Home Doa Islam Hukum Merekam Video Interaksi Intim Suami-Istri

Hukum Merekam Video Interaksi Intim Suami-Istri

34
0

Website Eksklusif Doa – REKAMAN video intim beredar dimana-mana. Jangankan yang sudah menikah, perzinahan direkam dan tersebar terutama di internet. Berawal Dari dari artis yang setelah itu dipenjara dan dibebaskan dan dielu-elukan bak pahlawan, hingga anggota DPR yang katanya terhormat.

Bagaimana dengan suami-istri menurut Islam? Bolehkah merekam adegan yang sangat pribadi itu?

Masalah ini terus ramai Jadi pembicaraan, sementara bala’ dari perbuatan Itu telah menimpa mereka, Berawal Dari dari anak-anak hingga orang tua.

Islam telah menetapkan bahwa Interaksi badan hanya boleh dilakukan antara seorang laki-laki dengan isteri dan budaknya (lihat QS al-Muminun [24]: 5-7). Selain itu, syara’ juga telah menetapkan batas-batas aurat yang wajib dijaga kecuali di antara mereka. untuk suami-istri, masing-masing diperbolehkan melihat seluruh bagian tubuh pasangannya. Bahz ibn Hakîm telah meriwayatkan dari bapaknya dari kakeknya, kakeknya berkata:

“Aku Sempat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah SAW, manakah bagian aurat kami yang wajib kami tutupi dan mana yang boleh kami biarkan?” lalu Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Jagalah auratmu, kecuali dari istrimu atau hamba sahaya perempuanmu.” (HR Abu Dawud).

Mesikupun demikian, Islam mengharamkan menceritakan aurat pasangannya dan perihal Interaksi badan itu kepada orang lain. di Hadits riwayat Muslim, Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di Hepotenusa Allah di Hari Kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, setelah itu suami menyebarkan rahasia istrinya,” (HR Muslim dari Abi Said al-Khudri).

Keharaman menceritakan Itu termasuk keharaman suami yang mempunyai dua istri atau lebih, yakni Interaksi badan suami-istri dengan istri satu disampaikan kepada istri yang lain.

Berdasarkan nas-nas di atas, maka keharaman hukum menceritakan Itu termasuk keharaman merekam adegan ranjang untuk disebarkan, supaya Bisa ditonton orang lain. Dengan keras Nabi saw. menggambarkan mereka seperti setan:

“Tahukah apa permisalan seperti itu?” setelah itu beliau berkata, “Sesungguhnya permisalan hal Itu Yaitu seperti setan wanita yang bertemu dengan setan laki-laki di suatu gang, setelah itu setan laki-laki Itu menunaikan hajatnya (bersetubuh) dengan setan perempuan, sementara orang-orang melihat kepadanya.” (HR Abu Dawud).

Adapun merekam adegan Interaksi badan seperti itu untuk keperluan sendiri, termasuk perbuatan sia-sia dan tak ada gunanya, yang sebaiknya ditinggalkan:

Loading...

“Asterik dari baiknya keIslaman seseorang Yaitu meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat baginya.” (Hr Ibn Majah).

Lebih dari itu, bila hasil rekaman Itu lalu disimpan, maka Bisa Jadi wasilah yang mengantarkan kepada perbuatan haram. Sebab, siapa yang Bisa menjamin rekaman itu tak jatuh kepada orang lain? di hal ini, Bisa diterapkan kaidah syara’:

“Sarana yang Bisa mengantarkan kepada keharaman, maka hukumnya jelas-jelas diharamkan.”

Adapun hukum memberitakan dan memperbincangkan peristiwa seperti ini juga diharamkan, di karenakan termasuk menyebarkan perbuatan maksiat. Nabi SAW dengan tegas menyatakan:

Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang menampak-nampakkannya dan sesungguhnya di antara bentuk menampak-nampakkan (dosa) Yaitu seorang hamba yang menjalankan perbuatan di waktu malam, sementara Allah telah menutupinya, setelah itu di waktu pagi dia berkata, “Wahai fulan, semalam aku telah menjalankan ini dan itu.” Padahal di malam harinya (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya. Ia pun bermalam di keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh Allah (Muttafaq ‘alayh).

di karenakan itu, hendaknya seorang Muslim menjaga lisannya dari membicarakan perbuatan maksiat orang-orang seperti mereka (mujahirin), bukan untuk menutup aib mereka, akan tetapi supaya tak terlibat di menyebarkan perbuatan keji maksiat mereka di tengah-tengah orang Mukmin. Juga termasuk menjaga lisan dan pikiran dari perkara-perkara yang sia-sia, kecuali untuk jelaskan hukumnya, supaya umat tak menjalankan kemaksiatan serupa.

di karenakan seluruh perbuatan di atas diharamkan, maka men-download, mengkopi dan menyebarkannya–meski yang disebarkan Yaitu madaniyyah (produk materi/bukan pemikiran), akan tetapi di karenakan madaniyyah ini terkait dengan hadharah kapitalis , dan isinya diharamkan oleh Islam–jelas hukumnya haram. Wallâhu a’lam. (sumber: Islampost)

Hukum Merekam Video Interaksi Intim Suami-Istri

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here