Adab Berdoa Kepada Allah Diawali Dengan Bertawassul




KH. Mbah Maimoen Zubair Hafidzahullaahu berwasiat mengenai pentingnya wasilah (Tawassul)

Beliau mengingatkan bahwa , 


” yang termasuk orang yang tak punya adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala itu nak, orang yang selalu berdo’a langsung minta yang diinginkan tanpa memuji Allah Dulu, tanpa wasilah memakai Disorientasi satu Asma’ul Husnahnya Allah tanpa wasilah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam Dulu, sukanya langsung minta apa yang di inginkan”.

Disorientasi satu perintah Allah Azza wa Jalla Yaitu berdoa kepadaNya diawali dengan bertawasul.
Firman Allah Ta’ala yang artinya  
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kita mendapat keberuntungan” 
(QS Al Maa’idah [5]: 35 )”
di hakikatnya hadiah bacaan Al Fatihah, surat Yasin dan surat lainnya bukanlah “transfer pahala” namun bagian dari tawasul dengan amal kebaikan berupa bacaan surat sebelum doa inti kepada Allah Azza wa Jalla yang kita panjatkan untuk ahli kubur ataupun kepentingan kita sendiri. 
Padahal berdoa kepada Allah diawali bertawassul dengan Rasulullah, Ahlul Bait, Salafush Sholeh, para Wali Allah ataupun guru-guru agama kita terdahulu Yaitu Bagaikan wujud syukur kita kepada mereka sehingga agama Islam hingga kepada kita dan sekaligus untuk menyambung tali silaturrahmi dengan ahli kubur.
Jadi bertawassul Yaitu adab di berdoa , yakni berdoa kepada Allah diawali dengan permohonan keberkahan (bertabarruk) kepada Allah dengan hadiah bacaan surat, ucapan salam atau pujian untuk ahli kubur ataupun istighatsah dengan Menyebut para Nabi, para kekasih Allah (wali Allah) atau orang-orang sholeh sebelum doa inti kepada Allah Azza wa Jalla yang dipanjatkan untuk ahli kubur ataupun kepentingan sendiri. 
Tabaruk berasal dari Perkataan al-Barakah. Arti al-Barakah Yaitu tambahan dan perkembangan di kebaikan / keutamaan (az-Ziyadah Wa an-Nama’ Fi al-Khair) atau sesuatu yang mempunyai keutamaan (berkat). 
Contoh berdoa kepada Allah untuk kesembuhan, bertawasul dengan bertabarruk atau berperantara dengan barokah bacaan Al Fatihah :
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi; Telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat menjalankan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat di Disorientasi satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. akan tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! setelah itu dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. setelah itu dia diberi upah Anemia lebih tiga puluh ekor kambing. akan tetapi dia enggan menerima seraya Menyebut; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih Dulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ setelah itu sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-Serupa denganmu.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ keduanya dari Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Abu Bisyr melalui jalur ini, dia menyebutkan di di Haditsnya; ‘setelah itu orang itu Berawal Dari membacakan Ummul Qur’an, dan mengumpulkan ludahnya lalu memuntahkannya, Seusai itu orang itu sembuh. (HR Muslim 4080)
Contoh berdoa kepada Allah meminta kesembuhan, bertawassul dengan bertabarruk atau berperantara dengan barokah Mu’awwidzat (surat Al Ikhlas, An Nas dan Al Falaq)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah radliallahu ‘anha, bahwasanya; Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menderita sakit, maka beliau membacakan Al Mu’awwidzaat untuk dirinya sendiri, lalu beliau meniupkannya. Dan saat sakitnya parah, maka akulah yang membacakannya di beliau, lalu mengusapkan dengan memakai tangannya guna mengharap keberkahannya. (HR Bukhari 4629)
Contoh berdoa kepada Allah untuk kesembuhan, bertawasul dengan bertabarruk atau berperantara dengan “ludah sebagian kami” yakni ludah hambaNya yang telah meraih maqom (derajat) disisiNya.
Telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Al Fadl telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari ‘Abdurrabbihi bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah dia berkata; Biasanya di meruqyah, beliau membaca:
BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BI RIIQATI BA’DLINA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI RABBINA
(Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami (HR Bukhari 5304)
Contoh berdoa kepada Allah untuk kesembuhan, bertawasul dengan bertabarruk atau berperantara dengan barokah jubah atau gamis
Firman Allah Ta’ala yang artinya,
“Pergilah kita dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” (QS Yusuf [12]:93)
Seusai itu, ia meneruskan ucapannya; ‘Jubah ini Dulu ada di Aisyah hingga ia meninggal Global. Seusai ia meninggal Global, maka aku pun mengambilnya. Dan Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering mengenakannya. Lalu kami pun mencuci dan membersihkannya untuk orang sakit supaya ia lekas sembuh dengan mengenakannya. (HR Muslim 3855)
Begitupula yang sudah kita kenal Yaitu sunnah Rasulullah bertawasul (beperantara) sebelum doa inti yang dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla dengan permohonan keberkahan (bertabarruk) kepada Allah dengan tempat seperti Multazam, Raudah, Hijr Ismail, Hajar Aswad, Maqom Ibrahim (tempat pijakan Nabi Ibrahim Alaihisalam) dan lain lain.
Contoh berdoa kepada Allah untuk kesembuhan, bertawasul dengan bertabarruk atau berperantara dengan barokah Menyebut nama orang yang dicintai dari para kekasih Allah (Wali Allah)
Dari Al Haitsam ibn Khanas, ia berkata, “Saya berada bersama Abdullah Ibn Umar. Lalu kaki Abdullah menemui kram. “Sebutlah orang yang paling kita cintai !”, saran seorang lelaki kepadanya. “Yaa Muhammad,” ucap Abdullah. Maka seolah-olah ia terlepas dari ikatan.
Dari Mujahid, ia berkata, “Seorang lelaki yang berada dekat Ibnu Abbas menemui kram di kakinya. “Sebutkan nama orang yang paling kita cintai,” Perkataan Ibnu Abbas kepadanya. Lalu lelaki itu Menyebut nama Muhammad dan akhirnya hilanglah rasa sakit karena kram di kakinya.
Umat Islam setiap hari selalu bertawasul dengan Rasulullah yang sudah wafat dengan mengucapkan
“ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH,”
Sejak Dulu kala, para Sahabat bertawasul dengan penduduk langit yakni para malaikat dan kaum muslim yang meraih manzilah (maqom/derajat) disisiNya yakni orang-orang shalih bagus yang sudah wafat ataupun yang masih Hayati
di awalnya para Sahabat bertawasul dengan ucapan
ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA FULAAN
(Semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika’il, kepada fulan dan fulan)
Namun setelah itu Rasulullah menyederhanakan ucapan tawasulnya dengan ucapan
“ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN”
(Keselamatan juga semoga ada di hamba-hamba Allah yang shalih)
setelah itu Rasulullah jelaskan
“Sesungguhnya bila ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih bagus di langit ataupun di bumi“
Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Abdullah dia berkata; saat kami membaca shalawat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami mengucapkan:
ASSALAAMU ‘ALALLAHI QABLA ‘IBAADIHI, ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA FULAAN
(Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika’il, kepada fulan dan fulan). saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai melaksanakan shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah Yaitu As salam, apabila Disorientasi seorang dari kalian duduk di shalat (tahiyyat), hendaknya mengucapkan;
AT-TAHIYYATUT LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAATU, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN,
(penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan tetap ada di engkau wahai Nabi. Keselamatan juga semoga ada di hamba-hamba Allah yang shalih). Sesungguhnya bila ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih bagus di langit ataupun di bumi, lalu melanjutkan;
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH
(Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad Yaitu hamba dan utusan-Nya). Seusai itu ia boleh memilih do’a yang ia kehendaki. (HR Bukhari 5762)
Oleh karenanya berdoa Seusai sholat lebih mustajab di karenakan sholat berisikan pujian kepada Allah, bertawasul dengan bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam dan tawasul dengan hamba-hamba yang shalih bagus di langit ataupun di bumi
Begitupula di susunan doa Seusai sholat, sebelum doa inti, kita bertawasul dengan memohonkan ampunan kepada kaum muslim yang telah wafat.
“Astaghfirullahalazim li wali waa lidaiya wali jami il muslimina wal muslimat wal mukminina wal mukminat al ahya immin hum wal amwat”
“Ampunilah aku ya Allah yang Maha Besar, kedua ibu bapaku, semua muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang masih Hayati dan yang telah mati.”
Sebaliknya penduduk langit mendoakan penduduk Global yang menjalin tali silaturahmi dengan mereka
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hidupku lebih bagus buat kalian dan matiku lebih bagus buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. bila aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun bila menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli di Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya di Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya Bagaikan hadits shahih)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal Global. bila perbuatan kalian bagus, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun bila selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka hingga Engkau membagikan hidayah kepada mereka seperti engkau membagikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad di musnadnya). 
Jadi bila seseorang menjalankan ziarah kubur di rangka silaturahmi dan berbicara hajatnya dengan ahli kubur bukan berarti ahli kubur yang mengabulkan atau mewujudkan hajat pemohon melainkan ahli kubur dengan maqamnya (manzilah, kedudukan, derajat) disisi Allah mendoakan hajat pemohon kepada Allah Azza wa Jalla.
Contoh berdoa kepada Allah untuk meminta ampunan, bertawasul dengan bertabaruk atau berperantara dengan barokah pujian kepada Rasulullah Yaitu sebagaimana kisah yang termuat di kitab tafsir Ibnu Katsir mengenai Arab Badui yang bertawassul ke makam Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Amat disayangkan di kitab tafsir Ibnu Katsir terbitan akhir ada pula kisah tawasul Itu telah “dihilangkan” oleh tangan-tangan jahil. 
Kita masih Bisa mendapatkannya di kitab Tafsir Ibnu Katsir , terbitan Sinar Baru Algensindo, th 2000, juz 5, hal 283-284. Silahkan periksa di gambar di atas atau di http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/…/ikjuz5p281_285.pdf
*Awal kutipan.
Al-Atabi ra menceritakan bahwa saat ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan,
“Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ‘Sesungguhnya jikalau mereka saat menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘ (QS An-Nisa [4]: 64),
Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun untuk dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (supaya engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.”
setelah itu lelaki Badui Itu mengucapkan syair berikut , Yaitu: “Hai sebaik-bagus orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka Jadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku Bagaikan tebusan kubur yang engkau Jadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“
setelah itu lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. di tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam., lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah membagikan ampunan kepadanya!”
*Akhir kutipan.
Prof, DR Ali Jum’ah menjelasakan mengenai (QS An-Nisa [4]: 64) di kitab berjudul ”Al Mutasyaddidun, manhajuhum wa munaqasyatu ahammi qadlayahum” telah diterbitkan kitab terjemahannya dengan judul ” Menjawab Dakwah Kaum ‘Salafi’ ” diterbitkan oleh penerbit Khatulistiwa Press beralamat Jl Datuk Ibrahim No. 19, Condet, Balekambang, Jakarta Timur. Telp 021 8098583. Website: http://www.khatulistiwapress.com/
Berikut kutipan Elaborasi Prof, DR Ali Jum’ah.
*Awal kutipan
Adapun ayat ketiga ini (QS An-Nisa [4] : 64) berlaku dengan cara Generik (Absolut), tak ada sesuatupun yang mengikatnya, bagus dari nash ataupun akal. Di sini tak ada sesuatu makna yang mengikatnya dengan masa Hayati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Global. di karenakan itu akan tetap ada hingga hari kiamat.
Di di Al Qur’an, yang Jadi barometer hukum Yaitu umumnya lafaz, bukan berdasarkan khususnya sebab. Oleh di karenakan itu, barang siapa yang mengkhususkan ayat ini hanya saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih Hayati, maka wajib baginya untuk mendatangkan dalil yang menunjukkan hal itu.
Keumuman (kemutlakan) makna suatu ayat tak membutuhkan dalil, di karenakan ‘keumuman’ itu Yaitu asal. Padahal taqyid (mengikat ayat dengan keadaan Eksklusif) membutuhkan dalil yang menunjukkannya.
Ini Yaitu pemahaman ulama ahli tafsir, bahkan mereka yang sangat disiplin dengan atsar seperti Imam Ibnu Katsir. di tafsirnya, Seusai menyebutkan ayat di atas, Ibnu Katsir lalu mengomentarinya dengan berkata “Banyak ulama di kitab Asy Syaamil menyebutkan kisah yang sangat masyur ini”
*Akhir kutipan
Begitupula ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Rasulullah dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat seperti, Ibnu Hajar al-Haitami Menyebut ayat ini (QS An-Nisa [4]: 64) Jadi petunjuk dianjurkan datang menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk minta ampun dosa kepada Allah di Hepotenusa Beliau dan Beliau minta ampun dosa umatnya. Dan ini tak terputus dengan wafat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Jauhar al-Munaddham, Dar al-Jawami’ al-Kalam, Kairo, Hal. 12)
Imam Ibnu al-Hajj al-Abdari, ulama dari mazhab Maliki berkata,
*Awal kutipan
“Tawasul dengan beliau merupakan media yang akan menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan. di karenakan keberkahan dan keagungan syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam di Hepotenusa Allah itu tak Bisa disandingi oleh dosa apapun. Syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam lebih agung dibandingkan dengan semua dosa, maka hendaklah orang menziarahi (makam) nya bergembira.
Dan hendaklah orang tak mau menziarahinya, mau kembali kepada Allah Ta’ala dengan tetap meminta syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Barangsiapa yang mempunyai keyakinan yang bertentangan dengan hal ini, maka ia Yaitu orang yang terhalang (dari syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam).
Apakah ia tak Sempat mendengar firman Allah yang berbunyi:
“Dan Kami tak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka saat menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. ( QS An Nisaa [4] : 64 )
Oleh di karenakan itu, barang siapa yang mendatangi beliau, berdiri di depan pintu beliau, dan bertawassul dengan beliau, maka ia akan mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. di karenakan sesungguhnya Allah Ta’ala tak akan Sempat ingkar janji.
Allah Ta’ala telah berjanji untuk menerima tobat orang yang datang, berdiri di depan pintu beliau (Nabi shallallahu alaihi wasallam) dan meminta ampunan kepada Tuhannya.
Hal ini Serupa sekali tak diragukan lagi, kecuali oleh orang yang menyimpang dari agama dan durhaka kepada Allah dan RasulNya. “Kami berlindung diri kepada Allah dari halangan mendapatkan syafaat Nabi shallallahu alaihi wasallam” (Ibnu al Hajj, Al Madkhal, 1/260).
*Akhir kutipan
Imam an Nawawi, ulama dari kalangan Syafi’iyah, saat menerangkan mengenai adab ziarah makam Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata “setelah itu ia (peziarah) kembali ke tempat awalnya (Seusai Dinamis satu hasta ke kanan untuk menyalami Abu Bakar dan satu hasta yang lain menyalami Umar) sambil menghadap ke arah wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu ia bertawassul dari beliau kepada Allah. Sebaik-bagus dalil di masalah ini Yaitu atsar yang diceritakan oleh Imam al Mawardi al Qadhi, Abu ath-Thayyib dan ulama lainnya (An Nawawi, Al Majmuu’, 8/256)
Padahal Imam Ibnu Qudamah dari kalangan mazhab Hanbali juga membagikan petunjuk di di adab ziarah ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, supaya peziarah membaca ayat di atas, mengajak bicara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan memakai ayat Itu dan meminta kepada beliau untuk dimintakan ampunan kepada Allah.
*Awal kutipan
Maka Seusai peziarah membaca salam, doa dan shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam hendaknya ia berdoa,
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman, sesungguhnya jikalau mereka saat menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. ( QS An Nisaa [4] : 64 )
Aku datang kepadamu (Nabi shallallahu alaihi wasallam) Bagaikan orang yang meminta ampunan atas dosa-dosaku, dan Bagaikan orang yang meminta syafaat melaluimu kepada Tuhanku. Aku memohon kepadaMu , wahai Tuhanku, berilah ampunan kepadaku, sebagaimana Engkau berikan kepada orang yang menemui beliau (Nabi shallallahu alaihi wasallam) saat masih Hayati.”
Seusai itu, peziarah berdoa untuk kedua orang tuanya, saudara-saudaranya dan seluruh kaum muslimin
*Akhir kutipan
Begitupula kita dianjurkan berdoa kepada Allah diawali dengan bertawassul dengan sholawat bukan berarti Rasulullah membutuhkan sholawat dari umatnya namun kita mendapatkan balasan salam dari Rasulullah dengan maqamnya (manzilah, kedudukan, derajat) di Hepotenusa Allah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku membalas salam .” HR. An-Nasa’i Al-Hakim 2/421 )
Sunnah Rasulullah supaya doa inti yang kita panjatkan kepada Allah lebih mustajab maka kita disunnahkan diawali bertawasul dengan amal kebaikan berupa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertawasul dengan amal kebaikan berupa sholawat (menghadiahkan doa selamat untuk Rasulullah) sebelum doa inti kita panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “bila Disorientasi seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, setelah itu dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, setelah itu Seusai itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)
Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila Di Lantunkan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa Itu, namun bila tak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“.
Firman Allah Ta’ala yang artinya “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku Yaitu dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada di kebenaran”. (QS Al Baqarah [2]:186 )
di firmanNya Itu telah disampaikan syarat supaya doa kita Bisa dikabulkanNya yakni “maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada di kebenaran”
Siapakah muslim yang menjalankan perintahNya, menjauhi laranganNya, beriman kepada Allah serta selalu di kebenaran atau selalu berada di atas jalan yang lurus ?
Jawabannya Yaitu muslim yang dekat dengan Allah atau muslim yang meraih manzilah (maqom atau derajat) disisiNya yakni muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan yakni muslim selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau muslim yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh)
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘kita takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya (bermakrifat), maka bila kita tak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)
Firman Allah Ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah di karenakan mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari menjalankan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan.
Muslim yang memandang Allah Ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat Yaitu muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.
Imam Qusyairi Menyebut “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir di hati, Yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati Itu senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia Yaitu seorang syahid (penyaksi)”
Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, bila ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kita mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kita berada“. (HR. Ath Thobari)
Imam Sayyidina Ali r.a. Sempat ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah kalian Sempat melihat Tuhan?” Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tak Sempat saya lihat?” “Bagaimana kalian melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak Bisa dilihat oleh mata dengan Etos manusia yang kasat, akan tetapi Bisa dilihat oleh hati”
tak semua manusia Bisa memakai hatinya
Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya
Siapa yang memandang di gerak dan perbuatannya saat taat kepada Allah Ta’ala, di di yang Serupa ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia Jadi merugi besar.
Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab saat ia melihat kelemahannya di mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam di anugerahNya.
Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, Padahal setiap kebaikan Yaitu bintik cahaya di hati saat bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.
Firman Allah Ta’ala yang artinya,
shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna ,
“mereka tuli, bisu dan buta (tak Bisa menerima kebenaran), maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS Al BAqarah [2]:18)
shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qiluuna ,
“mereka tuli (tak Bisa menerima panggilan/seruan), bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tak mengerti. (QS Al Baqarah [2]:171)
“maka apakah mereka tak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka Bisa memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka Bisa mendengar? di karenakan sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, akan tetapi yang buta, ialah hati yang di di dada.” (al Hajj 22 : 46)
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di Global ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)
Para ulama Allah Menyebut bahwa hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, tutorial pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang di kenikmatan ladzatul ‘ibadah, hingga karomah juga Bisa Jadi hijab, dll. Disorientasi satu bentuk nafsu hijab Paling Besar itu justru kesombongan, di karenakan Arogan itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita Bisa bayangkan, Seandainya keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain tak kelihatan, bagaimana dia Bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh).
Rasulullah bersabda: “Kesombongan Yaitu menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Tiada masuk surga orang yang di hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan Yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)
di suatu hadits qudsi , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda ,
“Allah berfirman, Keagungan Yaitu sarungKu dan kesombongan Yaitu pakaianKu. Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya”. (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kemuliaan Yaitu sarung-Nya dan kesombongan Yaitu selendang-Nya. Barang siapa menentang-Ku, maka Aku akan mengadzabnya.” (HR Muslim)
Sayyidina Umar ra menasehatkan “Orang yang tak mempunyai tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat. Tiga perkara Itu Yaitu santun saat mengingatkan orang lain; wara yang menjauhkannya dari hal-hal yang haram / terlarang; dan akhlak mulia di bermasyarakat (bergaul)“.
Seorang lelaki bertanya di Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam “Musllim yang bagaimana yang paling bagus?” “saat orang lain tak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya” Jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu aliahi wasallam bersabda
“Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)
Sayyidina Umar ra menasehatkan,
“Jangan Sempat tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras). Tapi akuilah orang yang menyampaikan amanah dan tak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya“
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan akan bermuncululan orang-orang yang bertambah ilmunya namun semakin jauh dari Allah di karenakan tak bertambah hidayahnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tak bertambah hidayahnya, maka dia tak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“
Sungguh celaka orang yang tak berilmu. Sungguh celaka orang yang beramal tanpa ilmu Sungguh celaka orang yang berilmu akan tetapi tak beramal Sungguh celaka orang yang berilmu dan beramal akan tetapi tak menjadikannya muslim yang berakhlak bagus atau muslim yang ihsan.
Urutannya Yaitu ilmu, amal, akhlak (ihsan)
Ilmu wajib dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu Jadi Arogan dan semakin jauh dari Allah Ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla semakin dekat sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan dibuktikan dengan Bisa menyaksikanNya dengan hati (ain bashiroh).
Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita Dulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tak Arogan.
Muslim yang berada di atas kebenaran Yaitu muslim yang ihsan yakni muslim yang memperoleh karunia Allah dan Allah Azza wa Jalla telah mensucikan (menganugerahkan) mereka dengan akhlak yang tinggi, muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang meraih maqam (manzilah, kedudukan, derajat) di Hepotenusa Allah sehingga Jadi kekasih Allah (Wali Allah) dan berkumpul dengan Rasulullah
Firman Allah Ta’ala yang artinya,
”…Sekiranya Seandainya bukan di karenakan karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tak ada seorangpun dari kita yang Higienis (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, akan tetapi Allah membersihkan siapa aja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi Yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka di Hepotenusa Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling bagus.” (QS Shaad [38]:46-47)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kita di Hepotenusa Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kita” (QS Al Hujuraat [49]:13)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-Serupa dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, Yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)
Jadi orang-orang yang selalu berada di kebenaran atau selalu berada di jalan yang lurus Yaitu orang-orang yang diberi karunia ni’mat oleh Allah atau orang-orang yang telah dibersihkan (disucikan / dipelihara) oleh Allah Ta’ala sehingga terhindar dari perbuatan keji dan mungkar dan menjadikannya muslim yang sholeh, muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah dan yang terbaik Yaitu muslim yang Bisa menyaksikanNya dengan hatinya (ain bashiroh).
Interaksi yang tercipta antara Allah Ta’ala dengan al-awliya (para wali Allah) menurut Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) Yaitu Interaksi al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta Afeksi), dan al-inayah (pertolongan).
Interaksi istimewa ini diperoleh di karenakan Interaksi seorang wali telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah, sehingga ia Jadi tanggungjawab-Nya, bagus di Global ataupun di akhirat.
Adanya pemeliharaan, cinta Afeksi, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadiranNya, hudhur ma’ahu wa bihi.
Bertitik tolak di al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (para wali / kekasih); al-Tirmidzi hingga di kesimpulannya bahwa al-awliya (para wali / kekasih) dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah, yakni mempunyai sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.
Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni ‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi), ‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali), ‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman di umumnya).
untuk umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; Padahal untuk al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.
Jadi bila Allah telah mencintai hambaNya maka akan terpelihara (terhindar) dari dosa atau jikapun mereka berbuat kesalahan maka akan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka saat masih di Global.
Padahal ulama su’ (ulama yang buruk) Yaitu mereka yang tak menyadarinya atau tak disadarkan oleh Allah Azza wa Jalla atas kesalahannya atau kesalahpahamannya sehingga mereka menyadarinya di akhirat kelak.
Contohnya ada dari para pengikut Wahabisme penerus kebid’ahan yang menyalahkan atau bahkan menuduh musyrik kepada muslim lain yang tak sepaham (sependapat) dengan mereka yang mewajibkan berdoa langsung kepada Allah dan jangan berperantara bahkan diiikuti dengan celaan “Tuhan tak tuli”
Oleh di karenakan kesalahpahaman mereka di memahami Al Qur’an dan As Sunnah sehingga mereka dengan cara tak langsung telah menghardik Salafush Sholeh yang berdoa kepada Allah dengan berperantara. 
Contohnya riwayat berikut
Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, akan tetapi bila ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, Disorientasi seorang di antara mereka.” saat Barra’ memerangi kaum musyrikin, para Sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Sempat bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh di karenakan itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan. Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur Bagaikan syahid.
Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya:
“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.
Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang Itu saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
“Siapa namamu?” tanya Umar.
“Aku Uwais”, jawabnya datar.
“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih Hayati?, tanya Umar lagi.
“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tak hilang).
“Benar, Amirul Mu’minin, Dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah supaya disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.
“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar Itu, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih berhak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”
Lalu Umar berkata “Aku Sempat mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-bagus Tabi’in Yaitu seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, Sempat sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. apabila kalian menemuinya mintalah kepadanya supaya ia memintakan ampunan kepada Allah”
Uwais lalu mendoa’kan Umar supaya diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang di kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad)
Riwayat Itu bukan berarti Sayyidina Umar ra tak termasuk wali Allah (kekasih Allah) namun sekedar mengabarkan Uwais ra Yaitu seorang wali Allah di antara Tabi’in.
Allah Ta’ala telah berfirman bahwa “bila wali Allah (kekasih Allah) meminta atau berdoa pasti dikabulkanNya” artinya seorang muslim semakin dekat dengan Allah sehingga meraih maqam (manzilah, kedudukan, derajat) di sisiNya maka doanya akan mustajab.
Berikut riwayat selengkapnya,
di suatu hadits Qudsi Allah Ta’ala berfirman bahwa
“bila Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan bila meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tak ragu untuk menjalankan sesuatu yang Aku Jadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (HR Bukhari 6021)
Selain itu ada pula dari pengikut Wahabisme penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah hanya melarang berdoa kepada Allah bertawassul dengan yang sudah wafat.
di hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya Yaitu hal yang diperbolehkan selama ia seorang muslim, mukmin, shalih dan diyakini mempunyai manzilah di Hepotenusa Allah Subhanahu wa Ta’ala, tak pula terikat ia masih Hayati atau telah wafat di karenakan apabila seseorang Menyebut ada Disparitas di kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia di kemusyrikan yang nyata, di karenakan seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kehidupan dan kematian tak Bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
saat seseorang berkata bahwa orang mati tak Bisa memberi manfaat, dan orang Hayati Bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh di kekufuran di karenakan menganggap kehidupan Yaitu sumber manfaat dan kematian Yaitu mustahilnya manfaat, Padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tak Bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.
Begitupula Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani di http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/…/paham_yang_harus_… Menyebut
****** awal kutipan *******
Ketahuilah bahwa orang yang bertawassul dengan siapa pun itu di karenakan ia mencintai orang yang dijadikan tawassul Itu. di karenakan ia meyakini keshalihan, kewalian dan keutamaannya, Bagaikan bentuk Berpretensi bagus terhadapnya. Atau di karenakan ia meyakini bahwa orang yang dijadikan tawassul itu mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang berjihad di jalan Allah. Atau di karenakan ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang yang dijadikan tawassul, sebagaimana firman Allah : يحبّونهم ويحبّونه atau sifat-sifat di atas seluruhnya berada di orang yang dijadikan obyek tawassul.
bila kalian mencermati persoalan ini maka kalian akan menemukan bahwa rasa cinta dan keyakinan Itu termasuk amal perbuatan orang yang bertawassul. di karenakan hal itu Yaitu keyakinan yang diyakini oleh hatinya, yang dinisbatkan kepada dirinya, dipertanggungjawabkan olehnya dan akan mendapat pahala karenanya.
Orang yang bertawassul itu seolah-olah berkata, “Ya Tuhanku, saya mencintai fulan dan saya meyakini bahwa ia mencintai-Mu. Ia orang yang ikhlas kepadaMu dan berjihad di jalanMu. Saya meyakini Engkau mencintainya dan Engkau ridlo terhadapnya. Maka saya bertawassul kepadaMu dengan rasa cintaku kepadanya dan dengan keyakinanku padanya, supaya Engkau menjalankan seperti ini dan itu.
Namun mayoritas kaum muslimin tak Sempat menyatakan ungkapan ini dan merasa cukup dengan kemaha-tahuan Dzat yang tak samar baginya hal yang samar, bagus di bumi ataupun langit. Dzat yang mengetahui mata yang berkhianat dan isi hati yang tersimpan.
Orang yang berkata : “Ya Allah, saya bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, itu Serupa dengan orang yang Menyebut : Ya Allah, saya bertawassul kepada-Mu dengan rasa cintaku kepada Nabi-Mu. di karenakan orang yang pertama tak akan berkata demikian kecuali di karenakan rasa cinta dan kepercayaannya kepada Nabi. Seandainya rasa cinta dan kepercayaan kepada Nabi ini tak ada maka ia tak akan bertawassul dengan Nabi. Demikian pula yang terjadi di selain Nabi dari para wali.

******* akhir kutipan *****
Berikut kutipan nasehat Disorientasi satu gurunya Muhammad bin Abdul Wahhab yakni Syaikh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, yang berisi nasehat supaya ia tak menyempal keluar dari mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham)
***** awal kutipan *****
“Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu di karenakan Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, bila kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli Bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tak Bisa memberi manfaat ataupun madharrat, Seandainya dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, di karenakan engkau menjauh dari kelompok Paling Besar, orang yang menjauh dari kelompok Paling Besar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tak mengikuti jalan muslimin.”

***** akhir kutipan ******
Sebutan Wahabi itu pertama kali dimunculkan oleh Syaikh Sulamain bin Abdul Wahab al-Hanbali. Beliau Yaitu saudara kandung dari Muhammad bin Abdul Wahab.
Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab: “lima”.
Sulaiman: “akan tetapi kita menjadikan 6!”
Muhammad: “Apa?”
Sulaiman: “kita memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu Yaitu mu’min dan yang tak sesuai dengan fatwamu Yaitu kafir“.
Muhammad : “Terdiam dan marah“.
Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, akan tetapi Sulaiman Bisa lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi) sebagaimana gambar di http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/…/as-shawaiqul-ilah…
Hal yang Serupa Disampaikan oleh ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata di kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah saat menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, Bagaikan berikut:
“Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang bagus berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering menjalankan Agresi besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. di karenakan setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tak mampu membunuhnya dengan cara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar di malam hari di karenakan pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).
Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata di kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar Bagaikan berikut:
“Keterangan mengenai pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij di masa kita. Sebagaimana terjadi di masa kita, di pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka aja kaum Muslimin, Padahal orang yang berbeda dengan keyakinan mereka Yaitu orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya hingga akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin di tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).
Padahal ulama madzhab al-Maliki, Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki , ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa hidupnya dengan pendiri Wahhabi , sebagaimana yang disampaikan oleh cucu dari Syaikh Nawawi al Bantani yakni KH Thobary Syadzily bahwa kitab tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang di ini beredar di seluruh Global, asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an) ayat yang menerangkan mengenai khawarij dan dihubungankan dengan “Wahabiyah” dihapus dan dihilangkan oleh kelompok Wahabi. di karenakan, Seandainya tak dihilangkan akan merugikan dan membahayakan untuk mereka, bahkan Bisa Jadi ancaman untuk Saudi Arabia di rangka tetap menjaga dan memelihara eksistensi kerajaannya di Global internasional sebagaimana kajiannya yang dimuat di http://19aswaja26.blogspot.co.id/…/bukti-scanned-kitab-keja…
Dikabarkan di kajian Itu berikut bukti scan kitabnya bahwa mereka menghapus kalimat:
و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية
Mereka Yaitu golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Saudi). Golongan Itu dinamakan “Wahabiyyah”.
Tafsir “Ash-Shawi ‘ala Tafsir Al-Jalalain” yang masih asli dan belum ditahrif , contohnya cetakan pertama “Darul Fikr” th 1988 jilid 5 halaman 119, tertulis:
و قيل : هذه الأية نزلت في الخوارج الذين يحرفون تأويل الكتاب و السنة , و يستحلون بذلك دماء المسلمين و أموالهم , لما هو مشاهد الأن فى نظائرهم و هم فرقة بأرض الحجاز يقال لهم الوهابية يحسبون أنهم على شيئ
“Dikatakan bahwa ayat Itu di atas diturunkan di kaum Khawarij, Yaitu golongan orang-orang yang suka mentahrif (merubah) Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Dengan demikian, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Hal itu Bisa dibuktikan, di karenakan adanya suatu kesaksian di bangsa mereka di ini. Mereka Yaitu golongan orang-orang yang berasal dari tanah Hijaz (sekarang Mekkah). Golongan Itu dinamakan “Wahabiyyah”. Mereka mengira bahwa mereka berkuasa atas sesuatu.”
Firqah salaf (terdahulu) atau firqah di Masa Rasulullah yang gemar menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang tak sepaham (sependapat) dengan mereka Yaitu orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim sebagaimana yang telah disampaikan di http://mutiarazuhud.wordpress.com/…/firqah-salaf-menyalahk…/
Dzul Khuwaishirah tokoh penduduk Najed dari bani Tamim juga termasuk salaf di karenakan bertemu dengan Rasulullah namun tak mendengarkan dan mengikuti Rasulullah melainkan mengikuti pemahaman atau akal pikirannya sendiri yang berakibat menjadikannya Arogan dan durhaka kepada Rasulullah yakni merasa lebih pandai dari Rasulullah sehingga berani menyalahkan dan menghardik Rasulullah
Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; saat kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kita!. Siapa yang Bisa berbuat adil Seandainya aku aja tak Bisa berbuat adil. Sungguh kita telah menemui keburukan dan kerugian bila aku tak berbuat adil. (HR Bukhari 3341)
Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. Perkataan mereka, kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka. Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah kalian kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, bila aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah membagikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kita tak mau membagikan ketenangan bagiku? (HR Muslim 1762)
Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim Yaitu orang-orang yang menyalahkan umat Islam lainnya yang tak sepaham (sependapat) dengan mereka sehingga mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) yang disebut dengan khawarij
Khawarij Yaitu bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.
Oleh di karenakan orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim Disorientasi memahami Al Qur’an dan As Sunnah sehingga mereka bersikap.
Wallahu A’lam Bishawab…
Top of Form

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

Adab Berdoa Kepada Allah Diawali Dengan Bertawassul

Facebook Comments

Leave a Reply