Home Ceramah Islam Terbaru Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid – Wali keramat Pulang Panggang

Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid – Wali keramat Pulang Panggang

216
0

 

Disebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu diantaranya Yaitu Pulau Panggang, sekitar 60 km disebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu Bisa dicapai di waktu Anemia lebih tiga jam dengan Bahtera motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.
Disanalah Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid, yang juga dikenal Bagaikan Wali keramat Pulang Panggang. Ia Yaitu ulama dan muballigh asal Hadramaut yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulang Panggang dan sekitarnya. di abad ke-18 ia bertandang ke Jawa untuk berda’wah bersama dengan empat kawannya :
  1. Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-athas, Kramat Empang Bogor.
  2. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Bondowoso, Surabaya.
  3. Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya.
  4. Al-Habib Salim Al-Athas, Malaysia. 
Al-Maghfurlah Habib Ali ke Batavia, sementara keempat kawannya masing-masing menyebar ke kota-kota dan negeri diatas. Al-Maghfurlah berda’wah dari Pulau Seribu hingga dengan Wilayah Pulau Sumatera Yaitu Palembang.
Di Batavia , Almaghfurlah Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan Syarifah setempat, Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi. Dari Perkawinannya itu dikaruniai seorang putera bernama Hasyim bin Ali Aidid.
Suatu hari Almaghfurlah mendengar kabar, disebelah utara Jakarta ada suatu pulau yang rawan perampokan dan jauh dari da’wah Islam, Yaitu Pulau Panggang. Beberapa waktu setelah itu ia memutuskan untuk mengunjungi pulau Itu. 
Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa dimaklumi bila da’wahnya mudah diterima oleh warga Pulau Panggang dan sekitarnya. Ia mengajar dan berda’wah hingga kepelosok pulau. Bahkan hingga ke Palembang, Singapura dan Malaka.
Karomah lainnya, suatu malam, usai berda’wah di Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah Bahari, perahunya dihadang gerombolan perompak. Tapi, dengan tenang Almaghfurlah Habib Ali melemparkan sepotong Ebonit kecil ke tengah Bahari. Ajaib, Ebonit itu berubah Jadi karang, dan Bahtera-Bahtera perompak itu tersangkut di karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Almaghfurlah Habib Ali dan rombongan selamat hingga di rumahnya di Pulau Panggang.
Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan suatu kapal Belanda, konon untuk dieksekusi. Beberapa Bahtera kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Almaghfurlah Habib Ali menangis, lantas berdo’a supaya seluruh penduduk Pulau Panggang diselamatkan . Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik Bahtera berisi penduduk itu tiba-tiba Frustasi, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.
Suatu malam, ia mendapat isyarat sebentar lagi ia akan wafat. saat itu sebenarnya ia ingin ke Palembang, namun dibatalkan. Dan kepada santrinya ia menyatakan, “ saya tak Jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan, keesokan harinya, 20 Zulkaidah 1312 H./1892 M. ia wafat, dan dimakamkan di suatu kawasan di ujung timur Pulau Panggang.
Sesungguhnya, Jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk diketemukan Istri dan anaknya serta dimakamkan disana. Namun, saat jenazah sudah berada di atas Bahtera yang sudah berlayar beberapa di, tiba-tiba tiang layar Bahtera patah dan Bahtera terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. Hal ini terjadi berturut-turut hingga tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknai peristiwa itu Bagaikan kehendak almarhum di makamkan di Pulau Itu. Keesokan harinya Seusai Almaghfurlah Habib Ali dimakamkan, beberapa orang dari penduduk Pulau Panggang memberi khabar kepada istrinya Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi, istrinya menjawab “ Yah, saya sudah tahu, Habib Ali tadi telah datang memberi kabar kepada saya mengenai meninggalnya dia dan dimakamkan di Pulau Panggang “.
Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid Yaitu seorang ulama yang langka, yang berani merintis da’wah di kawasan terpencil, dan sukses. Demikianlah sekilas dari riwayat Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid.


Loading...
Al Imam Al Alamah Al Arifbillah Husein bin Abdullah bin Hasan bin Ahmad bin Abu bakar Aidid mempunyai keberkahan yang melimpah, keadaannya mastur (tersembunyi), jiwanya Higienis, di perjalanan hidupnya beliau meninggalkan kenangan yang indah dan beliau seorang yang sangat tinggi derajatnya dengan akhlak yang bagus, lembut pergaulannya, mempunyai cahaya batin dan dzahir, Beliau mempunyai Interaksi yang sangat kuat dengan Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi.
Kelahiran, kehidupan dan pendidikannya—
Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid, dilahirkan di kota Ghurof di tahun 1308 H.
Tatkala umurnya memcapai 9 tahun, beliau pergi ke tarim bersama ibunya mengunjungi rumah pamannya, Habib Muhammad bin Hasan bin Ahmad Aidid seorang yang mulia, yang mempunyai ilmu sangat luas untuk mengajarkan kepada Habib Husein bin Abdullah Aidid dan tinggal bersamanya selama beberapa tahun. setelah itu ibunya meminta ijin kepada paman Habib Husein Yaitu Habib Muhammad bin Hasan Aidid untuk membawa putranya ke Kota Sewun untuk menuntut ilmu Kepada Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dan tinggal di Rubatnya yang mana di di itu telah banyak yang datang penuntut ilmu dari penjuru kota dan pamannya merestui, maka jadilah Habib Husein bin Abdullah Aidid Bagaikan pelajar di Rubat Itu.
Sebagaimana diketahui, bahwa Rubat, Masjid, dan rumah Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi merupakan tempat tinggal para penuntut ilmu dan ulama. Beliau membagikan perhatian dan Afeksi sayang kepada Habib Husein Aidid seperti pelajar yang lain.
Seusai Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi wafat (Tahun 1333 H), saudara dari ibu Habib Husein bin Abdullah Aidid menginginkan Habib Husein Aidid untuk tinggal di Kota Madudah dan Habib Husein menyetujuinya, maka di tahun 1333 H. Beliau Pergi dari Kota Sewun Ke Kota Madudah dan membangun Masjid serta rumah di tempat Itu. setelah itu Mengakses Majelis Ta`lim di hari Senin untuk Generik, di malam Jumat mengadakan Maulid, dan di malam Kamis hadroh dengan dihadiri banyak orang. Kota Madudah Jadi manfaat atas kehadirannya.
Al-Habib Mustofa Al Muhdor di penulisan mengenai diri Habib Husein Menyebut bahwa banyak orang yang mendapat petunjuk darinya dan sebagian ada yang mendapat kerugian di karenakan tak mengikutinya.
Tahun 1360 H, Habib Husein Berpindah ke Kota Sewun, dikarenakan terjadinya pertentangan antara dua kelompok di kota Madudah. Habib Husein di di itu berusaha menengahi pertentangan Itu dan berusaha mempersatukan diantara mereka, akan akan tetapi mereka menolaknya sehingga terjadi pertumpahan darah, Seusai terjadi pertumpahan darah diantara dua kelompok Itu, mereka sadar, akhirnya mereka mengikuti apa yang telah dianjurkan oleh Habib Husein.
Al-Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid Berpindah Ke Sewun Seusai mendapat isyarat dari Mufti Hadramaut Habib Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf, Begitu juga Habib Mustofa Al Muhdor Menyebut kepadanya melalui orang-orang yang mencintainya, bahwa Habib Husein Lebih bagus keluar dari kota Madudah. setelah itu Habib Husein tinggal disebelah barat kota Sewun dan membangun Masjid kecil serta rumah.
Pembacaan Maulid yang biasa diadakan Habib Husein di kota Madudah setiap hari Kamis kedua tiap bulan Rajab dipindakan ke kota Sewun dengan dihadiri banyak orang, para ulama, dan orang-orang ahli kebaikan hingga sepanjang hidupnya, setelah itu Seusai Habib Husein Wafat diteruskan oleh anaknya.
Al-Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid beberapa kali bepergian ke kota Mekah, Madinah, Yaman. Beliau pergi ibadah Haji sebanyak 14 kali dan membangun beberapa Masjid di perjalanannya.
Wafat—
Al-Habib Husein bin Abdullah bin Hasan Aidid terkena sakit yang ringan sebelum wafatnya di tahun 1379 H di Wadi Aidid. Jenazah beliau dishalatkan di Masjidnya dan di Imami oleh Habib Muhammad bin Hadi Assegaf yang dihadiri oleh banyak Orang.

Kitab Yang Di Karang—
1. Wasoya – 1Jilid
2. As`ilah `Ilmiyah
3. Kalam Mantsur – 2 jilid
4. Diwa’an Syi’ir Jamini
5. Enam kitab Maulid Nabi Muhammad SAW, satu berbentuk pantun, syair, dua berbentuk prosa, tiga lagi masih berupa tulisan tangan (Kitab rawi maulidnya yang dicetak oleh Himpunan Keluarga Maula Aidid Yaitu Al`ithhrul afkhori Fii Dzikril Habibi Akbar dan Asshifatul Muhammaddiyah)
6. Doa dan Wirid Wirid
7. Khutbah Mimbariyah
8. Shalawat atas Nabi, yang berjudul Assholat Alfaidiyah Fissholat `Ala Khoiril Bariyyah
 
abdkadiralhamid@2016
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid – Wali keramat Pulang Panggang

Facebook Comments
Loading...

Incoming search terms:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here