Home Berita Islam Terbaru Gemuruh Takbir Menggema di DPR, di Politikus PKS Ini Sampaikan Aspirasi Terkait...

Gemuruh Takbir Menggema di DPR, di Politikus PKS Ini Sampaikan Aspirasi Terkait Al-Maidah 51

37
0
Gemuruh Takbir Menggema di DPR, di Politikus PKS Ini Sampaikan Aspirasi Terkait Al-Maidah 51

Berita Islam 24H – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzammil Yusuf mengajukan interupsi sebelum rapat paripurna yang membahas mengenai Perjanjian Paris atas Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai perubahan iklim. Muzammil menyampaikan soal pernyataan Gubernur DKI Jakarta soal Al Maidah ayat 51.
“Saya hanya ingin menyampaikan satu hal yang Jadi Copyright saya Bagaikan dewan. Saya ingin menyampaikan soal suara seseorang mengenai makna toleransi,” ujar Muzammil di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, seperti dilansir detik, Rabu (19/10/2016).
Muzammil ternyata menyampaikan soal kegelisahan umat Islam terkait pernyataan Ahok terkait Al Maidah ayat 51. Ia menceritakan pengalaman seseorang mengenai betapa tingginya makna toleransi.
“Saya ingatkan kepada Presiden, Kapolri, negara kita negara hukum, hormati hukum. Pernyataan kami Seandainya ada anggota mari didukung, kita hanya tuntut jalur hukum. Sehingga tak wajib ditakutkan seperti apa yang dikatakan Hendropriyono. Tak wajib. di karenakan kita tak ingin onar. Kita hanya menjalankan Pancasila. Saya ajak takbir. Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar walillahilham,” ungkap Muzammil yang diiringi gema suara takbir.
Berikut surat lengkap yang disampaikan Al Muzammil di rapat paripurna hari ini:
………………………………………………………………………
THE HIGHEST RESULT OF TOLERANCE will be RESPECT as well as also SOCIAL RELATIONS
Oleh dr. Gamal Albinsaid
Bismillahirrahmanirrahim…
Dua hari lalu, sebelum saya menerima penghargaan Empowering people Award dari Siemens di Jerman, Disorientasi seorang panitia mendatangi saya untuk menanyakan tips bersalaman di atas Anjung di karenakan pimpinan mereka Yaitu seorang wanita. Mereka menghormati saat tahu saya tak bersalaman dengan wanita di karenakan tak ingin bersentuhan dengan yang bukan muhrim saya. Saya cukup menempelkan kedua tangan saya, lalu menyapa mereka tanpa menyentuh tangannya. Mereka mengatur itu di atas Anjung supaya saya merasakan kenyamanan. Itulah toleransi.
Di perjalanan ke Inggris untuk kunjungan ke 15 perusahaan, Sempat saya menaiki pesawat yang tak menyediakan Boga halal. Seusai saya sampaikan kepada mereka saya hanya Bisa makan Boga halal, mereka Menelusuri suatu mie instan yang mempunyai label halal untuk saya. Itulah toleransi.
saat saya wajib presentasi di California University yang bersamaan di Salat Jumat, saya minta panitia menggeser jam presentasi kami, di karenakan saya ingin melaksanakan Salat Jum’at di sana. Mereka mengijinkan menggeser waktu presentasi saya. Itulah toleransi.
saat makan malam dengan pangeran Charles di Istana Buckingham, mereka mengatur supaya saya mendapatkan Boga untuk vegetarian supaya saya merasa nyaman. Itulah toleransi.
Di berbagai pengalaman itu, saya merasakan dan menyimpulkan bahwa bentuk toleransi Yaitu hormat. untuk saya “The highest result of tolerance will be respect as well as also social relations”, toleransi itu Yaitu bentuk penghormatan kita di Disparitas yang ada. Berawal Dari dari hal yang kecil seperti Boga, tips berpakaian, tips beraktivitas, hingga hal yang besar soal agama, kitab suci, dan prinsip Ketuhanan.
UNESCO di publikasinya “Tolerance: The Threshold of Peace”
Menyatakan social relations Yaitu Disorientasi satu indikator dari suksesnya toleransi di suatu masyarakat. Oleh karenanya hasil dari toleransi Yaitu kenyamanan individu dan keharmonisan sosial.
Mau tak mau, pemimpin berperan besar di menjaga, membangun, dan menciptakan toleransi yang bagus. tak boleh pemimpin itu masuk atau membagikan komentar terhadap agama, kitab suci, prinsip Ketuhanan, dan tips beribadah suatu agama.
Peran pemimpin itu penting sekali di toleransi yang kita bangun. Kita rindu pemimpin yang mampu menyejukkan Disparitas kita di kesantunan, menciptakan keharmonisan di antara Disparitas dengan sikap saling menghormati di cinta Afeksi. Bukan pemimpin yang tak mempedulikan Disparitas yang ada, menciptakan ketegangan dengan menghina agama, melecehkan kitab, membatasi tips beribadah. Seorang pemimpin wajib menghormati agama yang berbeda dengan tak menilai atau mengomentari agama, tak mengomentari kitab suci, dan tak mengomentari tips beribadah. Lalu bagaimana keharmonisan Bisa hadir bila pernyataan mengarah di pelecehan atau penghinaan di kitab suci dan isi kitab suci?
Teruntuk Pak Ahok, before you say something, stop as well as also think how you’d feel if someone said of which to you. Sungguh menyakitkan bila kalian merasakan bagaimana yang kami rasakan Bagaikan umat Islam, kitab yang kami baca tiap hari, kami jadikan pegangan Hayati, kami hafalkan, kami baca di banyak orang tidur, kami pelajari bertahun-tahun, lalu dengan mudahnya kalian sebut Bagaikan alat menjalankan kebohongan. Apakah Pak Ahok Sempat menempuh jurusan tafsir hingga merasa berhak menafsirkan Alquran seenaknya? Pak Ahok, jangan hina kitab suci saya hanya untuk kepentingan politik kalian! tak ada sedikitpun kebohongan di Alquran! Hormati Alquran kami!
“Don’t get so tolerant of which you tolerate intolerance”(Bill Maher).
Kita tak boleh mentoleransi suatu keintoleransian.
Jangan Disorientasi mengartikan toleransi, “Tolerance does not mean tolerating intolerance”.
Saya sebenarnya tak suka menuliskan atau membagikan tanggapan soal permasalahan politik, tapi nasehat Ayaan Hirsi Ali bahwa “Tolerance of intolerance will be cowardice (mentoleransi suatu intoleransi Yaitu sikap pengecut)” cukup memantapkan hati saya untuk tak diam.
Gagasan toleransi Ayaah Hirsi Ali itu Serupa dengan apa yang dikatakan Haji Abdul malik Karim Amrullah atau yang biasa kita kenal dengan Buya Hamka, “bila agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam aja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu…. bila ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, Yaitu kain kafan. Sebab Dehidrasi ghiroh Serupa dengan mati…..”,
Ya, bila diam di agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan. Itu bila diam.
Lalu bagaimana “bila membela orang yang menghina agamamu?” Guntur Romli dan Nusron Wahid mungkin Bisa membantu saya menjawabnya.
10 Oktober 2016
[ceramahterbaru.net / imi]
Loading...

Gemuruh Takbir Menggema di DPR, di Politikus PKS Ini Sampaikan Aspirasi Terkait Al-Maidah 51

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here