Home Doa Islam Doa Nabi Yunus di Perut Ikan Paus

Doa Nabi Yunus di Perut Ikan Paus

42
0

doa nabi yunus, ikan paus, ikan nun, kisah nabi yunus
Doa dan Kisah Nabi Yunus
Nabi Yunus Yaitu seorang Nabi yang mulia yang diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya. Beliau menasihati mereka dan membimbing mereka ke jalan kebenaran dan kebaikan; beliau mengingatkan mereka akan kedahsyatan hari kiamat dan menakut-nakuti mereka dengan neraka dan mengiming-imingi mereka dengan surga; beliau memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mengajak mereka hanya menyembah kepada Allah SWT. Berikut doa Nabi Yunus yang diabadikan di Al Quran Surah Al Anbiya ayat 87.
Doa Nabi Yunus di Perut Ikan Nun

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ ، سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
 Laa ilaaha illa anta. Subhaanaka, innii kuntu minaz zhaalimiin

“Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada menjalankan aniaya, tolongkanlah daku)! Sesungguhnya aku Yaitu dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.(QS Al-Anbiya’ : 87).

Elaborasi Doa Nabi Yunus

Nabi Yunus senantiasa menasihati kaumnya namun tak ada seorang pun yang beriman di antara mereka. Datanglah suatu hari kepada Nabi Yunus di mana beliau merasakan keputusasaan dari kaumnya. Hatinya dipenuhi dengan perasaan marah di mereka namun mereka tak beriman. setelah itu beliau keluar di keadaan marah dan menetapkan untuk meninggalkan mereka. Allah SWT menceritakan hal itu di firman-Nya:

Loading...
doa nabi yunus, perut ikan, ikan paus, al anbiya 87
Doa Nabi Yunus di Quran Surah Al Anbiya ayat 87

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), saat ia pergi di keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru di keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim.'” (QS. al-Anbiya’: 87).

tak ada seorang pun yang mengetahui gejolak perasaan di diri Nabi Yunus selain Allah SWT. Nabi Yunus tampak terpukul dan marah di kaumnya. di keadaan demikian, beliau meninggalkan kaumnya. Beliau pergi ke tepi Bahari dan menaiki Bahtera yang Bisa memindahkannya ke tempat yang lain. Allah SWT belum mengeluarkan keputusan-Nya untuk meninggalkan kaumnya atau bersikap Frustasi asa dari kaumnya. Yunus mengira bahwa Allah SWT tak mungkin menurunkan hukuman kepadanya di karenakan ia meninggalkan kaumnya. di itu Nabi Yunus seakan-akan lupa bahwa seorang nabi diperintah hanya untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Namun keberhasilan atau tak keberhasilan dakwah tak Jadi tanggungjawabnya. Jadi, tugasnya hanya berdakwah di jalan Allah SWT dan menyerahkan sepenuhnya masalah keberhasilan atau ketidakberhasilannya terhadap Allah SWT semata.

Terdapat Bahtera yang berlabuh di pelabuhan kecil. di itu matahari tampak akan tenggelam. Ombak memukul tepi pantai dan memecahkan batu-batuan. Nabi Yunus melihat ikan kecil sedang berusaha untuk melawan ombak namun ia tak mengetahui apa yang dilakukan. Tiba-tiba datanglah ombak besar yang memukul ikan itu dan menyebabkan ikan itu berbenturan dengan batu. Melihat kejadian ini, Nabi Yunus merasakan kesedihan. Nabi Yunus berkata di dirinya: “Seandainya ikan itu bersama ikan yang besar barangkali ia akan selamat. setelah itu Nabi Yunus mengingat-ingat kembali keadaannya dan bagaimana beliau meninggalkan kaumnya. Akhirnya, kemarahan dan kesedihan beliau bertambah.

Nabi Yunus pun menaiki Bahtera di keadaan guncang jiwanya. Beliau tak mengetahui bahwa beliau lari dari ketentuan Allah SWT Futuristis ketentuan Allah SWT yang lain; beliau tak membawa Boga dan juga kantong yang berisi bawaan atau perbekalan, dan tak ada seorang pun dari teman-temannya yang menemaninya; beliau benar-benar sendirian; beliau melangkahkan kakinya di atas permukaan Bahtera.

Si nahkoda Bahtera bertanya kepadanya: “Apa yang engkau inginkan?” Mendengar pertanyaan itu, Nabi Yunus pun bangkit: “Saya ingin untuk bepergian dengan Bahtera-Bahtera kalian. Apakah kita berlayar di waktu yang lama?” Nabi Yunus menampakkan suara yang penuh kemarahan, rasa takut, dan kegelisahan. Nahkoda itu berkata sambil mengangkat kepalanya: “Kita akan berlayar meskipun air tampak sedang pasang.” Nabi Yunus berkata dengan mencoba sabar dan menyembunyikan kegelisahannya: “Tidakkah engkau mendahului supaya jangan hingga pasang itu terjadi wahai tuanku?” Si nahkoda berkata: “Bahari kita biasanya terkena pasang, maka ia akan Genjah mereda saat melihat seorang musafir yang mulia.” Yunus bertanya: “Aku akan pergi bersama kalian dan berapa ongkos perjalanan?” Si nahkoda menjawab: “Kami tak menerima ongkos selain emas.” Yunus berkata: “tak Jadi masalah.”

Nahkoda itu memperhatikan Nabi Yunus. Ia Yaitu seorang yang berpengalaman di mana ia sering mondar-mandir dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Seringnya ia mengunjungi suatu tempat ke tempat yang lain menjadikannya seorang lelaki yang mampu menangkap perasaan manusia. Nahkoda itu merasakan dan mengetahui bahwa Nabi Yunus lari dari sesuatu. Nahkoda itu membayangkan bahwa Nabi Yunus menjalankan suatu kesalahan akan tetapi ia tak berani untuk mengungkapkan kesalahan kepada pelakunya kecuali bila pelakunya seorang yang bangkrut. Ia meminta kepada Nabi Yunus untuk membayar ongkos sebanyak tiga kali lipat dari vang biasa dibayar musafir. Nabi Yunus di itu merasakan kesempitan di dadanya dan diliputi dengan kemarahan yang keras dan keinginan kuat untuk meninggalkan negerinya sehingga ia pun membagikan apa yang diminta oleh si nahkoda.

Nahkoda itu memperhatikan kepingan-kepingan emas yang ada di tangannya dan ia menggigit sebagaiannya dengan giginya. Barangkali ia akan menemukan potongan emas yang palsu namun ia tak menemukannya. Nabi Yunus hanya berdiri menyaksikan semua itu sementara dadanya tampak terombang-ambing: terkadang naik dan terkadang turun laksana ayunan. Nabi Yunus berkata: “Tuanku tentukan bagiku kamarku. Aku tampak letih dan ingin istirahat sebentar.” Si nahkoda berkata: “Memang itu tampak di raut wajahmu. Itu kamarmu,” sambil ia menunjuk dengan tangannya. setelah itu Nabi Yunus membaringkan diri di atas kasur dan beliau berusaha untuk tidur akan tetapi usahanya itu sia-sia. Yaitu gambar ikan kecil yang hancur berbenturan dengan batu menyebabkan beliau tak Bisa tidur dengan tenang. Nabi Yunus merasakan bahwa atap kamar akan jatuh menimpa dirinya. Akhirnya, Nabi Yunus tidur di atas kasurnya di mana kedua bola matanya berputar-putar di atas atap kamar akan tetapi Etos-pandangannya yang gelisah itu tak menemukan tempat perlindungan. Tempat tinggalnya di kamar itu dan atapnya dan Hepotenusa-sisinya tampak semuanya akan runtuh. Nabi Yunus pun Berawal Dari mengeluh dan berkata: “Demikian juga hatiku yang tergantung di jiwaku.”

Demikianlah, terjadi suatu pergulatan penderitaan yang hebat di diri Nabi Yunus di ia terbaring di atas ranjangnya. Penderitaan yang keras cukup memberatkannya sehingga beliau pun bangkit kembali dari tempat tidurnya tanpa sebab yang Bisa dipahami. Dan tibalah waktu pasang. Bahtera melemparkan tali-talinya. setelah itu Bahtera itu berjalan sepanjang siang dan ia memecah airnya dengan tenang, dan angin pun bertiup padanya dengan sangat lembut dan bagus. Lalu kegelapan menyelimuti Bahtera itu dan tiba-tiba lautan pun berubah. Bertiuplah angin yang cukup kencang yang sangat mengerikan yang nyaris menghancurkan Bahtera dan bergolaklah ombak yang cukup dahsyat laksana orang yang Dehidrasi akalnya. Ombak itu meninggi bagaikan gunung dan menurun bagaikan lembah.

Mulailah gelombang ombak menyapu permukaan Bahtera sehingga para awak Bahtera itu pun Berawal Dari terkena air. Dan di belakang Bahtera itu terdapat ikan paus yang besar yang Berawal Dari mengintai. Ia Mengakses mulutnya. setelah itu terdapat perintah kepada ikan paus itu untuk Dinamis Futuristis permukaan Bahari. Ikan paus itu menaati perintah dari Allah SWT dan ia Genjah Futuristis permukaan Bahari. Ia Berawal Dari mengikuti Bahtera itu sebagaimana perintah yang diterimanya. Angin yang keras tetap bertiup setelah itu kepala Bahtera mengisyaratkan dengan tangannya supaya beban Bahtera dikurangi. Dan angin semakin bertiup kencang. Sementara itu, Nabi Yunus merasakan ketakutan. di tidurnya beliau melihat segala sesuatu berguncang di kamarnya. Beliau berusaha berdiri tegak, akan tetapi tak mampu. setelah itu kepala Bahtera berteriak dan berkata: “Sungguh angin kencang bertiup tak seperti biasanya. Bersama kita seseorang lelaki yang Disorientasi sehingga karenanya angin ini bertiup dengan kencang. Kita akan menjalankan undian di semua awak. Barangsiapa yang namanya keluar kami akan membuangnya ke lautan.”

Nabi Yunus mengetahui bahwa ini Yaitu tradisi dari tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh awak Bahtera bila mereka menghadapi angin yang keras. akan tetapi di itu beliau terpaksa wajib meng-ikutinya. Episode penderitaan Nabi Yunus akan dimulai. Beliau Yaitu seorang Nabi yang mulia akan tetapi wajib tunduk di hukum ala berhala yang menganggap bahwa lautan mempunyai tuhan. Dengan kepercayaan itu, mereka meyakini bahwa bertiupnya angin yang kencang karena murka dari tuhan. Oleh di karenakan itu, wajib diadakan upaya untuk menenangkan dan memuaskan tuhan-tuhan yang mereka yakini itu. Nabi Yunus pun terpaksa mengikuti undian itu. Nama beliau dimasukkan bersama dengan nama penumpang lainya, dan dilakukanlah undian. Yang keluar justru namanya. Lalu diadakan undian yang kedua, dan kali ini pun yang keluar nama Nabi Yunus. Akhirnya, diadakan undian yang ketiga. Lagi-lagi yang keluar nama Nabi Yunus. setelah itu ditetapkan bahwa Nabi Yunus wajib dibuang ke lautan. di itu para awak penumpang memperhatikan Nabi Yunus. Nabi Yunus mengetahui bahwa beliau berbuat kesalahan saat meninggalkan kaumnya di keadaan marah. Nabi Yunus mengira bahwa Allah SWT tak akan menurunkan hukuman padanya. Namun ia dianggap Disorientasi di karenakan meninggalkan kaumnya tanpa izin-Nya. Allah SWT membagikan pelajaran kepadanya.

Nabi Yunus berdiri di samping Bahtera dan melihat lautan yang dipenuhi dengan ombak yang mengerikan. Global di itu gelap dan di sana tak ada cahaya bulan. Bintang-bintang bersembunyi di balik kegelapan. Warna air tampak gelap dan hawa dingin menembus tulang. Alhasil, air menutupi segala sesuatu. setelah itu nahkoda Bahtera berteriak: “Lompatlah wahai musafir yang misterius.” Tiupan angin semakin kencang. Nabi Yunus berusaha menjaga keseimbangannya, dan beliau menampakkan keberaniannya di ingin terjun ke lautan. Nabi Yunus pun terjun dan berada di permukaan lautan laksana sampang yang mengambang. Ikan paus berada di depannya. Ikan itu Berawal Dari tersenyum di karenakan Allah SWT telah mengirim padanya Boga malam. setelah itu ikan itu menangkap Nabi Yunus di tengah-tengah ombak. setelah itu ikan itu kembali ke dasar lautan. Ikan itu kembali di keadaaan puas Seusai memenuhi perutnya.

Nabi Yunus sangat terkejut saat mendapati dirinya di perut ikan. Ikan itu membawanya ke dasar lautan dan lautan membawanya ke kegelapan malam. Tiga kegelapan: kegelapan di di perut ikan, kegelapan di dasar lautan, dan kegelapan malam. Nabi Yunus merasakan bahwa dirinya telah mati. Beliau mencoba menggerakan panca inderanya dan anggota tubuhnya masih Dinamis. Seandainya begitu, beliau masih Hayati. Beliau terpenjara di tiga kegelapan.

Yunus Berawal Dari menangis dan bertasbih kepada Allah. Beliau Berawal Dari menjalankan perjalanan Futuristis Allah di beliau terpenjara di di tiga kegelapan. Hatinya Berawal Dari Dinamis untuk bertasbih kepada Allah, dan lisannya pun Berawal Dari mengikutinya. Beliau Menyebut: “Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah. Wahai Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri.” (QS. Hud: 87)

saat terpenjara di perut ikan, beliau tetap bertasbih kepada Allah SWT. Ikan itu sendiri tampak kelelahan di wajib berenang cukup jauh. setelah itu ikan itu tertidur di dasar lautan. Sementara itu, Nabi Yunus masih bertasbih kepada Allah SWT. Beliau tak henti-hentinya bertasbih dan tak henti-hentinya menangis. Beliau tak makan, tak minum, dan tak Dinamis. Beliau berpuasa dan berbuka dengan tasbih. Ikan-ikan yang lain dan tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk yang Hayati di dasar lautan mendengar tasbih Nabi Yunus. Tasbih itu berasal dari perut ikan paus ini. setelah itu semua makhluk-makhluk itu berkumpul di sekitar ikan paus itu dan mereka pun Empati bertasbih kepada Allah SWT. Setiap dari mereka bertasbih dengan caranya dan bahasanya sendiri.

Ikan paus yang memakan Nabi Yunus itu terbangun dan mendengar suara-suara tasbih begitu riuh dan gemuruh. Ia menyaksikan di dasar lautan terjadi suatu perayaan besar yang dihadiri oleh ikan-ikan dan Fauna-Fauna lainya, bahkan batu-batuan dan pasir semuanya bertasbih kepada Allah SWT dan ia pun tak ketinggalan Empati serta bersama mereka bertasbih kepada Allah SWT. Dan ia Berawal Dari menyadari bahwa ia sedang menelan seorang Nabi. Ikan paus itu merasakan ketakutan akan tetapi ia berkata di dirinya mengapa aku takut? Bukankah Allah SWT yang memerintahkan aku untuk memakannya. Nabi Yunus tetap tinggal di perut ikan selama beberapa waktu yang kita tak mengetahui batasannya. Selama itu juga beliau selalu memenuhi hatinya dengan bertasbih kepada Allah SWT dan selalu menampakkan penyesalan dan menangis: “Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri.” Allah SWT melihat ketulusan taubat Nabi Yunus. Allah SWT mendengar tasbihnya di di perut ikan. setelah itu Allah SWT menurunkan perintah kepada ikan itu supaya mengeluarkan Yunus ke permukaan Bahari dan membuangnya di suatu pulau yang ditentukan oleh Allah SWT.

Ikan itu pun menaati perintah Ilahi. Tubuh Nabi Yunus merasakan kepanasan di perut ikan. Beliau tampak sakit, lalu matahari bersinar dan menyentuh badannya yang kepanasan itu. Beliau berteriak di karenakan tak kuatnya menahan rasa sakit namun beliau mampu menahan diri dan kembali bertasbih. setelah itu Allah SWT menumbuhkan pohon Yaqthin, Yaitu pohon yang daun-daunnya lebar yang Bisa melindungi dari sinar matahari. Dan Allah SWT menyembuhkannya dan mengampuninya. Allah SWT memberitahunya bahwa Seandainya bukan di karenakan tasbih yang diucapkannya niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan hingga hari kiamat.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Yunus beriar-benar Disorientasi seorang rasul. (Ingatlah) saat ia lari ke kapal yang penuh muatan, setelah itu ia Empati berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah di undian. Maka ia Ditenggak oleh ihan besar di keadaan tercela. Maka Seandainya sekiranya ia tak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu hingga hari berbangkit. setelah itu Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia di keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus orang atau lebih. Lalu mereka beriman, di karenakan itu Kami anugerahkan kenikmatan Hayati kepada mereka hingga waktu yang Eksklusif.” (QS. ash-Shaffat: 139-148)

“Dan (ingatlah  kisah) Dzunnun (Yunus), saat ia pergi di keadaan marah, lalu mereka menyangka bahwa Kami tak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru di keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku Yaitu orang-orang yang lalim.’ Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’: 87-88)

Kita sekarang ingin membahas masalah yang menurut ulama disebut Bagaikan dosa Nabi Yunus. Apakah Nabi Yunus menjalankan suatu dosa di pengertian yang hakiki, dan apakah para nabi memang berdosa? Jawabannya Yaitu: Para nabi Yaitu orang-orang yang maksum akan tetapi kemaksuman ini tak berarti bahwa mereka tak menjalankan sesuatu yang menurut Allah SWT itu pantas mendapatkan celaan (hukuman). Jadi masalahnya agak relatif. Menurut orang-orang yang dekat dengan Allah SWT: Kebaikkan orang-orang yang bagus dianggap keburukaan untuk al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT). Ini memang benar. Sekarang, marilah kita amati kasus Nabi Yunus. Beliau meninggalkan desanya yang banyak dipenuhi oleh orang-orang vang menentang. Seandainya ini dilakukan oleh orang biasa atau oleh orang yang saleh selain Nabi Yunus maka hal itu merupakan suatu kebaikan dan karenanya ia diberi pahala. Sebab, ia berusaha menyelamatkan agamanya dari kaum yang durhaka. akan tetapi Nabi Yunus Yaitu seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada mereka. Seharusnya ia menyampaikan dakwah di jalan Allah SWT dan ia tak peduli dengan hasil dakwahnya. Tugas beliau hanya sekadar menyampaikan agama. Keluarnya beliau dari desa itu— di kacamata para nabi—Yaitu hal yang mengharuskan datangnya pelajaran dari Allah SWT dan hukuman-Nya padanya.

Allah SWT membagikan suatu pelajaran kepada Yunus di hal dakwah di jalan-Nya. Allah SWT mengutusnya hanya untuk berdakwah. Inilah batasan dakwahnya dan beliau tak wajib peduli dengan kaumnya yang tak mengikutinya dan di karenakan itu beliau tak wajib Jadi sedih dan marah. Nabi Luth tetap tinggal di kaumnya meskipun selama bertahun-tahun berdakwah beliau tak mendapati seorang pun beriman. Meskipun demikan, Nabi Luth tak meninggalkan mereka. Ia tak lari dari keluarganya dan dari desanya. Beliau tetap berdakwah di jalan Allah SWT sehingga datang perintah Allah SWT melalui para malaikat-Nya yang mengizinkan beliau untuk pergi. di itulah beliau pergi. Seandainya beliau pergi sebelumnya niscaya beliau akan mendapatkan siksaan seperti yang diterima oleh Nabi Yunus. Jadi, Nabi Yunus keluar tanpa izin. Lalu perhatikan apa yang terjadi di kaumnya. Mereka telah beriman Seusai keluamya Nabi Yunus. Allah SWT berfirman:

“Dan mengapa tak ada penduduk suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan di kehidupan Global, dan Kami beri kesenangan kepada mereka hingga waktu yang Eksklusif.” (QS. Yunus: 98)

Demikianlah, desa Nabi Yunus beriman. Seandainya ia tetap tinggal bersama mereka niscaya ia akan mengetahuinya dan hatinya Jadi tenang serta kemarahannya akan Jadi hilang. Tampaknya beliau tergesa-gesa dan tentu sikap tergesa-gesa ini berangkat dari keinginannya supaya manusia beriman. Usaha Nabi Yunus untuk meninggalkan mereka Yaitu Bagaikan ungkapan kebenciannya kepada mereka atas ketidakimanan mereka. Maka Allah SWT menghukumnya dan mengajarinya bahwa tugas seorang nabi hanya menyampaikan agama. Seorang nabi tak dibebani urusan keimanan manusia; seorang nabi tak bertanggung jawab atas pengingkaran manusia; dan seorang nabi tak Bisa membagikan hidayah (petunjuk) kepada mereka
.
Sumber Kisah Nabi Yunus: http://quran.al-shia.org/id/qesseh-quran/17.htm

Tags yang terkait dengan doa nabi yunus: kumpulan doa nabi yunus, tips doa nabi yunus, doa pengasih nabi yusuf, doa nabi yunus mempermudah kelahiran, doa nabi sulaiman, doa nabi yunus di perut ikan paus, doa nabi yunus mp3 download, doa nabi yunus di perut ikan. Video Doa Nabi Yunus:

Doa Nabi Yunus di Perut Ikan Paus

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here