Home Ceramah Islam Terbaru HUKUM TAYAMUM DAN TATACARANYA

HUKUM TAYAMUM DAN TATACARANYA

24
0
BAB THAHARAH (BERSUCI)


G. T A Y A M U M
Tayamum berasal dari akar Perkataan “tayammama” yang berarti bermaksud. dengan cara istilah tayamum Yaitu menyampaikan debu kepada wajah dan kedua tangan dengan niat Eksklusif.
Tayamum merupakan sarana bersuci pengganti wudhu (hadas kecil) dan mandi wajib (hadas besar) saat terdapat uzur untuk melakukannya. Tata tutorial tayamum untuk kedua hadas Itu Yaitu Serupa. Hanya aja, tayamum di karenakan hadas kecil Jadi batal bila terdapat hal-hal yang membatalkan wudhu, sementara tayamum dari hadas besar tak batal di karenakan terdapat hal-hal Itu tapi Jadi batal bila menemukan air dan mampu menggunakannya.

MENEPUK DEBU di TAYAMUM
MENEPUK DEBU di TAYAMUM

Tayamum Yaitu ibadah yang hanya Allah syariatkan untuk umat Nabi Muhammad SAW. Pensyariatan tayamum ini didasarkan di Alquran dan hadits. Adapun Alquran Yaitu firman Allah SWT:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

“Dan bila kita sakit atau di perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kita tak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bagus (Higienis); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (Al-Mâidah: 6).

Dan hadits Nabi SAW:

وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا، إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ

“Dan dijadikan debunya untuk kita suci bila tak menemukan air.” (HR. Muslim).

a. Sebab Tayamum
Tayamum boleh dilakukan di karenakan:
1. tak terdapat air.
2. Terdapat air tapi tak Bisa menggunakannya di karenakan beberapa alasan, Yaitu:

  1. Sakit. bila seseorang sedang sakit maka boleh bertayamum bila khawatir bertambahnya sakit, terlambat sembuh, menimbulkan cela yang besar di anggota tubuh yang tampak, atau menyebabkan cacat di anggota tubuh. Bahkan Bisa Jadi wajib bila khawatir meninggal Global bila tak bertayammum.
  2. Kebutuhan atas air. bila terdapat air namun dibutuhkan oleh Fauna yang terhormat maka dibolehkan untuk seseorang untuk bertayamum. Yang dimaksud dengan Fauna yang terhormat Yaitu setiap Fauna yang dilarang dibunuh tanpa sebab.Fauna tak terhormat Yaitu Fauna yang boleh dibunuh, Yaitu enam Fauna:
  • Orang yang meninggalkan shalat di karenakan enggan atau malas.
  • Pezina yang muhsan, Yaitu seseorang yang berzina Seusai Sempat sebelumnya menjalankan Interaksi badan melalui akad nikah yang Absah.
  • Orang kafir harbi, Yaitu orang kafir yang bukan merupakan ahlu dzimmah, bukan seseorang yang berada di bawah perlindungan kaum muslimin, atau tak mempunyai perjanjian damai dengan kaum muslimin.
  • Orang murtad, Yaitu orang yang memutuskan tali Islam bagus dengan niat, ucapan ataupun perbuatan.
  • Anjing yang mengganggu.
  • Babi, di karenakan ia lebih buruk dari anjing. Air dijual dengan harga diatas rata-rata.

3. Terdapat sesuatu yang menghalangi mencapai air seperti binatang buas.
4. Air berada di tempat yang sangat jauh.
5. Keadaan yang tak memungkinkan memakai air, seperti kondisi sangat dingin.

b. Syarat Tayamum
Terdapat tujuh syarat Absah tayamum, Yaitu:
1. Bertayamum dengan debu. Syarat-syarat debu yang boleh digunakan untuk tayamum Yaitu:

  • Suci (tak najis).
  • Bisa mensucikan (bukan mustakmal). Debu mustakmal Yaitu debu yang masih berada di anggota tayamum atau yang sudah terlepas darinya. Begitu pula debu yang digunakan untuk membersihkan najis.
  • Murni Yaitu yang tak tercampur dengan benda lain meskipun sedikit, seperti pasir, tepung.
  • mempunyai serbuk debu, Yaitu ditandai dengan ada yang menempel di anggota tayamum.

2. Menghilangkan najis terlebih Dulu, di karenakan tayamum Yaitu tutorial bersuci yang lemah (pengganti).
3. Menentukan arah kiblat dengan berijtihad bila belum mengetahuinya.
4. Sudah masuk waktu shalat, di karenakan tayamum Yaitu tutorial bersuci di keadaan darurat sementara tak dianggap darurat bila belum masuk waktu shalat. Nabi SAW bersabda:

أَيْنَمَا أَدْرَكَتْنِي الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَّيْتُ

“Dimana aja aku bertemu waktu shalat maka aku akan membasuh (bertayamum) dan shalat.” (HR. Ahmad).

5. Bertayamum untuk setiap satu shalat wajib. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Umar RA: “Seseorang bertayamum untuk setiap shalat meskipun belum batal.”

c. Rukun Tayamum
Tayamum mempunyai lima rukun, Yaitu:
1. Memindahkan debu. Maksudnya memindahkan debu dari suatu tempat ke wajah dan kedua tangan.
2. Niat, Yaitu berniat menjalankan tayamum. Yang diniatkan di tayamum Yaitu berniat tayamum supaya boleh melaksanakan shalat, bukan untuk menghilangkan hadas, di karenakan tayamum tak Bisa menghilangkan hadas. Niat dimulai sejak perbuatan memindahkan debu dan terus berlanjut hingga membasuh sebagian wajah. Dianjurkan melafalkan niat tayamum.
Contoh niat tayammum: Nawaytut tayammuma listibahatis shalati ( نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ ).
3. Membasuh seluruh muka. Tapi tak diwajibkan –atau bahkan tak disunahkan—mengusap debu hingga tempat tumbuhnya rambut.
4. Membasuh kedua tangan. tutorial yang dianjurkan di membasuh tangan Yaitu Bagaikan berikut: letakkan jari-jemari tangan kiri dengan cara menyilang (horizontal) di punggung jemari kanan kecuali ibu jari. Tarik tangan kiri ke arah pergelangan. hingga di pergelangan genggam pergelangan dengan jemari dan terus menarik tangan kiri hingga ke siku-siku. hingga di siku-siku putarlah telapak tangan hingga berada di bagian di siku-siku lalu tarik kembali tangan kiri Itu ke pergelangan. Lalu gerakkan ibu jari untuk menyapu punggung ibu jari kanan.
Nabi SAW bersabda:

اَلتَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ: ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ

“Tayamum itu dua kali hentakan: hentakan untuk wajah dan hentakan untuk kedua tangan hingga kedua siku-siku.” (HR. Daruquthni).

Loading...

5. Tertib antara kedua basuhan, di karenakan tayamum Yaitu pengganti wudhu. Maka sebagaimana diwajibkan tertib di wudhu maka diwajibkan pula di tayamum.

d. Sunah Tayamum
Setiap perbuatan yang disunahkan di berwudhu maka disunahkan pula di tayamum, kecuali menigakalikan basuhan dan menyela-nyela jenggot. Selain sunah-sunah Itu, ditambah pula lima perbuatan yang disunahkan di tayamum, Yaitu:
1. Merenggangkan jari-jemari.
2. Mengurangi debu di tangan Seusai mengambilnya dengan tutorial menepuk kedua telapak tangan atau dengan meniupnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ammar bin Yasir: “Nabi SAW memukulkan dengan kedua telapak tangannya ke atas tanah setelah itu beliau mengurangi debunya.” di riwayat lain: “setelah itu beliau meniupnya.”(HR. Bukhari).

3. tak mengangkat tangannya dari anggota tayamum hingga selesai membasuh seluruhnya.
4. Melepas cincin di hentakan pertama ke tanah (untuk mengusap muka). Adapun di hentakan kedua (untuk mengusap tangan) maka hukumnya wajib bila Bisa menghalangi debu ke permukaan kulit.
5. tak menghilangkan debu dari anggota tayamum hingga selesai shalat.

e. Pembatal Tayamum
Hal-hal yang membatalkan tayamum ada empat, Yaitu:
1. Semua perbuatan yang membatalkan wudhu.
2. Murtad, di karenakan tayamum dilakukan untuk kebolehan melaksanakan shalat sehingga hal itu tak diperlukan untuk orang yang murtad. Berbeda dengan wudhu dan mandi di karenakan keduanya bertujuan menghilangkan hadas bukan sekedar untuk kebolehan melaksanakan shalat.
3. Menemukan air untuk yang bertayamum di karenakan tak terdapat air. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُ الْمُسْلِمِ، وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشَرَ سِنِيْنَ، فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ خَيْرٌ

“Sesungguhnya debu yang bagus Yaitu alat bersuci untuk seorang muslim meskipun ia tak menemukan air selama sepuluh tahun. bila ia menemukannya maka hendaknya ia menyentuhkannya di kulitnya di karenakan itu lebih bagus baginya.” (HR. Abu Daud).

bila orang Itu menemukan air Seusai selesai melaksanakan shalat maka shalatnya Absah dan tak wajib mengulangnya. Begitu pula, bila ia menemukannya saat sudah masuk di shalat maka ia boleh menyempurnakan shalatnya itu. Tapi bila ia membatalkannya lalu melaksanakan shalat dengan berwudhu maka itu lebih afdhal.
4. Mampu memakai air, seperti orang yang sembuh dari penyakitnya.

f. Orang yang tak Mendapatkan Dua Sarana Bersuci (Air dan Debu)
Orang yang tak mendapatkan air dan debu (faaqid ath-thahuurain) maka hukumnya Yaitu Bagaikan berikut:
1. Ia tetap wajib melaksanakan shalat wajib demi menghormati waktu.
2. bila ia di keadaan junub (hadas besar) maka tak boleh membaca Alquran selain surah al-Fatihah.
3. tak boleh Jadi imam.
4. Wajib mengqadha shalat yang dilakukannya.
bila orang yang tak menemukan air dan debu mendapatkan keduanya atau Disorientasi satunya Seusai selesai melaksanakan shalat, maka:
1. bila mendapatkan air maka ia wajib mengqadha shalatnya, bagus ia mendapatkannya saat masih di di waktu shalat ataupun sesudah keluar waktunya.
2. bila mendapatkan debu, maka:

  • bila sebelum keluar waktu maka ia wajib mengqadha shalatnya.
  • bila Seusai keluar waktu shalat, maka: bila kewajiban mengqadha shalat Bisa gugur dengan tayamum maka ia wajib bertayamum dan mengulangi shalatnya. Ini Yaitu keadaan dimana seseorang bertayamum di tempat yang umumnya tak ada air, seperti di perjalanan. Namun, bila kewajiban mengqadha shalat tak Bisa gugur dengan tayamum maka ia tak wajib bertayamum untuk mengulangi shalatnya di karenakan tak ada guna mengulanginya. Ini Yaitu keadaan dimana seseorang bertayamum di tempat yang di umumnya terdapat air, seperti saat seorang di keadaan mukim.

Kesimpulannya: bila tayamum Bisa menggugurkan kewajiban mengqadha shalat maka wajib baginya bertayamum dan mengulangi shalatnya. Tapi bila tak maka ia tak wajib melakukannya.

g. Mengqadha Shalat untuk Yang Bertayamum

  • Keadaan wajib mengqadha shalat untuk orang yang bertayamum

Orang yang bertayamum wajib mengqadha shalat yang dilakukannya di delapan keadaan, Yaitu:

  1. Orang yang bermaksiat dengan perjalanan yang ia lakukan meskipun ia berada di tempat yang di umumnya tak terdapat air.
  2. Orang yang tak mendapatkan air di tempat yang di umumnya terdapat air, bagus di perjalanan atau tak.
  3. Orang yang lupa akan airnya di tempatnya sendiri.
  4. Orang yang Dehidrasi air di tempatnya sendiri.
  5. Orang yang bertayamum di karenakan cuaca dingin.
  6. Orang yang bertayamum di karenakan sebagian anggota tayamumnya (wajah dan kedua tangan) tertutup sesuatu, seperti perban luka.
  7. Orang yang bertayamum di karenakan Disorientasi satu anggota tubuhnya tertutup sesuatu Padahal anggota Itu masih di keadaan hadas, atau Epilog Itu lebih dari batas yang diperlukan.
  8. Orang yang bertayamum mempunyai najis yang tak dimaafkan sementara ia tak mampu menghilangkan najis Itu.
  • Keadaan tak wajib mengqadha untuk yang bertayamum

Seseorang yang bertayamum tak wajib mengqadha shalatnya di empat belas keadaan, Yaitu:

  1. Orang yang bertayamum di tempat yang di umumnya tak terdapat air.
  2. Air yang ada Yaitu air yang Eksklusif disedekahkan (mâun musabbal) untuk selain bersuci.
  3. tak terdapat alat untuk mengambil air.
  4. Terdapat penghalang dari air, seperti binatang buas atau musuh.
  5. Khawatir meninggal Global, seperti tenggelam di karenakan terjatuh dari Bahtera saat mengambil air.
  6. Orang sakit yang yang khawatir meninggal bila memakai air.
  7. Kekhawatiran terlambat sembuh.
  8. Kekhawatiran bertambah sakit.
  9. Kekhawatiran muncul cela berat di anggota tubuh yang tampak.
  10. Air dibutuhkan untuk minum Fauna yang dihormati.
  11. Air akan dijual untuk kebutuhan atau untuk membayar hutang.
  12. Air dijual lebih mahal dari harga biasa.
  13. tak mampu membeli air.
  14. Memerlukan air untuk kebutuhan atau membayar hutang.

WALLAHU A’LAM

Sumber :http://ahmadghozali.com

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

HUKUM TAYAMUM DAN TATACARANYA

Facebook Comments
Loading...

Incoming search terms:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here