IHYA ULUMIDDIN di KITAB QAIDAH – QAIDAH I ‘TIQAD (FASAL 1)

KARANGAN  IMAM AL GHAZALI

 Fasal pertama:

 Menguhraikan ‘aqidah (i’tiqad) Ahlus-sunnah mengenai dua kalimah syahadah, iaitu Disorientasi satu dari dasar-dasar Islam.

 
Maka berkatalah kami dengan memohonkan taufiq dari di Allah Ta’ala :

Segala pujian untuk Allah yang menjadikan, yang mengembalikan, yang berbuat barang sekehendakNya, yang mempunyai ‘Arasy mulia, yang gagah perkasa, yang memberi petunjuk kepada hamba-Nya yang Higienis kepada tips yang betul dan jalan benar, yang membagikan nikmat kepada mereka sesudah pengakuan tauhid dengan terjaga ‘aqidahnya dari kegelapan keraguan dan kesangsian, yang membawa mereka kepada mengikuti RasuLNya yang pilihan dan menuruti peninggalan para shahabatnya yang mulia, yang dikaruniai dengan kekuatan dan kebenaran, yang menampakkan kepada mereka mengenai zatNya dan af’alNya dengan segala sifatNya yang bagus, yang tak akan mengetahuinya, selain orang yang dilimpahkan pendengaran dan Dia itu yang menyaksikan, yang memperkenalkan kepada mereka bahwa zatNya itu Esa, tiada seku-tu bagiNya, tunggal tiada yang menyamaiNya, lengkap rakhmatNya, tiada yang melawaniNya, sendirian tiada yang menyekutuiNya.
Bahwa Dia itu Esa, qadim tiada bepermulaan, azali tiada berpenda-huluan, berkekalan wujudNya, tiada berkesudahan, abadi tiada berpenghabisan, tegak sendiri tiada yang menghalangiNya, kekal tiada putusNya, senantiasa dan selalu bersifat dengan segala sifat kebesaran, tiada Demisioner dengan kehabisan dan pemisahan, dengan pergantian abad dan musnahnya Masa. akan tetapi Dialah yang awal dan yang akhir, yang dhahir dan yang bathin. Dia amat mengetahui dengan tiap-tiap sesuatu.

Kemahasucian (tanzih),

Bahwa Ia tak dengan tubuh yang merupakan, tak jauhar (benda atau barang) yang terbatas dan berhingga. Dia tak menyerupai dengan segala tubuh, tak di kira-kiraan dan tak di Bisa Dikotomi-bagikan.

Tidaklah Dia itu jauhar dan tidaklah Dia ditempati oleh jauhar-jauhar. Tidaklah Dia itu aradl (sifat yang mengambil tempat) dan tidaklah Dia ditempati oleh aradl-aradl. Bahkan Dia tak menyerupai dengan yg ada (maujud) dan tak suatu yg maujud pun menyerupai dengan Dia. Tiadalah sepertiNya sesuatu dan tidaklah Dia seperti sesuatu. Dia tak dibatasi oleh sesuatu batas dan tak mengandung sesuatu jurusan, tak diliputi oleh pihak, tak dibatasi oleh bumi dan langit.

Dia beristiwa’ di atas ‘Arasy menurut firmanNya dan menurut arti yang dikehendakiNya, istiwa’ yang suci dari tersentuh dengan sesuatu, suci dari tetap dan tenang, suci dari mengambil tempat dan berpindah. Dia tak dibawa oleh ‘Arasy akan tetapi ‘Arasy dan pembawa-pembawa ‘Arasylah yang dibawa dengan kelemah-lembutan qudrahNya, yang digagahi di genggamanNya. Dia di atas ‘Arasy dan langit dan di atas segala-galanya hingga kesegala lapisan bumi, keatasan yang tak menambahkan dekatNya kepada ‘Arasy dan langit sebagaimana, tak menambahkan jauh-Nya dari bumi dan lapisan tanah. akan tetapi Dia di tingkat yang maha tinggi dari ‘Arasy dan langit, sebagaimana

Dia di tingkat yang maha tinggi dari bumi dan lapisan tanah. Dan di itu, Dia dekat sekali dengan segala yang maujud (yang ada). Dan maha dekat kepada hambaNya, lebih dekat dari urat leher hambaNya itu sendiri. Dia menyaksikan tiap-tiap sesuatu. tak menyerupai kehampiranNya dengan kehampiran diantara tubuh-tubuh, sebagaimana tak menyerupai zatNya dengan segala zat tubuh-tubuh itu. Dia tak bertempat di sesuatu dan tak ada sesuatu ber-tempat padaNya. Maha Suci Ia dari dipengaruhi oleh tempat, sebagaimana la maha suci daripada dibataskan oleh waktu. akan tetapi Yaitu Dia sebelum dijadikan Masa dan tempat. Dia sekarang menurut apa yang Dia ada. Dia tak Serupa dengan makhlukNya dengan segala sifatNya. Tiada sesuatu yang Serupa dengan zatNya dan tidaklah zatNya menyamai dengan sesuatu.

Dia maha-suci dari perobahan dan perpindahan. Tidaklah bertempat padaNya segala kejadian dan tidaklah mempengaruhiNya oleh segala yang mendatang. akan tetapi senantiasalah Dia di segala sifat kebesaran-Nya, maha-suci dari kelenyapan dan senantiasalah Dia di segala sifat kesempurnaanNya, tak memerlukan kepada penam-bahan kesempurnaan lagi. Mengenai zatNya diketahui adaNya dengan akal pikiran, dilihat zatNya dengan mata-hati Bagaikan suatu nikmat daripadaNya Bagaikan Afeksi-sayangNya kepada orang-orang yang berbuat bagus di negeri ketetapan nanti dan Bagaikan suatu kesempurnaan daripadaNya dengan kenikmatan memandang kepada wajahNya yang mulia.

Hayah (Hayati) dan qudrah (kuasa).


Dia itu Hayati, yang kuasa, yang gagah, yang perkasa, tak ditimpakan kepadaNya oleh kekurangan dan kelemahan,tak ada padaNya lupa dan tidur, tak didatangi oleh kebinasaan dan kematian. Dialah yang mempunyai kerajaan dan kekuasaan, yang mempunyai kemuliaan dan kebesaran. KepunyaanNya kekuasaan, keperkasaan, kejadian dan segala urusan. Segala langit itu terlipat dengan kanan-Nya, segala makhluk itu digagahi di genggamanNya. Dia sendirian menjadikan dan mengadakan. DijadikanNya makhluk dan perbuatannya, ditentukanNya rezeki dan ajalnya. tak terlepas kekuasaan dari genggamanNya dan tak luput dari kekuasaanNya segala pertukaran keadaan. Tak terhinggakan yang dikuasaiNya dan tak berkesudahan yang diketahuiNya.


Ilmu (mengetahui).


Dia yang mengetahui segala yang diketahui, yang meliputi dengan apa yang berlaku dari segala lapisan bumi hingga kepada langit yang tinggi. Dia maha tahu, tak luput dari ilmuNya seberat biji sawi sekalipun, di bumi dan di langit, bahkan Dia mengetahui semut yang hitam, yang berjalan di atas batu yang hitam, di malam yang kelam. Dia mengetahui gerakan yang paling halus di udara terbuka. Dia tahu rahasia dan yang tersembunyi.
Dan melihat segala Intuisi di hati kecil manusia, segala gurisan dan bathin yang tersembunyi di di Heroisme, dengan ilmu qadim aza-li.

Senantiasalah Dia bersifat demikian di azal-azali. Tidaklah ilmuNya dengan pengetahuan yang membaru, yang terjadi di zatNya dengan bertempat dan berpindah.


Iradah (berkehendak).


Dia itu berkehendak, menjadikan segala yang ada, mengatur segala yang baru. Maka tidaklah berlaku di alam yang nyata ini dan yang tak nyata, sedikit atau banyak, kecil atau besar, bagus atau buruk, bermanfa’at atau melarat, iman atau kufur, pengakuan atau mungkir, kemenangan atau kerugian, bertambah atau berkurang, tha’at atau ma’siat, selain dengan qadla dan qadarNya (ketetapan dan taqdirNya), hikmah dan kehendakNya. Apa yang dikehendakiNya ada. Yang tak dikehendakiNya tak ada. Tak ada yang keluar dari kehendakNya meskipun palingan muka orang yang memandang dan gurisan hati dari seseorang manusia. akan tetapi Dialah yang memulai dan yang mengulangi, berbuat sekehendakNya, tak ada yang menolak dari perintahNya dan tak ada yang Bisa berbuat karena untuk ketetapanNya.

Tak ada yang Bisa melarikan seorang hamba dari kema’siatanNya, selain dengan taufiq dan rahmatNya. Tak ada kekuatan untuk mentha’atiNya selain dengan kehendak dan iradahNya. Seandainya berkumpullah insan dan jin, malaikat dan setan, untuk menggerakkan di alam ini sesuatu benda yang kecil aja atau menempatkannya tanpa iradah dan kehendakNya, maka akan lemahlah mereka itu daripadanya.
IradahNya itu berdiri di zatNya di jumlah sifat-sifatNya. Senantiasalah Dia demikian, bersifat dengan iradah. Dia berkehendak di azal untuk adanya segala sesuatu, di waktu-waktunya yang ditaqdirkanNya. Lalu terdapatlah segala sesuatu itu di waktunya, menurut kehendakNya di azal, tak terdahulu dan tak terkemudian. Bahkan terjadi sesuai dengan ilmu dan iradahNya, tanpa pertukaran dan perubahan, Dia mengatur segala urusan, tak dengan tartib pikiran dan pengaruh Masa di karenakan itu, tidaklah Dia dipengaruhi oleh apapun juga.


Serupa’ dan bashar (mendengar dan melihat).

Dia yang mendengar lagi yang melihat. Dia mendengar dan melihat, yang tak luput dari pendengaranNya yang terdengar, meskipun tersembunyi. tak lenyap dari penglihatanNya yang terlihat, meskipun sangat halus. tak menghalangi pendengaranNya oleh kejauhan. tak menolak penglihatanNya oleh kegelapan. Dia melihat tanpa biji mata dan kelopak mata. Dia mendengar tanpa anak telinga dan daun telinga, sebagaimana Dia tahu tanpa hati dan bertenaga tanpa anggota badan dan menjadikan tanpa perkakas. di karenakan tidaklah sifatNya menyerupai sifat makhluk, sebagaimana zatNya tak menyerupai zat makhluk.


Kalam (berkata-Perkataan).


Dia yang berkata-Perkataan, yang menyuruh dan melarang, yang berjanji balasan bagus untuk orang yang berbuat bagus dan yang berjanji balasan buruk untuk orang berbuat Dursila, dengan kalamNya yang azali, qadim, berdiri dengan zatNya, yang tak menyerupai dengan kalam makhluk. Tidaklah kalamNya itu dengan suara yang datang dari pembawaan udara atau penggosokan beberapa benda. tak dengan huruf yang berputus-Frustasi dengan melipatkan bibir atau menggerakkan lidah. Dan sesungguhnya Al-Qur-an, Taurat, Injil dan Zabur Yaitu kitab-kitabNya yang diturunkan kepada para rasulNya as.

Dan Al-Quran itu Di Lantunkan dengan lidah, dituliskan di lembaran-Iembaran kertas dan dihafalkan di di hati. di di itu, Al-Qur-an itu qadim, berdiri dengan zat Allah Ta’ala. tak menerima pemisahan dan penceraian dengan sebab berpindah ke di hati dan kertas. Nabi Musa as. mendengar kalam Allah, tanpa suara dan huruf, sebagaimana orang-orang abrar (orang-orang yang selalu berbuat kebaikan) melihat Allah Ta’ala di akhirat dengan tak berjauhar dan ber’aradl.

Apabila segala sifat yang Itu tadi ada di zat Allah Ta’ala, maka Yaitu Allah Ta’ala itu, yang Hayati dengan hidupNya(hayah), yang mengetahui dengan ilmuNya (‘ilmun), yang berkuasa dengan qudrahNya, yang berkehendak dengan iradahNya, yang mendengar dengan Serupa’-Nya, yang melihat dengan basharNyadan yang berkata-Perkataan dengan kalamNya. tak dengan semata-mata zat.


Af’al (perbuatan-perbuatan).


tak Yaitu yang maujud selain Dia. Yang lain itu ada dengan perbuatanNya, yang melimpah dari keadilanNya dengan bentuk yang sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya dan seadil-adilnya.

Dia maha bijaksana di segala perbuatanNya, maha adil di segala hukumNya. Tak dapatlah dibandingkan keadilanNya dengan keadilan hambaNya. di karenakan hamba itu, tergambar daripadanya kedhaliman, di mengurus Copyright milik orang lain. Dan tak tergambar kedhaliman daripada Allah Ta’ala. Sebab tak dijumpai milik untuk yang lain, dari Allah, sehingga ada pengurusanNya itu dhalim.

Seluruhnya yang lain dari Allah, Yaitu insan, jin, malaikat, setan, langit, bumi, Fauna, tumbuh-tumbuhan, barang-beku, jauhar, ‘aradl, yang diketahui dan yang dirasa, Yaitu baharu (haadits), yang dijadikan Allah dari tak ada dengan qudrahNya dan yang diciptakan-Nya dari tak ada Serupa-sekali. di karenakan di azali hanyalah Dia yang ada yang Maha Esa dan yang lainNya tak ada. Maka setelah itu, dijadikanNya makhluk, untuk menyatakan qudrahNya, membuktikan untuk yang telah lalu dari IradahNya dan kebenaran kalimahNya di azali. Bukan di karenakan Dia memerlukan dan berhajat kepada yang baharu itu. Dia berkemurahan dengan menjadikan, menciptakan dan menugaskan, bukan dari kewajiban kepadaNya. Dan mengeruniakan keni’matan dan perbaikan, bukan suatu keha-rusan kepadaNya.

Maka bagiNyalah keutamaan, kebaikan, keni’matan dan kemurahan. di karenakan Dia berkuasa menimpakan bermacam-macam ‘azab kepada hambaNya dan mencobainya dengan berbagai kesengsaraan dan malapetaka. bila dibuatNya demikian, maka Yaitu itu keadilan daripadaNya, bukan kekejian dan kedhaliman. Dia memberi pahala kepada hambaNya yang mu’min atas ketha’atan Yaitu di karenakan kemurahan dan janjiNya. Bukan di karenakan Jadi Copyright dari orang mu’min yang tha’at itu dan bukan suatu keharusan atas Allah Ta’ala. di karenakan tak wajib atasNya berbuat untuk seseorang dan tak tergambar daripada Allah sesuatu kedhaliman. tak wajib ada Copyright seseorang atas Allah. Dan Copyright Allah atas makhluk wajib di mentha’atiNya, dengan diwajibkanNya disampaikan oleh lisan para nabiNya. tak dengan semata-mata akal, akan tetapi Ia mengutuskan rasul-rasul dan melahirkan kebenaran mereka dengan mu’jizat-mu’jizat yang nyata. Lalu mereka itu menyampaikan perintahNya, laranganNya, wa’adNya (janji pahala kepada yang berbuat kebajikan) dan wa’idNya (janji siksa kepada yang berbuat kejahatan). Maka wajiblah atas makhluk membenarkan rasul-rasul itu, akan apa yang dibawanya.


Erti kalimah kedua, Yaitu mengakui kerasulan rasul-rasul membawa risalah :


Bahwa Allah Ta’ala mengutuskan seorang nabi yang ummi (tak tahu tulis baca) dari suku Quraisy, bernama Muhammad saw. membawa risalah kepada seluruh Arab dan ‘Ajam (1), jin dan insan. Maka dengan syari’at yang dibawanya itu, Jadi mansukhlah segala syari’at yang terdahulu, kecuali hal-hal yang” ditetapkan berlakunya oleh syari’at yang baru itu.
Dan dilebihkanNya Nabi Muhammad saw. atas nabi-nabi yang lain. DijadikanNya dia Jadi penghulu segala manusia dan tak diakuiNya kesempurnaan iman dengan syahadah tauhid aja, Yaitu mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH” sebelum disambung dengan syahadah rasul. Yaitu mengucapkan “MUHAMMADUR RASUULULLAAH.

DiharuskanNya seluruh makhluk membenarkan Muhammad saw. itu di segala perkhabaran yang diknabarkannya, mengenai urusan Global dan akhirat. Dan tak diterimaNya iman seseorang dari hambaNya, sebelum beriman dengan apa yang dikhabarkan Muhammad saw. mengenai hal-hal sesudah mati. Yaitu yang pertama-nya, pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir (2). Kedua malaikat ini Yaitu dua pribadi yang hebat menakutkan, mendudukkan dengan bagus akan hamba Allah di kuburnya dengan ruh dan jasad. Lalu menanyakan mengenai tauhid dan risalah, dengan Menyebut : “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?”.

Kedua malaikat itu Yaitu pembawa cobaan di di kubur. Pertanyaannya tadi, Yaitu cobaan yang pertama sesudah mati.
Dan bahwa diimani dengan adanya ‘azab kubur (1) Dan Allah itu benar, hukumNya adil menurut sekehendakNya atas tubuh dan ruh.

Dan bahwa diimani dengan adanya neraca timbangan amal yang mempunyai dua daun dan lidah neraca (2). mengenai besarnya Yaitu seumpama lapisan langit dan bumi, yang ditimbang padanya segala amalan dengan qudrah Allah Ta’ala. Yang inti di masa itu, meskipun seberat semut yang kecil dan biji-bijian yang halus, Yaitu untuk membuktikan kesempurnaan keadilanNya.

Dan diletakkan lembaran amal yang bagus di bentuk yang bagus di daun neraca dari nur. Lalu beratlah neraca dengan amalan itu, menurut derajat nya di Hepotenusa Allah Ta’ala dengan karuniaNya, dan dilemparkanlah lembaran amal yang keji di bentuk yang buruk di daun neraca kegelapan. Maka ringanlah daun neraca itu dengan keadilan Allah.

Dan bahwa diimani, bahwa titian A sh-shiraatal-mustaqlim (3) itu benar adanya. Yaitu titian yang memanjang, melalui neraka jahannam, lebih tajam dari pedang, lebih halus dari ram yet, terpe-leset kaki orang-orang kafir di atasnya dengan hukum Allah Ta’ala. Lalu mereka jatuh tersungkur ke di neraka. Dan tetaplah di atasnya kaki orang-orang mu’min dengan karunia Allah. Lalu mereka dibawa ke negeri ketetapan (sorga).

Dan bahwa diimani dengan al-haudl-al-mauruud. Yaitu kolam Nabi Muhammad saw., di mana orang-orang mu’min akan minum padanya, sebelum masuk sorga dan sesudah melewati titian Ash-shiraatal-mustaqiim (4).

Barangsiapa meminum padanya sekali minum, maka tak akan haus sesudahnya lagi selama-lamanya. Kolam itu lebarnya seperjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu.Sekeliling nyacerek-cerek, jumlah-nya se ban yak bin tang di langit. di kolam itu terdapat dua pancuran(1)yang memancur padanya air dari sungai Al-Kausar.

Dan bahwa diimani dengan hitungan amalan (hisab) dan berlebih kurangnya manusia di di penghisaban itu yang terbagi kepada : orang yang diminta keterangan di hisab, yang diperlunak di hisab dan orang yang masuk sorga tanpa hisab. Yaitu orang-orang muqarrabun (orang-orang yang mendekati Allah dengan beramalan banyak).

Maka Allah menanyakan siapa yang dikehendakiNya dari para nabi mengenai penyampaian risalah dan siapa yang dikehendakiNya dari orang-orang kafir mengenai pendustaan mereka kepada rasul-rasul. Allah menanyakan orang-orang yang berbuat bid’ah dari sunnah dan menanyakan orang muslim mengenai amalan.

Dan bahwa diimani, bahwa orang-yang bertauhid itu dikeluarkan dari neraka sesudah Demisioner penyiksaan, sehingga tak tinggal di di neraka jahannam seorangpun yang bertauhid dengan karunia Allah Ta’ala. Maka tak ada orang yang bertauhid kekal di di neraka.

Dan bahwa diimani,akan memperoleh syafa’ah iz) nabi-nabi, setelah itu syafa’ah ulama-ulama, setelah itu syafa’ah syuhada’, setelah itu syafa’ah orang mu’min yang lain menurut kemegahan dan kedudukannya di Hepotenusa Allah Ta’ala. Dan orang mu’min lainnya, yang tak ada baginya yang membagikan syafa’ah, maka dia dikeluarkan dari neraka dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla. Maka tak ada seorang mu’minpun yang kekal di neraka. Siapa aja yang di hatinya seberat biji sawi keimanan akan dikeluarkan dari neraka itu.

Dan bahwa diimani kelebihan para shahabat ra. dan urutannya.

Bahwa manusia yang terutama sesudah Nabi saw., ialah Abu Bakar, setelah itu Umar, setelah itu Usman, setelah itu Ali, diridhai Allah kiranya mereka itu sekalian. p)
Dan sesungguhnya hendaklah berbaik sangka dengan sekalian shahabat Nabi saw. dan memberi pujian kepada mereka, sebagaimana Allah swt. dan Rasulullah saw. memberi pujian kepada mereka itu sekalian.

 

Semuanya itu, termasuk diantara apa yang dibawakan hadits dan disaksikan oleh Perkataan-Perkataan peninggalan dari shahabat dan orang-orang yang terdahulu (atsar).

Barangsiapa mempercayai yang demikian itu dengan penuh keyakinan, maka Yaitu dia diantara ahli kebenaran, pendukung sunnah, terpisah dari rombongan kesesatan dan golongan bid’ah.
Kepada Allah Ta’ala kita meminta kesempurnaan keyakinan dan kebagusan ketetapan di Agama, untuk kita sendiri dan untuk kaum muslimin seluruhnya dengan rakhmat Allah. Dia amat mengasihani dari segala yang mengasihani. Kiranya Allah mencu-rahkan rakhmat kepada penghulu kita Muhammad dan kepada segala hambaNya yang pilihan.

 

IHYA ULUMIDDIN di KITAB QAIDAH – QAIDAH I ‘TIQAD (FASAL 1)

Facebook Comments

Leave a Reply