dan pekerti yang mulia sudah kelihatan di dirinya, yang memang pantas menjadikannya Bagaikan kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, bijaksana dan pandai, takwa dan wara. Ia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela.
Dikisahkan bahwasanya di suatu hari, terjadilah pencurian dimana pelakunya Yaitu seorang wanita ternama dari bangsa Quraisy, maka kaum Quraisy pun terlena, apa yang semestinya diputuskan terhadap wanita Itu Padahal hukuman untuk pencuri Yaitu potong tangan, setelah itu mereka ingin menanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW namun ketidak beranian yang mereka miliki membuat mereka mundur langkah dan maju langkah. hingga terbesitlah dihati Disorientasi satu diantara mereka bahwasanya orang yang paling berani untuk menanyakan hal ini Yaitu Usama, di karenakan dia Yaitu orang yang paling dekat dan paling dikasihi oleh rasulullah saw.
dengan Genjah mereka menemuinya dan memintanya supaya meminta keringanan kepada rasulullah saw terhadap wanita terseut. saat Usama menceritakan hal ini kepada rasulullah saw, maka rasulullah bersabda:
    Janganlah engkau meminta keringanan di masalah hukum agama, sesungguhnya bangsa-bangsa terdahulu binasa di karenakan hal itu, apabila diantara mereka orang bangsawan mencuri maka mereka mengampuninya dan apabila orang miskin yang mencuri maka ditegakkan hukum sebaik-baiknya dan sesungguhnya apabila Fatimah Binti Muhammad mencuri niscaya saya akan memotong tangannya.
USAMAH di PERANG UHUD
Waktu terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah saw. beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak di karenakan usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid teramasuk kelompok anak-anak yang tak diterima. di karenakan itu, Usama pulang sambil menangis. Dia sangat sedih di karenakan tak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah.

USAMAH di PERANG KHANDAQ
di Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawan remaja, putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, supaya beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. di karenakan itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. saat itu dia baru berusia lima belas tahun.
USAMAH di PERANG HUNAIN
saat terjadi Perang Hunain, tentara muslimin terdesak sehingga barisannya Jadi kacau balau. akan tetapi, Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-Serupa denga ‘Abbas (paman Rasulullah), Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengah kelompok kecil ini, Rasulullah sukses mengembalikan kekalahan para sahabatnya Jadi kemenangan. Beliau sukses menyelematkan kaum muslimin yang lari dari kejaran kaum musyrikin.
USAMAH di PERANG MU’TAH
di Perang Mu’tah, Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. saat itu umurnya kira-kira delapan belas tahun. Usamah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur Bagaikan syuhada. akan tetapi, Usamah tak takut dan tak pula mundur. Bahkan, dia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid. setelah itu, komando dipegang oleh Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum.
Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah SWT. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (SYiria) dengan mengenang segala kebaikan almarhum.
PENGANGKATAN USAMAH di PERANG MELAWAN ROMAWI
saat Islam berjaya di masa Rasulullah di Arab. Dengan suka rela, setiap insan yang mendengar seruan kalimat laa ilaha illallalah Muhammadur Rasulullah berbondong-bondong menyambutnya. Wajah-wajah kusut yang semula diselimuti kabut kemusyrikan Jadi cerah disinari pancaran cahaya Ilahi. tak ketinggalan juga Farwah bin Umar Al-Judzami, kepala daerah Ma’an dan sekitarnya yang diangkat Kaisar Romawi. Mengetahui hal itu, para penguasa Romawi marah dan mereka Genjah menangkap Farwah dan menjebloskannya ke penjara. Selanjutnya, ia dibunuh dan kepalanya dipancung, lalu diletakkan di suatu mata air bernama Arfa’ di Palestina. Mayatnya disalib untuk menakut-nakuti para penduduk supaya tak mengikuti jejaknya.
Mendengar desas-desus yang seolah menyepelekan kemampuan Usamah itu, Umar bin Khatthab Genjah menemui Rasulullah. Beliau sangat marah, lalu bergegas mengambil sorbannya dan keluar menemui para sahabat yang tengah berkumpul di Masjid Nabawi. Seusai memuji Allah dan mengucapkan syukur, beliau bersabda,
    “Wahai sekalian manusia, saya mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah, demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang kepemimpinan, begitu juga dengan putranya, Usamah. Seandainya ayahnya sangat saya kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka Yaitu orang yang bagus. Hendaklah kalian memandang bagus mereka berdua. Mereka juga Yaitu sebaik-bagus manusia di antara kalian.”
di tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah supaya menyiapkan bala tentara untuk memerangi pasukan Rum. di pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain sahabat yang tua-tua.
Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yang muda remaja Jadi panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. saat itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun. Beliau memerintahkan Usamah supaya berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum.
Seusai itu, beliau turun dari mimbar dan masuk ke rumahnya. Kaum muslimin pun beradatangan hendak berangkat bersama pasukan Usamah. Mereka menemui Rasulullah yang di itu di keadaan sakit. Diantara mereka terdapat Ummu Aiman, ibu Usamah. “Wahai Rasulullah bukankah lebih bagus, bila engkau biarkan Usamah menunggu sebentar di perkemahannya hingga engkau merasa sehat. bila dipaksa berangkat sekarang, tentu dia tak akan merasa tenang di perjalanannya,” ujarnya. Namun Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Biarkan Usamah berangkat sekarang juga.”
Perkataan Usamah, “Tatkala sakit Rasulullah bertambah berat, saya datang menghadap beliau diikuti orang banyak, Seusai saya masuk, saya dapati beliau sedang diam tak berkata-Perkataan di karenakan kerasnya sakit beliau. Tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan meletakkannya ke tubuh saya. Saya tahu beliau memanggilku.”
saat Usamah mencium wajahnya, beliau tak Menyebut apa-apa selain mengangkat kedua belah tanganya ke langit serta mengusap kepala Usamah, mendoakannya.
SIKAP KHALIFAH ABU BAKAR ATAS ADANYA USULAN PENGGANTIAN USAMAH
Usamah Genjah kembali ke pasukannya yang masih menunggu. Seusai semuanya lengkap, mereka Berawal Dari Dinamis. Belum jauh pasukan itu meninggalkan Juraf, tempat markas perkemahan, datanglah utusan dari Ummu Aiman memberitahukan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam telah wafat. Usamah Genjah memberhentikan pasukannya. Bersama Umar bin Khatthab dan Abu Ubaidah bin Jarraf, ia Genjah Futuristis rumah Rasulullah. Sementara itu, tentara kaum muslimin yang bermarkas di Juraf membatalkan pemberangkatan dan kembali juga ke madinah.
Abu Bakar Shidiq terpilih dan dilantik Jadi khalifah. Khalifah Abu Bakar meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sesuai dengan rencana yang telah digariskan Rasulullah. akan tetapi, sekelompok kaum Anshar menghendaki supaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta Umar bin Khattab membicarakannya dengan Khalifah Abu Bakar. Abu Bakar Genjah memanggil Usamah untuk kembali memimpin pasukan, sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah sebelumnya. Tindakan Khalifah tentu aja mendapat reaksi dari beberapa sahabat. Apalagi di itu beberapa kelompok kaum muslimin murtad dari agama Islam. Kota Madinah memerlukan penjagaan ketat.
Perkataan mereka, “bila khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagaimana dikehendakinya, kami mengusulkan panglima pasukan (Usamah) yang masih muda remaja ditukar dengan tokoh yang lebih tua dan berpengalaman.”
Mendengar ucapan Umar yang menyampaikan usul dari kaum Anshar itu, Abu Bakar bangun menghampiri Umar seraya berkata dengan marah, “Hai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. di ini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasululllah. Demi Allah, tak ada tips begitu!”
Abu Bakar juga berkata, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, seandainya aku tahu akan dimakan binatang buas sekalipun, niscaya aku akan tetap mengutus pasukan ini ketujuannya. Aku yakin, mereka akan kembali dengan selamat. Bukankah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang diberikan wahyu dari langit telah bersabda, “Berangkatkan Genjah pasukan Usamah!’
Tatkala Umar kembali kepada orang banyak, mereka menanyakan bagaimana hasil pembicaraannya dengan khalifah mengenai usulnya. Perkataan Umar, “Seusai saya sampaikan usul kalian kepada Khalifah, belaiu menolak dan malahan saya terkena marah. Saya dikatakan sok berani membatalkan keputusan Rasulullah.
Maka, pasukan tentara muslimin berangkat di bawah pimpinan panglima yang masih muda remaja, Usamah bin Zaid. Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki, Padahal Usamah menunggang kendaraan.
Perkataan Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan kalian naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. “
Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor, sementara mengantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan engkau, agama engkau, kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”
setelah itu dibalas oleh Usamah dengan jawaban yang penuh makna, “Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanatmu juga penghujung amalmu dan aku berwasiat kepadamu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah.”
setelah itu, Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, “bila engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya. Usamah setelah itu mengizinkannya.
KEMENANGAN USAMAH
Usamah dan pasukannya terus Dinamis dengan Genjah meninggalkan Madinah. Seusai melewati beberapa daearah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka tiba di Wadilqura. Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah bernama Huraits. Ia maju meninggalkan pasukan hingga tiba di Ubna, tempat yang mereka tuju. Seusai sukses mendapatkan berita mengenai keadaan daerah itu, dengan Genjah ia kembali menemui Usamah. Huraits menyampaikan informasi bahwa penduduk Ubna belum mengetahui kedatangan mereka dan tak bersiap-siap. Ia mengusulkan supaya pasukan secepatnya Dinamis untuk melancarkan Agresi sebelum mereka mempersiapkan diri. Usamah setuju. Dengan Genjah mereka Dinamis. Seperti yang direncanakan, pasukan Usamah sukses mengalahkan lawannya. Hanya selama empat puluh hari, setelah itu mereka kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban seorang pun.
Usamah sukses kembali dari medan perang dengan kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi Estimasi yang diduga orang. Sehingga, orang Menyebut, “Belum Sempat terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan sukses membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid.”
KECINTAAN KAUM MUSLIMIN KEPADA USAMAH
Usamah bin Zaid sepanjang hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. di karenakan, dia senantiasa mengikuti sunah Rasulullah dengan sempurna dan memuliakan pribadi Rasul.
Khalifah Umar bin Khattab Sempat diprotes oleh putranya, Abdullah bin Umar, di karenakan melebihkan jatah Usamah dari jatah Abdullah Bagaikan putra Khalifah. Perkataan Abdullah bin Umar, “Wahai Bapak! Bapak menjatahkan untuk Usamah empat ribu dinar, Padahal kepada saya hanya tiga ribu dinar. Padahal, jasa bapaknya agaknya tak akan lebih banyak daripada jasa Bapak sendiri. Begitu pula pribadi Usamah, agaknya tak ada keistimewaannya daripada saya. Jawab Khalifah Umar, “Wah?! jauh sekali?! Bapaknya lebih disayangi Rasulullah daripada bapak kita. Dan, pribadi Usamah lebih disayangi Rasulullah daripada dirimu.” Mendengar keterangan ayahnya, Abdullah bin Umar rela jatah Usamah lebih banyak daripada jatah yang diterimanya.
Apabila bertemu dengan Usamah, Umar menyapa dengan ucapan, “Marhaban bi amiri!” (Selamat, wahai komandanku?!). bila ada orang yang heran dengan sapaan Itu, Umar jelaskan, “Rasulullah Sempat mengangkat Usamah Jadi komandan saya.”
Seusai menjalani hidupnya bersama para sahabat, Usamah bin Zaid wafat tahun 53 H / 673 M di masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah.
Itulah cuplikan dari kisah seorang pemuda yang berani di membela agama Allah tanpa mempedulikan sesuatu yang mengancam jiwanya, dari sinilah kita Bagaikan pemuda penerus bangsa dan agama alangkah patutlah meniru sosok seorang sahabat yang pemberani Usamah bin Zaid.
(disarikan dari nabilmufti.wordpress.com)

Baca Info Menarik berikut ini di >>> Peristiwa Unik Matahari Yang wajib kalian Ketahui

Tag : Kisah Sahabat Nabi

Inilah Panglima Perang Termuda Sahabat Nabi

Facebook Comments

Leave a Reply