Home Ceramah Islam Terbaru Amal Pemusnah Kebaikan, Bagian 3

Amal Pemusnah Kebaikan, Bagian 3

142
0

Dusta yang Samar
Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf bahwa dusta yang samar cukup untuk menghindarkan diri dari berdusta. Yang mereka maksud Yaitu di keadaan terdesak. bila tak terdapat keperluan untuk berdusta. maka berdusta dengan cara samar ataupun dengan cara terang-terangan tak diperbolehkan. Akan akan tetapi, berdusta dengan cara samar lebih ringan hukumnya.
saat Ibrahim An-Nakhai dicari orang yang tak disukainya, Padahal ia berada di rumah, maka ia berkata kepada budak wanitanya; “Katakan kepadanya. ‘Silakan cari dia di masjid!’ dan jangan engkau katakan. ‘Ia tak ada di rumah!’ supaya tak dusta!” Hal demikian Yaitu di diperlukan.Adapun di tak ada keperluan maka tak diperkenankan untuk berkata demikian.
Diriwayatkan oleh Abdullah ibn llthah bahwa ia berkata. “Aku Sempat bersama ayahku menghadap Umar ibn Abdul Aziz. Lalu aku keluar dengan pakaian Eksklusif, lantas ada orang bertanya, ‘Apakah pakaian ini dari Amirul Mukminin?’ Aku menjawab, ‘Mudah-mudahan Allah membalas Amirul Mukminin dengan kebaikan!’Ayahku setelah itu berkata. ‘Wahai anakku. Hindarilah dusta dan apa yang serupa dengannya.’”
Ayahnya melarang menjalankan semi dusta seperti itu. di karenakan dengan tujuan membanggakan diri. Dan ini merupakan tujuan yang batil.
Ungkap semi dusta itu diperbolehkan untuk tujuan yang ringan. sehagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam., “Suami kita yang dimatanya ada sesuatu yang putih.” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam berkata di wanita lainnya, “Kami akan membawa engkau di atas anak unta.”
Termasuk dusta yang biasa dilakukan dan dianggap remeh Yaitu orang yang dipersilahkan makan, lalu orang itu berkata. “Aku tak berselera makan !”
Asma binti Yazid berkata, “di suatu malam aku bersama beberapa wanita menemui Aisyah di ia pertama kali akan disandingkan dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Aku tak mendapatkan suguhan selain semangkok susu, lalu beliau minum dan memberikannya kepada Aisyah, akan tetapi rupanya Aisyah merasa malu. Aku berkata kepada Aisyah, ‘jangan engkau tolak apa yang diberikan Rasulullah dengan tangannya,’ Dengan agak malu, Aisyah mengambil dan meminumnya. setelah itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam berkata. “Berikanlah kepada teman-temanmu!’ Para wanita itu menjawab, ‘Kami tak menginginkannya!’ Rasulullah lantas berkata. ‘jangan kalian menggabungkan lapar dan dusta!’”
di riwayat Imam Ahmad ada tambahan redaksi. aku bertanya. “Ya Rasulullah, bila Disorientasi seorang di antara kami menyukai sesuatu, akan tetapi ia berkata tak menyukainya, apakah Ungkap itu termasuk dusta?” Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam lalu bersabda, “Sesungguhnya dusta itu ditulis Bagaikan dusta dan dusta kecil pun ditulis Bagaikan dusta kecil.”
Al-Laits ibn Sa’ad berkata,”saat kedua mata Sa’id ibn Al-Musayyib sakit, kotoran keluar dari matanya, ada orang yang berkata kepadanya, ‘Bagaimana bila kedua matamu itu engkau usap?’ Sa’id menjawab, ‘Bagaimana aku akan berkata kepada dokter. Padahal ia berpesan kepadaku. ‘jangan kau usap kedua matamu!’ setelah itu nanti aku berkata. ‘Aku tak menjalankan hal itu.” Ucapan seperti ini merupakan kehati-hatian orang yang wara’.
Berdusta di menceritakan mimpi termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Rasulullah; “Di antara dusta yang besar Yaitu apabila seseorang mengaku keturunan dari orang yang bukan ayahnya. atau mengaku melihat sesuatu di mimpi Padahal ia tak melihatnya, atau ia Menyebut atas namaku mengenai sesuatu yang tak Sempat aku katakan.”
Di di riwayat lain. “Di antara dusta yang paling besar Yaitu mengaku bermimpi sesuatu yang tak ia mimpikan.”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda: “Barangsiapa berdusta mengenai suatu mimpi, maka di Hari Kiamat ia akan dipaksa mengikat rambut”

Penyakit Kelimabelas: Menggunjing

Allah berfirman: “Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah Disorientasi seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik! (QS Al-Hujurat |49|: 12)

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda; “Setiap orang Muslim terhadap orang muslim lainnya itu haram darahnya. hartanya dan kehormatannya.”

Yang termasuk ghibah Yaitu melecehkan kehormatan orang lain. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda; “di malam di aku diperjalankan di waktu malam (Isra Mi’raj), aku bertemu beberapa orang yang mencakar mukanya dengan kukunya, setelah itu aku bertanya, ‘Hai Jibril, siapakah mereka itu?“Jibril menjawab, ‘Mereka Yaitu orang-orang yang menggunjing manusia dan melecehkan kehormatan orang lain”

Al-Barra ibn Azib berkata bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam berkhutbah kepada kami hingga didengar oleh gadis-gadis yang ada di rumah mereka. Beliau bersabda; “Hai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan tak dengan hatinya. jangan menggunjing kaum muslimin dan jangan mengintai aib mereka. Barangsiapa mengintai aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintai aibnya. Barangsiapa aibnya dicintai oleh Allah, niscaya Allah Mengakses aibnya di di rumahnya (mempermalukannya)’

Loading...
saat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menjalankan hukum rajam kepada Maiz ibn Malik Al-Aslami di karenakan zina. Lalu ada orang yang berkata kepada temannya, “Orang ini mati di tempatnya sebagaimana anjing mati di tempatnya.” Tatkala Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersama kedua orang itu melewati suatu bangkai, lalu beliau berkata, “Gigitlah bangkai ini.” Kedua orang itu lantas berkata, “Ya Rasulullah, kami wajib menggigit bangkai?!” Beliau lalu berkata, “Dosa yang menimpa kalian di karenakan menggunjing saudara kalian itu lebih busuk daripada bangkai ini.”

Diriwayatkan bahwa Allah mewahyukan kepada Musa a.s., “Barangsiapa yang meninggal Global sesudah taubat dari menggunjing (ghibah) maka ia akan Jadi orang yang terakhir masuk surga. Dan Barangsiapa yang meninggal Global belum bertaubat dari dosa ghibah maka ia akan Jadi orang yang pertama kali masuk neraka.”

Hasan Hash berkata, “Demi Allah, menggunjing itu lebih Genjah pengaruh negatifnya untuk agama seorang mukmin daripada pengaruh penyakit yang menggerogoti badannya.

Sebagian ahli hikmah berkata, “Kami bertemu orang-orang salaf dan mereka tak menganggap ibadah itu hanya di puasa dan shalat. akan tetapi ibadah itu Yaitu menahan diri dari melecehkan kehormatan orang lain.”

Ibnu Abbas r.a. berkata, “bila engkau ingin Menyebut kejelekan temanmu, maka sebutlah kejelekanmu lebih Dulu.”
Definisi Menggunjing (Ghibah)

Menggunjing Yaitu engkau membicarakan orang lain berkenaan dengan sesuatu yang bila ia mendengar. maka ia tak merasa suka. bagus kekurangan fisik. keturunan, akhlak, ucapan, urusan agamanya. Global. bahkan pakaian. rumah dan kendaraannya.

Sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam., “‘Apakah kalian mengetahui apa menggunjing itu?’ Para sahabat menjawab. ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui!’ Rasulullah berkata, “Kalian Menyebut kekurangan orang lain tanpa sepengetahuannya.” Para sahabat lantas bertanya, ‘Bagaimana bila apa yang kami katakan itu benar adanya?’ Rasulullah menjawab, “bila apa yang kalian katakan itu benar adanya. maka kalian telah menggunjingnya; apabila apa yang kalian katakana tak benar adanya, maka kalian telah berdusta.”

Menggunjing sebagaimana Bisa dilakukan dengan ucapan juga Bisa dilakukan dengan isyarat, Insinuasi, cemoohan, tulisan, gerakan, dan segala sesuatu yang Bisa digunakan untuk menggunjing. Semua ini diharamkan di karenakan termasuk menggunjing.

Termasuk menggunjing Yaitu ucapan, “Sebagian orang yang lewat di sini di hari ini,” atau “Sebagian orang yang telah kami lihat”, dan dengan satu ketentuan: bila orang yang diajak bicara itu mengerti bahwa yang dimaksudkan Yaitu orang Eksklusif. Apabila yang diajak bicara tak paham, maka tak termasuk gunjingan.

Gunjingan yang paling keji Yaitu gunjingan yang dilakukan oleh ulama yang riya (suka pamer). Mereka berperilaku seperti perilaku ahli kebaikan supaya tampak bahwa dirinya terjaga dari menggunjing. akan tetapi mereka menggunjing dengan Insinuasi.

Seperti ucapannya mengenai seseorang, “Segala puji untuk Allah yang tak menguji kami masuk ke tempat penguasa yang tak malu meminta harta Global.” Atau ia berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari sifat tak punya rasa malu, dan kami memohon kepada Allah supaya kami dijaga dari sifat tak punya malu.” Dengan tujuan untuk Mengakses aib orang lain.

Atau dengan ucapan, “Bagus benar perbuatan si Fulan. la rajin beribadah, akan tetapi sekarang ia ditimpa kemalasan. Sekarang ia diuji dengan cobaan yang Sempat diujikan kepada kita semua, Yaitu Anemia sabar terhadap Embargo agama.”

Dengan berbuat demikian, ia telah menggunjing, riya’ dan menganggap dirinya Higienis. Seakan-akan ia mencontoh orang saleh dengan mencela dirinya sendiri.

Termasuk gunjingan Yaitu Menyebut kekurangan orang lain di depan Generik yang tak diperhatikan oleh orang banyak. setelah itu ia berkata, “Mahasuci Allah, alangkah mengagumkan orang ini!” sehingga orang-orang yang mendengar Jadi mengerti akan maksud dari ucapannya itu. Atau ucapan seseorang ‘aku bersedih terhadap apa yang dialami oleh sahabat kita’ dengan tujuan untuk meremehkannya dan menyembunyikan kehohongannya. bila ia jujur dan tulus maka niscaya ia akan berdoa di berada di kesendirian atau selepas shalat.

Termasuk di kategori menggunjing Yaitu mendengarkan gunjingan dengan semangat supaya orang yang menggunjing tambah semangat di menggunjing. Itu Yaitu ungkapan yang membenarkan orang yang menggunjmg. Bahkan, diam di hadapan orang yang menggunjing Serupa dengan menggunjing,

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda; “Barang siapa tak menolong orang muslim lain yang dihina, Padahal ia mampu menolongnya, niscaya Allah akan menghinakannya di hadapan orang banyak di Hahi Kiamat.”

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salambersabda; “Barangsiapa membela kehormatan saudaranya yang sedang tak ada di tempat, niscaya Allah membela kehormatannya di Hari Kiamat”

di riwayat Imam Thabrai. “Maka Allah akan palingkan wajahnya dan api neraka di Hari Kiamat.”
Faktor-faktor yang Mendorong Orang Menggunjing

Semua Bisa diringkas Jadi sebelas faktor : delapan berlaku di orang awam, tiga Eksklusif untuk orang-orang ahli agama dan orang-orang Eksklusif.

Adapun yang delapan Yaitu:

  1. Melampiaskan emosi bila sedang memuncak marahnya

apabila ia tak melampiaskan kemarahannya. maka kemarahan itu tertahan di di hatinya. setelah itu berubah Jadi kedengkian yang mendorong untuk menyebutkan keielekkan-kejelekkan. Maka, kedengkian dan kemarahan termasuk pembangkit yang besar untuk menggunjing.

  1. Mengimbangi teman-teman dan bersikap pura-pura terhadap mereka bila ia mdihat teman-temannya ynng sedang menggunjing sambil bergurau, Ia tak akan berani mengingkan di karenakan mereka akan membencinya. Maka ia pun jkut terlibat di menggunjing. Dan ia berpikir bahwa sikap seperti itu merupakan sikap yang balk di bergaul.
  2. Khawatir dijadikan objek gunjingan

Orang yang merasa dirinya akan dijadikan objek gunjingan oleh orang lain, akan Genjah mendahului menggunjing orang itu supaya gunjingan orang itu akan dirinya akan dianggap tak benar oleh orang yang mendengarnya atau ia akan memulai dengan menceritakan cerita yang benar, setelah itu ia berdusta supaya ia Bisa menutupi kebohongannya dengan kebenaran cerita yang pertama.

  1. Membebaskan diri dari tuduhan

Seseorang yang merasa ditudub berbuat suatu keburukan. ia akan membela diri dengan tips menggunjing orang yang menuduhnya. [a memang punya Copyright untuk membela dirJ, akan tetapi seharusnya tak wajib Menyebut nama orang yang menuduhnya atau Menyebut keterlibztan orang lain untuk membuat alasan untuk dirinya.

  1. Berpura- pura dan memhanggakan diri

Dengan tips mengangkat dirinya sendin dan merendahkan orang la in, Dia akan Menyebut, “Si Fulan itu pemahamannya lemah dan ucapannya sulit dipahamf dengan tujuan untuk menunjukkan kelebihan dirinya. Atau ada kekhawatiran bila orang itu dimubakan oleh mdsyarakat, Bagaikan ma na orang-orang memuliakan dirinya.

  1. Kedengkian (Hasad)

bila ia melihat dan mengetahui seseorang yang dipuji, dicintai dan dimuliakan oleh masyarakat maka ia akan Menelusuri jalan untuk menghilangkan nikmat itu dari orang Itu dengan tips mencelanya. Dan inilah hakikat kedengkian

  1. Gurauan dan Candaan

Bercanda dengan Menyebut carat dan aib orang lam dengan tips yang Bisa membuat manusia tertawa, penyebabnya Yaitu sikap Arogan dan membanggakan diri.

  1. Mengejek dan Menghina Orang Lain

Adapun ketiga faktor yang mendorong orang Eksklusif untuk menggunjing Bagaikan berikut:

a. Memperlihatkan nada keheranan di mengingkari kemungkaran.

Seraya ia berkata, “Aku heran sekali terhadap apa yang aku lihat dan si Fulan” Terkadang. ucapannya itu benar dan keheranannya timbul di karenakan melihat kemungkaran. Akan akan tetapi, sepatutnya ia tak Menyebut namanya di karenakan dengan Menyebut namanya setan akan menjerumuskannya di perkara ghibah dan menyebabkannya berdosa.

b. Ungkapan Afeksi sayang

Seperti ucapan seseorang, “Kasihan si Fulan itu, aku bersedih hati dengan keadaan dan cobaan yang menimpanya”. Perasaan sedih dan Afeksi sayangnya memang benar, akan tetapi ia lalai dengan Menyebut namanya. maka ia telah menjalankan ghibah dan terseret oleh Intuisi setan di kejahatan yang tak ia sadarl, Sebab menunjukkan rasa belas Afeksi dan bersedih hati tetap Bisa dilakukan tanpa wajib Menyebut nama orang yang dikasihani.

c. Marah di karenakan Allah Swt. atas kemungkaran yang dilakukan oleh seseorang lalu ia pun memperlihatkan kemarahannya dengan Menyebut nama orang Itu. Padahal kewajibannya hanyalah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar tanpa wajib memperlihatkannya kepada orang lain, atau dengan menyembunyikan identitasnya dan tak menghinakannya.

Ketiga sebab terjadinya gunjingan ini termasuk perkara yang sulit diketahui oleh para ulama, lebih-lebih oleh orang awam.

Diriwayatkan dan Amir ibn Watsilah bahwa ada seseorang yang melewatt suatu kaum dan mengucapkan salam kepada mereka. Lalu mereka menjawab salamnya. Seusai orang itu berlaiu, tiba-tiba Disorientasi seorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya aku memhenci orang itu di karenakan Allah.” Lalu orang yang berada di sampingnya berkata, “Sungguh jelek apa yang kau katakan, kami akan memberitahukan kepadanya ucapanmu Itu, wahai Fulan! berdirilah lalu temuilah orang yang baru lewat itu dan beritahu kepadanya mengenai apa yang diueapkan orang ini kepadanya.”

Lantas utusan itu datang kepada Rasulullah dan menceritakan apa yang di katakan oleh temannya. Rasulullah pun memanggil orang Itu dan ia berkata, Benar, aku telah berkata demikian,” Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau membencinya?’ Orang itu menjawab, “Aku Yaitu tetangganya, demi Allah aku tak Sempat melihat ia shalat kecuali shalat Fardhu.” Orang itu berkata, “Ya Rasulullah tanyakanlah kepadanya apakah aku Sempat mengakhirkan shalat dari waktunya atau apakah wudlu, ruku’ dan sujudku tak betul?” Lalu Rasulullah menanyakan kepadanya dan orang itu menjawab ‘tak’

Orang itu berkata lagi, “Demi Allah aku tak Sempat melihatnya berpuasa di suatu bulan kecuali di bulan Ramadhan yang dilakukan oleh orang bagus dan orang Dursila, Orang itu berkata, “Ya Rasulullah tanyakan kepadanya, apakah ia Sempat melihat aku berbuka di bulan Ramadhan atau aku mengurangi haknya?” Maka Rasulullah menanyakan kepadanya, dan orang itu menjawab ‘tak Orang Itu berkata lagi. “Aku fidak Sempat melihatnya memberi kepada orang yang meminta dan kepada orang miskin dan aku tak Sempat melihatnya mendermakan sedikitpun hartanya di jalan Allah kecuali zakat” Orang itu menjawab, Ya Rasulullah tanyakanlah kepadanya apakah ia Sempat melihat aku mengurangi sedikitpun dari zakat atau aku tak memberi kepada yang berhak menerimanya?” Rasulullah pun menanyakan kepadanya dan orang itu menjawab ‘tak’ setelah itu Rasulullah berkata kepada orang yang membenci itu, “Berdirilah, mungkin ia lebih bagus daripada dirimu!”
 

 

Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Amal Pemusnah Kebaikan, Bagian 3

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here