Home Ceramah Islam Terbaru GURU TUA" AL HABIB IDRUS BIN SALIM AL JUFRIE MAULA PALU SELAMATKAN...

GURU TUA" AL HABIB IDRUS BIN SALIM AL JUFRIE MAULA PALU SELAMATKAN KAMI DARI PEROMPAK FILIPINA

24
0

KEKARAMAHAN Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua) bukan sekadar Imbasan jempol belaka. Banyak mereka yang sudah mengalaminya, bagus yang Hayati menyaksikan langsung sosok sang guru, ataupun mereka yang sudah tak bertemu raga dengannya. Pengalaman itu dirasakan oleh para pelaut Indonesia, yang diceritakan langsung oleh seorang mantan Kapten Kapal, H. Anis H. Ali Hubaib kepada wartawan Media Alkhairaat, Nurdiansyah.

Berikut penuturannya di ditemui di kediamannya, di Desa Kalukubula, Jumat (15/7):
“Sekira tahun 1992, saya melabuhkan kapal di Palu di pelayaran hendak ke Moutong. Di Palu saya singgah menemui kedua orang tua saya, yang kebetulan ayah saya Yaitu seorang tokoh agama di Desa Kalukubula, H Ali Hubaib (kakak dari Syakir Hubaib). Seusai bersua beberapa hari dengan ayah yang sering saya sapa “Aba” . Aba saya bertanya, “Apakah di kapalmu� terdapat foto Guru Tua?”.
Saya yang lama Hayati dan bersekolah di sekolah Kristen Manado ini menjawabnya, “Saya tak Sempat punya.”
Mendengar itu, Aba� pun mengantarkan sekaligus melepaskan saya berlayar. Aba lalu masuk ke kapal memasang kalender Guru Tua di kamar saya, tepat di bawah cermin, berhadapan dengan pintu masuk kamar kapten.
Tiga tahun berselang, sekira tahun 1995,� Saya bersama anak buah saya berlayar dari Surabaya ke Sandakan. saat pergi ke Sandakan, tak ada hambatan Serupa sekali. Namun saat pulang di jalur masuk perbatasan Malaysia Filipina terjadi sesuatu yang tak terduga.
Sekitar Subuh, di cahaya Berawal Dari terang anak buah saya melaporkan ada kapal penjual ikan mendekat. Di depannya ada seorang wanita yang mengangkat-angkat ikan. Saya pun menarik hendel memelankan kapal dan naik ke atas kapal melihat penjual ikan itu. Tapi saya heran, kapal ikan ini� kok kapalnya� bagus.
Seusai saya hingga di atas, perempuan tadi sudah tak ada, berganti dengan tiga orang pria tua yang Dinamis Genjah naik ke atas. Mereka Yaitu perompak. Disorientasi seorang dari perompak itu mendongkan senjata laras panjang ke leher saya.
Perompak Filipina memang dikenal sangat kejam. di karenakan di Asia perompak kejam itu di selat Malaka dan Selat Bangka di karenakan jalur itu dilalui banyak negara. Kita semua selalu diwanti-wanti apabila lewat jalur perbatasan Filipina wajib Menghentikan lampu, tapi apa gunanya Menghentikan lampu, sebab alat komunikasi di Bahari Yaitu memakai radar. Jarak 40 KM sudah terbaca oleh masing-masing kapal. Mereka datang dengan senjata lengkap, apabila kita melawan mereka tak segan membunuh kita.
Seusai mereka bertanya siapa nakhoda, sayapun mengaku, saya diperintahkan dengan bahasa Melayu terbata-bata untuk� membagikan komando supaya semua anak buah saya diam di tempat dan tak ada yang Dinamis. Saya menyerah, di karenakan keadaan memang sangat genting dan sulit untuk melawan walaupun perompak ini� berusia lanjut. Apalagi di kapal perompak yang jaraknya kira-kira 50 meter seorang anggota mereka berdiri mengarahkan basoka rudal ke kapal kami.
Dua orang perompak lainnya merusak semua alat komunikasi dengan clurit dan pisau komando. Menunjukkan bahwa para perompak ini memang sangat professional.� Lalu setelah itu para perompak menyuruh semua anak buah kami mengangkut semua barang termasuk barang elektronik, kulkas, televisi bahkan lampu kapal.
Di di perompak turun ke bawah terdengar suara gaduh. Seperti suara pukulan dan teriakan.� Rupanya mualim satu saya bernama Marten dipaksa untuk Mengakses kamar saya. Namun Marten kukuh tak mau Mengakses sebab itu Yaitu kamar kapten. Dia bilang, “Ini kamar kapten, saya tak berani!”
Akhirnya dia dihajar hingga babak belur oleh perompak. Lalu para perompak ini memaksa masuk dengan menendang pintu itu. Tapi apa yang terjadi, terdengar kembali suara ribut-ribut di bawah, seperti sedang terjadi perdebatan antara mereka.
di ditodong, perompak di bawah membagikan isyarat kepada penodong kami untuk turun. Saya mendengar mereka berdebat, tapi tiba-tiba aja mereka pergi menyelesaikan aksi mereka dan kabur ketakutan. Seusai perompak� pergi� saya langsung memerintah kru saya mengecek ke sekeliling kapal dan melihat kembali apakah perompak itu masih ada. Seusai aman saya menyuruh mereka semua berkumpul di atas. di semua berkumpul, ternyata satu orang tak naik ke kapal Yaitu Marten. Rupanya Marten masih ada di bawah tepat terduduk lemas di depan pintu kamar saya.
Saya lalu turun melihat Marten, saya dapati dia sedang bersedih. setelah itu saya tenangkan dia saya berikan minum. Dia tak mau beranjak, dia hanya menangis, menatap ke saya lalu menatap ke kamar. Begitu seterusnya. Dia bilang “Kap, boleh saya masuk ke kamar?”
di karenakan dia sudah dipukuli, saya izinkan dia masuk ke kamar dengan kondisi yang masih bersedih. Lalu saya tinggalkan dia sendiri di sana. Lama saya tinggalkan, saya masuk kamar lagi. Saya tanya kenapa dia bersedih, dia mengaku tak apa-apa.
Marten bertanya lagi kepada saya, “Maaf, Kap yang di foto di kalender ini siapa?”.� Saya jawab, ‘Ini foto ulama di Palu.”
“Orangnya di mana?” tanyanya lagi.”Beliau sudah lama meninggal,” jawab saya.
Dia bilang lagi, “boleh saya minta”. Saya tertawa, saya heran dan katakan ke Marten “Apa urusannya? kita bukan muslim, ini tokoh agama kami.”
Tanpa alasan dia mendesak meminta foto itu. di karenakan kasihan melihat dan terus melihat dia memelas, saya pun� memberikannya. Saya Mengakses lakban foto itu. Tak lama setelah itu Marten� akhirnya mengaku. Ia melihat hal yang aneh dengan foto itu.� Sebelum dia menceritakan itu, dia kembali menangis. di karenakan rasa iba, saya memberi� kesempatan dia menangis. Lalu dia Mengakses cerita, “Kapten tau tak kenapa kita bebas?”
“Kenapa?” tanya saya.
“Tadi mereka berdebat begitu Mengakses pintu kamar itu. Mereka bilang mereka Disorientasi naik kapal, di karenakan mereka bilang orang di foto ini panglima perang mereka,” ungkap Marten.
Mendengar itu saya marah, sebab tokoh itu Yaitu ulama Islam bukan dari agama para perompak tadi, apalagi disebut panglima perang mereka� Padahal beliau bukan seorang militer. Lebih-lebih lagi beliau sudah lama meninggal Global. Tapi Marten juga berkeras dia yakin isi perdebatan para perompak memang seperti itu di karenakan dia tahu bahasa Tagalog (bahasa Filipina), sebab dia Sempat lama bekerja di Filipina. Tak mau berdebat, saya pun tetap membagikan foto itu kepada Marten.
Tiba di Surabaya, Marten turun dan meminta izin tak lagi bersama para kru, dia ingin mengikuti keluarganya dan sekolah di Surabaya. Saya mengizinkannya dan berpikir ada baiknya Marten sekolah pelayaran di Surabaya dengan begitu dia pasti Jadi nahkoda.
MARTEN DITUNJUKKAN KARAMAH, Jadi MUALAF.
Sekitar dua tahun setelah itu Marten rupanya sudah Jadi nahkoda. Hal itu saya ketahui di mengikuti kegiatan di pelabuhan Tanjung Priok.� di itu hari Jumat. Selesai shalat Jumat di masjid, saya bersama rekan-rekan bercengkerama di beranda masjid.
Dan rupanya, Marten menghampiri kami dan menyapa saya. di karenakan lama tak berjumpa, apalagi dia teman saya di SMA, kami lalu berpelukan. Tapi tiba-tiba saya tersadar, bahwa pertemuan kami ini di masjid. Saya memandang heran ke Marten, sementara Marten hanya tersenyum.
“Kenapa Kap, kapten heran? Saya tahu di pikiran kapten,” tanya Marten dengan tersenyum.
Marten membisikan kepada saya, dia dan keluarganya sudah masuk Islam. Saya membawa Marten ke sudut masjid membicarakan perubahan apa yang terjadi padanya. Sesampainya di sudut, dia menceritakan kenapa masuk Islam. Rupanya foto kalender yang diberikan di kejadian itulah yang Jadi wasilah baginya masuk Islam.
Marten mengisahkan, di foto itu dibawanya ke rumah, ia menceritakan kejadian perompakan itu kepada istrinya. Percaya akan kejadian ini keluarga itu sepakat memesan foto Guru Tua dari Palu. Foto Guru Tua pun mereka gantung di rumah mereka meskipun mereka beragama Nasrani.
Serupa dengan saya, dia memasang foto kalender yang saya berikan itu di kamar berhadapan dengan pintu masuk ke kamarnya.
di Marten berlayar, telah Jadi Nahkoda, dia menemui kejadian yang hampir serupa dengan peristiwa perompakan silam. di itu Kapal yang dipimpin Marten dicurigai oleh� pihak aparat Kastam Singapura. Kapal digeledah di karenakan dicurigai membawa narkoba. Itupun hanya sebab seorang kru kapal didapati merokok di luar ambang batas sesuai peraturan Kastam di Singapura.��
di karenakan tak menemukan barang bukti apapun, aparat Kastam melibatkan dua anjing pelacak masuk ke kapal. Sesampainya di kamar, di pintu dibuka oleh Marten tiba-tiba anjing pelacak tak mau masuk ke kamarnya. Bahkan sekalipun dipaksa anjing itu tetap tampak ketakutan. Ekornya hingga-hingga-hingga masuk ke di selangkangannya. Polisi pun heran dan bertanya siapa orang yang di foto itu, lalu setelah itu di jelaskan oleh Marten sebagaimana keterangan saya tempo lalu. Martin bertambah takjub.
di menceritakan Marten mengulang-ulang, “Ngana dapa itu, so itu ngana!” sambil tertawa.
saat pulang Marten menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Rupa-rupanya istri dan anak-anaknya mendapatkan kejadian yang tak kalah aneh di di rumah. Mereka Serupa-Serupa bermimpi, sosok yang di foto itu selalu datang ke mereka� membawa air minum segar kepada Marten.
Dari kejadian itu mereka sekeluarga masuk Islam di Disorientasi satu masjid di Jakarta dan mengubah namanya Jadi Malik. di mengislamkan mereka, rupanya imamnya juga tahu mengenai keulamaan Guru Tua.��
di ini Marten sudah meninggal Global.
Saya tak Bisa menalar dengan cara logika mengenai foto Guru Tua. Pengalaman dirompak non muslim, namun mereka mengaku bahwa itu Yaitu panglima mereka, lalu anjing yang ketakutan, setelah itu mimpi keluarganya.
di karenakan itu saya tak lepas dari foto Guru Tua.� Saya ini di Manado bersekolah Kristen, ayah saya di Palu Abnaulkhairaat.� Aba menanamkan betul ke kita mengenai kealkhairaatan. Saya Sempat bertanya untuk apa foto ditaruh di situ (di kapal). Tapi itulah pesan dari orang tua, kita terima dan rasakan di belakang hari.
Saya Sempat kerja di Samarinda, saya Jadi Komandan kapal-kapal, saya komando mereka semua supaya menaruh foto itu di kapal mereka.
Saya� cuma mendengar sekilas ada banyak kejadian yang dialami kru kapal-kapal itu. Ada yang tadinya pemabuk, lalu di di kondisi yang setengah sadar ditampar oleh orang berbadan besar. Ada yang membangunkan shalat subuh. Tapi saya tak dengar langsung dari mereka hanya dengar.

Loading...

Wallahu’alam.”

abdkadiralhamid@2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

GURU TUA" AL HABIB IDRUS BIN SALIM AL JUFRIE MAULA PALU SELAMATKAN KAMI DARI PEROMPAK FILIPINA

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here