Home Ceramah Islam Terbaru Amal Pemusnah Kebaikan, bagian 1

Amal Pemusnah Kebaikan, bagian 1

128
0


Segala puji untuk Allah, yang telah menciptakan manusia dan menyempurnakan bentuknya, dan menganugerahinya lisan yang Bisa digunakan untuk jelaskan apa yang dikandung hati dan akal. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata; tiada sekutu untuk-Nya. Saya pun bersaksi bahwa junjungan kita, Muhammad, Yaitu hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang membaca takbir dan tahlil kepada Allah.
Sesungguhnya lisan merupakan Disorientasi satu bentuk anugerah dan Estetika ciptaan Allah. Ukurannya kecil, akan tetapi pahala dan dosa yang ditimbulkannya besar. Melalui lisan, kekafiran dan keimanan Bisa dibedakan. Dengannya pula seseorang membicarakan semua yang wujud dan yang tak wujud, sifat-sifat Sang Pencipta, dan sifat-sifat makhluk-Nya. Itulah keunikan lisan. Mata hanya Bisa berinteraksi dengan gambar dan warna. Telinga hanya Bisa Herbi dengan suara. Tangan hanya Bisa berurusan dengan benda berwujud. Adapun lisan mempunyai medan yang luas.
Manusia sering meremehkan dan tak membentengi diri dari berbagai penyakit yang mungkin ditimbulkan oleh lisan. Padahal, lisan Yaitu senjata setan yang paling penting di memperdaya manusia. Berikut ini akan saya jelaskan penyakit-penyakit itu dengan cara rinci dan tutorial untuk menghindarkan diri darinya.
Besarnya Risiko Lisan dan Keutamaan Diam
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Sempat bersabda, “Siapa yang diam, ia selamat.” Diriwayatkan dari Anas bahwa Luqman Sempat berkata, “Diam itu kebijaksanaan, akan tetapi sedikit yang melakukannya.”
Uqbah bin ‘Amir mengisahkan bahwa ia Sempat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Rasulullah menjawab, “Jaga lisanmu, berdiamlah di rumahmu (untuk beribadah), dan tangisi kesalahanmu.” Sahal bin Sa’ad menuturkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Sempat bersabda, “Siapa yang menjaga sesuatu di antara kedua rahangnya (Yaitu lisan) dan sesuatu di antara kedua kakinya (Yaitu kemaluan), aku menjaminkan surga baginya.”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Sempat ditanya mengenai perkara yang paling banyak membuat manusia masuk surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan budi pekerti yang bagus.” Beliau juga ditanya mengenai perkara yang paling banyak membuat manusia masuk neraka. Beliau menjawab, “Dua rongga, Yaitu mulut dan kemaluan.”
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Sempat bersabda, “Kebanyakan dosa anak Adam berasal dari mulutnya’.’
Rasulullah juga Sempat bersabda, “Siapa yang menahan lisannya, Allah tutupi aibnya. Siapa yang Bisa menguasai emosinya, Allah lindungi dia dari siksa-Nya. Dan siapayang meminta ampun kepada-Nya, Allah terima permintaan ampunnya”
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang bagus atau diam” Diriwayatkat dari Barra’ bin Azib bahwa seorang badui menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam dan bertanya, “Tunjukkan kepadaku suatu amal yang Bisa membuatku masuk surga.” Rasulullah menjawab, “Beri makan orang yang lapar, beri minum orang yang haus, serukan kebaikan, dan cegah kemungkaran. bila engkau tak sanggup, tahan lidahmu kecuali untuk kebaikan.”
Abu Bakar meletakkan kerikil di di mulutnya untuk mencegah dirinya berbicara. Seraya menunjuk di lisannya, ia menuturkan, “Inilah yang Bisa membawaku di kebinasaan.” Ibnu Mas’ud Menyebut, “Hanya lisan yang lebih memerlukan penjara di waktu lama.” Hasan Al-Bashri Menyebut, “Tidaklah memahami agamanya, orang yang tak sanggup menjaga lisannya.” Yunus bin Ubaid Menyebut, “Seseorang yang senantiasa memberi perhatian yang besar di lisan (ucapannya) niscaya engkau akan melihat kebaikan di seluruh amal perbuatannya.” Rabi’ bin Khutsaim tak Sempat membicarakan urusan Global selama 20 tahun. saat pagi tiba, ia mencatat apa yang ia bicarakan, lalu mengoreksinya di sore hari. Mansur bin Al-Mu’tazz tak Sempat berbicara satu patah Perkataan pun selepas waktu Isya selama 40 tahun.
Mungkin engkau bertanya, “Apa sebabnya sehingga diam mempunyai keutamaan yang begitu besar?” Ketahuilah, sebabnya Yaitu banyaknya penyakit yang ditimbulkan oleh banyak bicara. Penyakit itu ada yang bersumber dari setan dan ada pula yang bersumber dari tabiat seseorang. Dengan diam, penyakit-penyakit itu tak akan membebani seorang pendiam. Sementara itu, di diam, seseorang Bisa menguatkan niat, senantiasa bersikap tenang, mempunyai waktu kosong untuk berzikir dan beribadah, dan selamat dari konsekuensi yang timbul dari ucapan, bagus yang terkait dengan Global ataupun akhirat.
di suatu hadits disebutkan, “Siapa yang diam, ia selamat!’ Dan sungguh, demi Allah, ia pun mendapat anugerah berupa permata kebijaksanaan dan kalimat yang berbobot.
Penyakit Pertama: Ucapan yang tak wajib
Maksudnya, engkau Menyebut sesuatu yang tak kau perlukan. Akibatnya, waktumu sia-sia dan engkau mengambil sesuatu yang buruk Bagaikan ganti dari sesuatu yang bagus. Seandainya engkau memanfaatkan waktu Itu untuk merenung, mungkin akan terbuka bagimu sebagian dari percikan rahmat Allah yang besar manfaatnya bagimu. Sekiranya engkau pergunakan waktu Itu untuk berzikir kepada Allah, tentu aja itu lebih bagus. Dan barang siapa sanggup untuk mendapatkan emas dan permata, akan tetapi ia hanya mengambil tanah yang tak bermanfaat baginya, sungguh ia benar-benar rugi. Diam seorang mukmin Yaitu berpikir, pandangannya Yaitu mengambil pelajaran, dan ucapannya Yaitu zikir.
Modal inti seorang hamba Yaitu waktu. bila waktunya digunakan untuk hal yang tak bermanfaat, hilanglah modal pokoknya. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salampernah bersabda, “Di antara Asterik kebaikan Islam seseorang Yaitu ia meninggalkan perkara yang tak bermanfaat baginya.” Anas bin Malik menuturkan, “Disorientasi seorang anak lelaki dari kelompok kami (kaum Anshar) meninggal Bagaikan syahid di Perang Uhud. Kami menemukan sebongkah batu mengganjal untuk menahan lapar di perutnya. Lantas ibunya berkata, ‘Selamat menikmati surga, Anakku.’ Lalu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Engkau tak tahu. Boleh Jadi ia telah berbicara yang tak wajib dan mencegah sesuatu yang tak membahayakannya.”
Batasan ucapan yang tak wajib Yaitu ucapan yang apabila kau ucapkan, engkau tak mendapatkan pahala; dan apabila tak kau ucapkan, engkau tak mendapatkan dosa dan tak pula membahayakan keadaan ataupun harta.
Penyebab munculnya ucapan yang tak wajib Yaitu hasrat untuk mengetahui sesuatu yang tak dibutuhkan atau meluangkan waktu untuk hal yang tak bermanfaat.
tutorial penyembuhannya ada dua. Dari Hepotenusa pemahaman, hendaknya seseorang menyadari bahwa napasnya Yaitu modal pokoknya, bahwa ia bertanggung jawab atas setiap perkataannya, bahwa lisan Yaitu alat yang Bisa ia gunakan untuk mencapai derajat yang tinggi, dan bahwa menyia-nyiakan lisan Yaitu suatu kerugian yang nyata. Dari Hepotenusa amaliah, hendaknya seseorang mengharuskan dirinya berdiam diri terhadap sebagian hal yang berarti baginya supaya lisannya terbiasa untuk meninggalkan hal yang tak wajib. Seandainya mau, ia Bisa mengasingkan diri atau menyepi untuk berlatih diam.

Penyakit Kedua: Ucapan yang Lebih

Yaitu membicarakan sesuatu yang tak bermanfaat atau melebihkan pembicaraan yang bermanfaat dari kadar yang sepatutnya. Atha’ Menyebut, “Orang-orang sebelum kalian membenci ucapan yang Lebih. Mereka menganggap Lebih semua yang selain Al-Quran, sunnah Nabi, perintah, Embargo, dan ucapan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan inti.” Diriwayatkan dari sebagian sahabat Nabi, “Ada lelaki berbicara kepadaku, akan tetapi jawaban yang akan aku katakan atas ucapannya lebih menyenangkan daripada air dingin untuk orang yang kehausan. Maka aku pun meninggalkan jawaban itu di karenakan khawatir termasuk pembicaraan yang Lebih.”

Ungkap yang Ambiguitas termaktub di Al-Quran. Allah berfirman, tak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia (QS Al-Nisa’ [4]: 114).

Penyebab dan tutorial penyembuhan penyakit ini Serupa dengan penyakit yang pertama.
Penyakit Keempat: Perdebatan (Mira’ & Jidal)

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Siapa yang meninggalkan perdebatan (mira’), Padahal dia benar, akan dibangunkan untuknya rumah di bagian tertinggi surga. Dan siapa yang meninggalkan perdebatan (mira’) dan dia Disorientasi, akan dibangunkan untuknya rumah di bagian terbawah surga!’

Beliau juga bersabda, “tak akan tersesat suatu kaum yang telah diberi petunjuk oleh Allah Swt, kecuali bila didatangkan kepada mereka perdebatan (jidal).

Umar r.a. Menyebut, “Jangan kau pelajari ilmu untuk tiga hal, dan jangan pula kau tinggalkan di karenakan tiga hal. Jangan kau pelajari ilmu untuk berdebat, membanggakan diri, dan berlaku riya. Dan jangan kau tinggalkan ilmu di karenakan malu mempelajarinya, hendak mengabaikannya, dan rela dengan kebodohan.”

Maimun bin Mahran ditanya, “Mengapa tak kautinggalkan aja saudaramu Padahal ia membencimu? Ia menjawab, “di karenakan aku tak Sempat mendebatnya.”

Perdebatan (mira’) Yaitu pembantahan terhadap ucapan lawan bicara dengan membeberkan kecacatan ucapannya, bagus redaksinya, maknanya, ataupun maksudnya.. Meninggalkan perdebatan berarti meninggalkan penolakan dan penyanggahan. bila hal yang engkau dengarkan benar, katakan itu benar. Namun, bila itu tak benar atau dusta yang tak terkait dengan persoalan agama, diamkan aja.

Loading...
Adapun perdebatan (jidal) Yaitu kesengajaan untuk membungkam lawan bicara, melemahkannya, serta memperlihatkan dan mencela kekurangan ucapannya. Penyebab perdebatan Yaitu [1] keinginan untuk menonjolkan diri dengan memperlihatkan keilmuan dan kelebihan, dan [2] keinginan untuk menjatuhkan orang lain dengan menampakkan kekurangannya.  Kedua  keinginan  Itu termasuk sifat yang mencelakakan (muhlikat), dan berbahan bakar perdebatan. Siapa yang gemar berdebat, ia menguatkan sifat yang mencelakakan Itu.

tutorial penyembuhannya Yaitu dengan mengekang sifat tinggi hati dan elemen binatang buas (sabu’iyyah), yang akan saya jelaskan di bab “Mencela Kesombongan dan Ujub” dan “Mencela Kemarahan, Kedengkian, dan Iri Hati”.

Abu Hanifah berkata kepada Dawud Ath-Tha’i, “Mengapa engkau lebih suka menyendiri?” Dawud menjawab, “di karenakan aku sedang berjuang untuk meninggalkan perdebatan.” Lantas Abu Hanifah Menyebut, “Datanglah (dikeramaian), dengarkan, dan jangan berbicara.” setelah itu Dawud menceritakan, “Aku sudah menjalankan nasihat Abu Hanifah. Ternyata, tak ada perjuangan yang lebih sulit bagiku melebihi nasihatnya Itu.” Barang siapa terbiasa berdebat, lalu orang-orang memujinya, lantas ia merasa mulia dan diterima banyak orang, sesungguhnya sifat-sifat yang mencelakakan itu telah menancap kuat di dirinya dan ia tak mampu mencabutnya.
Penyakit Kelima: Perselisihan (Khushumah)

Penyakit ini Yaitu dampak dari perdebatan. Perdebatan Yaitu upaya melemahkan ucapan orang lain, Padahal perselisihan Yaitu ucapan yang dilakukan terus-menerus untuk menuntut Harta atau Copyright Eksklusif. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salampernah bersabda, “Sungguh, orang yang paling dibenci Allah Yaitu penentang (kebenaran) yang paling keras!’

Mungkin engkau bertanya, “Seandainya seseorang mempunyai Copyright ; yang hanya Bisa didapatnya dengan tutorial berselisih, apakah tutorial ini juga termasuk hal yang tercela?”

Ketahuilah! Celaan hanya untuk orang yang berselisih dengan tutorial yang tak benar dan tanpa Anggaran. Celaan juga diperuntukkan untuk orang yang menuntut suatu Copyright, akan tetapi ia melampaui batas, menampakkan permusuhan dengan maksud menguasai atau menyakiti, dan mengucapkan Perkataan-Perkataan yang menyakiti yang tak diperlukan di menampakkan kebenaran. Adapun orang terzalimi yang menyuarakan bukti kebenarannya dengan tutorial yang bagus, tanpa bermaksud memusuhi ataupun menyakiti, tak Lebih, tindakannya tak diharamkan. Namun, lebih bagus ia menempuh jalan lain, bila masih ada. Meskipun orang terzalimi tak dilarang berselisih guna mendapatkan haknya, setidaknya perselisihan Bisa membebani pikirannya. Bahkan di mengerjakan shalat pun, ia Bisa aja terngiang akan argumen-argumen dari lawannya di perselisihan. Siapa yang berlaku yang seharusnya di perselisihan dan persengketaannya, ia selamat.

bila orang yang menuntut tak membutuhkan apa yang ia tuntut dari lawannya di karenakan ia sudah berkecukupan, ia tak berdosa. Hanya aja, ia meninggalkan suatu keutamaan. Setidaknya ia Dehidrasi pahala dari Ungkap yang bagus. Ath-Thabrani melansir suatu hadits dari Hani’ dengan isnad bagus (jayyid), bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Sempat bersabda, “Surga dipastikan untuk orang yang membagikan makan dan berbicara bagus”

Allah Swt. berfirman, Bertuturlah yang bagus kepada manusia (QS Al-Baqarah [2]: 83).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam juga bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat beberapa kamar,yang Hepotenusa luarnya Bisa terlihat dari di dan Hepotenusa dalamnya Bisa terlihat dari luar. Kamar-kamar itu disediakan oleh Allah Swt. untuk orang yang mau memberi makan dan bertutur Perkataan dengan lembut!

Diriwayatkan bahwa Nabi Isa a.s. berpapasan dengan seekor babi. Lalu beliau berkata padanya, “Lewatlah dengan aman.” Lantas ada yang bertanya kepada beliau, “Wahai Ruh Allah, apakah engkau mengatakannya kepada babi tadi?” Nabi Isa menjawab, “Aku tak suka membiasakan lidahku mengucapkan keburukan.”

Sementara itu, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Menyebut, “Ucapan yang bagus Yaitu sedekah.”
Penyakit Keenam: Ucapan yang Dibuat-buat dan difasih-fasihkan

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh dahku Yaitu orang-orang yang bicaranya banyak, dibuat-buat, dan difasih-fasihkan” (hadist diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

At-Tirmidzi pun melansir hadits ini dan menilainya hasan, dengan redaksi, “Sesungguhnya orang yang paling kubenci ….” (hadist diriwayatkan oleh AtThirmidzi )

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam juga bersabda, “Ingat! Celakalah orang-orang yang melampaui batas.” Beliau mengulangi sabdanya ini sebanyak tiga kali.

Namun, memperbaiki redaksi pidato dan ceramah dengan cara wajar dan tak Lebih tak termasuk hal yang dilarang. Sebab, pidato memang bertujuan untuk menggerakkan hati para pendengarnya, membuatnya suka terhadap materi pidato, dan memengaruhinya. Hal seperti itu pantas. Adapun pembicaraan biasa di antara sesama tak sepantasnya difasih-fasihkan dan dibuat-buat sedemikian rupa. Sebab, ucapan yang dibuat-buat seperti itu tentunya didorong oleh motif memamcrkan kefasihan dan ingin dipuji.
Penyakit Ketujuh: Berkata Kotor dan Mencaci

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Jauhilah Perkataan-Perkataan kotor. Sesungguhnya Allah Swt. tak menyukai ucapan kotor dan kesengajaan mengucapkan Perkataan kotor’.

Bahkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam melarang para sahabatnya mencaci orang-orang musyrik yang terbunuh di Perang Badar. Beliau Menyebut, “Jangan kalian caci mereka di karenakan cacian yang kalian ucapkan tak akan hingga kepada mereka. Cacian kalian Bisa aja menyakiti orang-orang yang masih Hayati. Ingatlah, mencaci Yaitu perbuatan yang tercela.”

Beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam juga bersabda, “Orang mukmin bukanlah orang yang suka mencaci, melaknat, menjalankan atau Menyebut hal yang keji, ataupun suka berkata kotor.”

Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Sempat bersabda. “Sesungguhnya berkata keji dan menampakkan kekejian Serupa sekali bukan termasuk Islam. Adapun orang yang paling bagus keislamannya Yaitu orang yang paling bagus budi pekertinya.”

Ahnaf bin Qais Menyebut, “Maukah kalian kuberitahukan penyakit yang paling ganas? Yaitu lisan yang senantiasa mencaci dan akhlak yang rendah.”

Yang dimaksud dengan berkata keji (fuhsy) Yaitu mengungkapkan sesuatu yang dianggap kotor dengan ungkapan yang terang— benderang. Orang-orang saleh membersihkan lisan mereka dari ungkapan kotor dan menyebutnya dengan isyarat. Ibnu Abbas Menyebut, “Sesungguhnya Allah Maha Malu dan Maha Mulia. Dia suka memaafkan dan memakai bahasa kiasan. Dia memakai Perkataan menyentuh [lams) untuk Perkataan bersetubuh (jima’)” Maka, seyogianya seseorang memakai bahasa kinayah (kiasan) untuk mengungkapkan hal-hal Eksklusif seperti menunaikan hajat Bagaikan ganti buang air kecil dan buang air besar, untuk istri dikatakan yang ada di kamar atau di balik tirai atau ibunya anak-anak bukan dengan ungkapan istrimu atau saudarimu.

Al-Ala’ bin Harun Menyebut. “Umar bin Abdul Aziz sangat berhati-hati di berbicara. Suatu saat ada nanah keluar dari bawah ketiaknya. Lantas kami mendatanginya untuk mengetahui apa gerangan yang akan ia katakan. “Dari mana nanah itu keluar?” la menjawab, “Dari tangan bagian di.” Seorang badui berkata kepada Rasulullah, “Nasihaalah aku.” Rasulullah pun Menyebut, “Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah. bila ada orang yang mencaci sesuatu yang ada di dirimu, janganlah engkau mencaci apa yang ada di dirinya. Maka, untuk orang yang mencelamu keburukan, dan bagimu pahala. jangan pula engkau mencela sesuatu.”

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salampun Sempat bersabda, “Mencaci orang Muslim Yaitu kefasikan, Padahal membunuhnya Yaitu kekufuran!

di hadits yang lain dinyatakan. “Terkutuklah orang yang mencaci kedua orang tuanya” di redaksi yang lain, “Disorientasi satu dosa Paling Besar ialah dosa orang yang memaki orang tuanya.” Beberapa sahabat bertanya, “Wahai Rasul. Bagaimana mungkin seseorang memaki orang tuanya?” Rasulullah menjawab, “la memaki orang tua seseorang, lalu Itu membalas dengan memaki orang tuanya.”
Penyakit Kedelapan: Melaknat atau Mengutuk

Melaknat termasuk perbuatan yang tercela, bagus melaknat binatang, benda mati, apalagi manusia. di hal ini, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda “Seorang mukmin itu bukan orang yang suka mengutuk”

Hudzaifah berkata,”Kaum yang saling mengutuk pasti akan menanggung karena ucapannya!”

Imran bin Hushain berkata, “saat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam di perjalanan, tiba-tiba beliau bertemu dengan wanita Anshar berada di atas untanya, di karenakan merasa kesal terhadap untanya, wanita mengutuknya. Lalu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda. ‘Ambillah sesuatu yang di atas unta itu, lalu lepaskan pelananya, di karenakan unta itu telah terkutuk. Imran ibn Hushain berkata, “Aku melihat unta itu sedang berjalan-jaian tengah manusia. tak ada seorang pun yang mengganggunya!”

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda: “Para pengutuk itu tak Bisa Jadi orang yang Bisa memberi syafaat dan Jadi saksi di Hari Kiamat.

Anas r.a. berkata, “Ada seseorang bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam diatas untanya. Tiba-tiba lelaki itu mengutuk untanya. Maka beliau berkata ‘Wahai hamba Allah! Engkau jangan Empati bersama kami di atas unta yang terkutuk ini.”

Ada tiga golongan yang pantas mendapatkan kutukan, Yaitu: 1) Pelaku kekufuran, 2). Pelaku bid’ah, 3). Pelaku kefasikan. Tingkatan kutukan itu juga Dikotomi atas tiga bagian: Tingkatan pertama: mengutuk dengan cara Generik. Seperti ucapanmu, “Semoga Allah mengutuk orang-orang kafir, para pelaku bid’ah dan orang-orang fasik!”

Tingkatan kedua: mengutuk dengan sifat yang lebih Eksklusif. Misalnya, ucapan seseorang, “Semoga Allah mengutuk orang Yahudi, orang Nasrani, orang Majusi, golongan Khawarij, Rawafidh, Qadariah, pelaku ke zaliman dan para pemakan riba!” Mengutuk dengan ucapan yang demikian itu dipcrbolehkan. akan tetapi, mengutuk di masalah bid’ah berbahaya. Untuk itu, kutukan di bid’ah sebaiknya dihindari dari orang awam, di karenakan hal itu akan mengundang perlawanan dan mengobarkan konflik dan kerusakan.

Tingkatan ketiga: mengutuk orang Eksklusif. Ini amat berbahaya dan dilarang.

Boleh melaknat orang yang dikutuk dengan tegas oleh syariat Islam. Seperti halnya ucapan, “Semoga Firaun dikutuk Allah dan semoga Abu Jahal dikutuk Allah!” di karenakan mereka telah mati di keadaan kufur dan hal itu dijelaskan di agama.

Adapun melaknat orang Eksklusif yang Hayati sezaman, yang tak ada nash yang menegaskan bahwa ia akan mati di kekufuran, maka hal ini tak dibolehkan, di karenakan ada kemungkinan ia akan masuk Islam atau bertobat dan kembali di Sunnah serta jalan yang lurus.

bila engkau sudah mengetahui keharaman melaknat seorang kafir, maka melaknat pelaku fasiq dan bid’ah lebih utama keharamannya.

Tatkala Disorientasi seorang sahabat ada yang beberapa kali dicambuk di karenakan meminum khamar, sebagian sahabat berkata, “Semoga Allah mengutuknya, banyak sekali kesalahan yang telah dilakukannya.” Rasulullah lalu bersabda, “Janganlah Jadi penolong setan terhadap saudara kalian dan janganlah berkata demikian, di karenakan sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah bersabda, “Setiap orang yang menuduh kufur atau fasiq kepada orang lain, tuduhan itu pasti kembali kepada dirinya, bila orang yang dituduh tak seperti apa yang ia tuduhkan.”

bila ada orang yang bertanya, “Apakah boleh Menyebut, ‘Semoga pembunuh si Fulan (seseorang yang saleh dan bagus) begitu pula dengan orang yang menyuruh membunuhnya dikutuk oleh Allah!’ Maka kami menjawab, “Yang benar Yaitu Menyebut, ‘bila pembunuh si Fulan itu mati sebelum bertobat, mudah-mudahan ia dikutuk oleh Allah!” Wahsyi ibn Harb telah membunuh Hamzah, paman Rasulullah Saw, setelah itu ia bertobat dari kekufuran. di karenakan itu, ia tak boleh dikutuk.

Seorang mukmin hendaklah tak meremehkan kutukan. di karenakan, orang mukmin itu bukan pcngutuk dan pcnghujat, lebih bagus berzikir kepada Allah.

Makki ibn Ibrahim berkata, “di waktu aku di dekat Ibnu Aun, tiba-tiba ada sekelompok orang Menyebut-nyebut Bilal ibn Abi Burdah dan mengutuknya, Padahal Ibnu Aun tetap diam. Mereka lantas bertanya, Hai Ibnu Aun! Aku Menyebut-nyebut Bilal ibn Abi Burdah di karenakan ia telah menyakiti dan berbuat dosa kepadamu!’ Ibnu Aun menjawab, ‘Sesungguhnya akan keluar dua kalimat dari lembaran catatan amalku di Hari Kiamat nanti, Yaitu ‘La ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah)’ dan ‘La’anallahu fulan (terkutuklah fulan)’. Maka, keluarnya kalimat ‘La ilaha illallah lebih suka daripada keluarnya kalimat, ‘La’anallahu fulan!” Dan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Melaknat seorang mukmin Serupa seperti membunuhnya.”

Mendoakan keburukan untuk seseorang tak beda hukumnya dengan melaknatnya, seperti bila seorang berkata, “Semoga Allah tak memberi kesehatan di fisiknya, dan semoga Allah tak memberi keselamatan kepadanya.” Dan ucapan-ucapan lain seperti itu.

Sesuatu yang mendekati kutukan Yaitu mendoakan keburukan kepada seseorang. Seperti doa, “Semoga Allah tak menyehatkannya dan semoga Allah tak menyelamatkannya.” Atau doa-doa yang Sesuai dengannya.
Penyakit KesembiIan: Nyanyian dan Syair yang Diharamkan

Syair Yaitu Perkataan-Perkataan. Yang baiknya Yaitu bagus, yang buruknya Yaitu buruk. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Penuhnya perut seseorang di antara kalian dan nanah busuk lebih bagus dari di penuh dengan syair”

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari syair itu mengandung hikmah”

Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Sempat menambal sandalnya. saat itu aku sedang duduk sambil memintal. Aku memandang beliau dan dahinya berkeringat dan tampak bercahaya. Aku tercengang melihatnya. Beliau pun memandangku dan berkata, “Mengapa engkau tercengang?” aku menjawab, ‘Ya Rasulullah! Aku melihat dahimu berkeringat dan keringatmu itu tampak bercahaya. Andai Abu Kabir Al-Hudzali melihatmu, niscaya ia mengerti bahwa engkaulah yang berhak dengan syairnya.’ Rasulullah lantas bertanya, “Apa yang dikatakan oleh Abu Kabir Al-Hudzali, wahai Aisyah?” Aku menjawab, ‘Abu Kabir Al-Hudzali Sempat mendendangkan dua bait syair:

la Higienis dari sisa darah haid

Terlindung dari kerusakan wanita yang menyusui

Dan penyakit wanita yang hamil apabila engkau melihat wajahnya

Niscaya wajah itu berkilau laksana kilat yang menyilang

setelah itu RasululiahShalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam meletakkan sesuatu yang ada ditangannya, lalu mendekatiku, seraya berkata. “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Aisyah. Betapa bahagianya diriku kepadamu, melebihi kebahagiaanmu kepadaku.”
Bersambung…………. 

Amal Pemusnah Kebaikan, bagian 2
Amal Pemusnah Kebaikan, bagian 3

Sumber : Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Amal Pemusnah Kebaikan, bagian 1

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here