40 Sunah Bulan Ramadhan, Habib Segaf bin Ali Alaydrus

Al Habib Segaf bin Ali Alaydrus di kitabnya “Ithaful Ikhwan” menyebutkan 40 sunah di Bulan Ramadhan. Berikut intisarinya:

 *1. Makan Sahur*
Disunahkan untuk yang akan berpuasa untuk makan sahur. Telah banyak hadits yang menganjurkan untuk menjalankan sahur dan jelaskan bahwa di di Boga sahur terdapat keberkahan. Rasulullah SAW bersabda:
 تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Bersahurlah di karenakan di di sahur terdapat keberkahan. (HR Bukhari-Muslim)
Makanlah sahur walaupun sedikit Rasulullah SAW bersabda:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
Makan sahur itu memaannya Yaitu berkah. Maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya dengan meminum seteguk air. di karenakan Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat untuk orang-orang yang sahur. (HR Ahmad)
 *2. Disunahkan untuk menjadikan kurma Bagaikan Disorientasi satu menu sahur* .
Nabi SAW bersabda:
 نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
Sebaik-baiknya Boga sahur orang beriman Yaitu kurma. (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban dan Shahihnya)
 *3. Mengakhirkan sahur*
Disunahkan mengakhirkan makan sahur hingga mendekati Waktu Shubuh asalkan jangan terlalu akhir sehingga kita ragu apakah waktu sahur masih tersisa atau tak.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ
Umatku akan selalu berada di kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. (HR Ahmad)
Adapun mengakhirkan sahur hingga ragu apakah waktu sahur masih ada, itu tak dianjurkan. Waktu sahur di Berawal Dari sejak tengah malam (Yaitu pertengahan antara waktu Maghrib dan waktu Shubuh) hingga sebelum Fajar.
*4. Menentukan waktu imsak (jarak antara selesai sahur dan adzan shubuh)*
Disunahkan untuk membuat jarak waktu pemisah antara  waktu sahur dan adzan Shubuh  (waktu imsak). Jangan hingga ia masih makan sahur saat Adzan Shubuh berkumandang. Sahabat Anas RA menceritakan bahwa Sahabat Zaid bin Tasbit RA Menyebut:
تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
“Kami sahur bersama Nabi SAW, Seusai itu kami shalat.”
Aku (Sahabat Anas) bertanya:
“Berapa jarak antara adzan dan sahurnya?”
“Seukuran 50 ayat.” Jawabnya. (HR Bukhari-Muslim)
Sebagian ulama mengirakan bahwa ukuran 50 ayat Yaitu 15-20 menit. Maka hendaknya berhenti makan sahur lima belas menit sebelum adzan shubuh.
Pemisahan ini Yaitu bentuk kehati-hatian di beribadah. Dan hati-hati di ibadah itu dianjurkan berdasarkan sabda Nabi SAW:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
Tinggalkan apa yang membuatmu ragu, kepada apa yang tak membuatmu ragu. (HR Ahmad)
 *5. Berkumpul untuk sahur*
Sunah bersahur bersama-Serupa.  Ini berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit di atas :
تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ
Kami sahur bersama dengan Rasulullah SAW setelah itu kami shalat. (HR Bukhari-Muslim)
Selain itu berkumpul di menyantap Boga itu Yaitu berkah. Di di hadits dikatakan:
خير الطعام ما تكاثرت فيه الأيدي
Sebaik-bagus Boga Yaitu apa yang banyak tangan  (Empati makan) di dalamnya.
 *6. Membersihkan sela-sela gigi*
Sangat ditekankan supaya ia membersihkan sela-sela gigi Seusai makan sahur. Nabi SAW bersabda:
تخللوا ، فإنه نظافة ، والنظافة تدعو إلى الإيمان ، والإيمان مع صاحبه في الجنة
Sela-selailah gigi di karenakan itu Yaitu kebersihan dan kebersihan mengajak kepada iman dan iman bersama orang yang beriman ada di di surga. (HR Thabrani)
Dikatakan bahwa kesunahan menyela-nyelai gigi lebih ditekankan untuk orang berpuasa dibandingkan bersiwak.
 *7. Menyegerakan berbuka*
Sunah menyegerakan berbuka saat telah yakin masuk Waktu Maghrib. Nabi SAW bersabda:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Manusia selalu di kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka (HR Bukhari-Muslim)
Allah SWT berfirman di hadits qudsi:
أَحَبُّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا
Sesungguhnya hamba yang paling Aku cinrai Yaitu yang paling Genjah berbuka. (HR Ahmad dan Turmudzi)
bila ia masih ragu masuknya waktu Maghrib, maka tak sunah menyegerakan berbuka, bahan haram hukumnya ia berbuka di keadaan ragu Itu.
*8. Berbuka dengan Ruthob (kurma basah)*
Disunahkan berbuka dengan Ruthob , bila tak ada maka dengan kurma kering (kurma yang biasa ada di pasaran), bila tak ada maka dengan air. Sahabat Anas Ra Menyebut:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Rasulullah SAW berbuka sebelum melaksanakan shalat dengan beberapa butir Ruthob (kurma basah), bila tak ada maka beberapa butir tamr (kurma kering) dan bila tak ada maka  dengan beberapa hirup air. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Nabi SAW juga bersabda:
إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمْرًا فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُورٌ
bila Disorientasi satu dari kalian berbuka, berbukalah dengan kurma di karenakan itu Yaitu berkah. bila tak mendapatkan kurma berbukalah dengan air sebab itu Yaitu suci dan mensucikan. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
 *9. Memperhatikan Boga berbukanya supaya benar-benar berasal dari yang halal.*
Sebagian orang shaleh Menyebut:
“bila kita puasa maka perhatikan Boga berbukamu, di karenakan Boga haram Yaitu racun yang membinasakan agama.”
Nabi SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى طَعَامٍ، وَشَرَابٍ مِنْ حَلالٍ، صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلائِكَةُ فِي سَاعَاتِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَصَلَّى جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ” .
Siapa yang menyediakan Boga berbuka untuk yang berpuasa dengan Boga dan minumam yang halal maka malaikat akan bershalawat kepadanya di setiap di di bulan Ramadhan, dan Malaikat Jibril akan bershalawat kepadanya di malam lailatul qodar. (HR Thabrani)
di riwayat lain dikatakan:
Dan malaikat jibril akan bermushofahah (menyalaminta) di malam lailatul qodar;
 *10. Disunahkan berdoa saat berbuka*
di karenakan doa saat berbuka Yaitu doa yang diijabahi. Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Tiga orang yang tak akad ditolak doanya: Imam yang  adil, Orang yang berpuasa saat berbuka dan doa orang yang dizalimi (HR Ahmad dan Turmudzi)
Dengan doa apa aja maka ia mendapatan kesunahan tapi yang utama hendaklah ia berdoa dengan doa yang datang dari nabi saw. Di antaranya:
 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Telah hilang dahaga telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahalanya insya Allah Taala. (HR Abu Dawud dan Nasai)
Dan :
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki dari-Mu aku berbuka (HR Abu Dawud)
Dan:
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ
Segala puji untuk Allah yang menolong aku sehingga aku Bisa berpuasa dan memberiku rizki sehingga aku Bisa berbuka. (HR Ibnu Sunni)
Dan:
إِذَا أَفْطَرَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang mencakup segala sesuatu supaya Engau mengampuni Aku. (HR Ibnu Majah)
*11. Memberi Boga berbuka untuk yang berpuasa*
Sunah menyediakan Boga berbuka (takjil) untuk orang yang berpuasa. Sahabat Zaid bin Khalid al Juhani RA meriwayatkan sabda Nabi SAW:
 مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Siapa yang membagikan Boga berbuka untuk orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun pahalanya. (HR Turmudzi dan Nasai)
Para ulama Menyebut, pahala ini didapatkan walaupun dengan hanya membagikan Boga yang sedikit untuk orang yang berpuasa, namun lebih sempurna lagi bila ia membagikan Boga yang Bisa mengenyangkannya. Di di hadits dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ » ، قَالُوا : لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ ، فَقَالَ : « يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِماً عَلَى تَمْرَةٍ ، أَوْ شُرْبَةِ مَاءٍ ، أَوْ مِذْقَةِ لَبَنٍ
“Siapa yang menyediakan Boga berbuka untuk orang yang berpuasa maka itu Yaitu penghapus dosanya, Bisa memerdekakannya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun pahalanya.”
Para sahabat bertanya, “tak semua dari kita mampu membagikan Boga untuk orang yang berpuasa.”
Maka Nabi SAW bersabda: “Allah membagikan pahala ini untuk orang yang menyediakan Boga berbuka untuk orang yang berpuasa walau pun hanya dengan sebutir kurma, seteguk air atau sehisap susu.” (HR Ibnu Khuzaimah)
Usahakan dengan sungguh-sungguh supaya niatnya di memberi Boga itu Yaitu untuk mengikuti sunah Nabi SAW dan mendapatkan pahala bukan sekedar  adat yang berlangsung setiap tahun.
 *12. Disunahkan untuk yang berbuka di rumah atau tempat orang lain, untuk mendoakan pemilik rumah.*
Doakan dengan doa yang datang di hadits Nabi SAW. Nabi SAW Sempat berbuka di kediaman Sahabat Saad bin Ubadah RA, maka Nabi SAW berdoa:
أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ
Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian, orang-orang yang bagus telah memakan Boga kalian, dan semoga malaikat bershalawat kepada kalian. (HR Abu Dawud)
 *13. Menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah*
Disunahkan menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, Yaitu dengan shalat Tarawih dan Witiir. Ini Yaitu ibadah yang sangat agung pahalanya dan termasuk Disorientasi satu dari syiar (symbol) dari syiar-syiar Ramadhan. Rasulullah SAW selalu menganjurkan para sahabatnya untuk shalat di malam Ramadhan. Beliau SAW bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Siapa yang shalat (tarawih) di bulan Ramdhan di karenakan dasar iman dan mengharapkan pahala maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. (HR Bukhari dan Muslim)
di hadits lain disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan aku sunahkan untuk kalian shalatnya (Tarawih). Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melaksanakan shalatnya di karenakan iman dan mengharapkan pahala maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari saat ibunya melahirkannya. (HR Nasai)
Para ulama Menyebut bahwa pahala ini dikhususkan hanya untuk mereka yang melaziminya setiap malam. Maka tak selayaknya untuk orang yang bersemangat memburu kebaikan untuk meninggalkan shalat tarawih. bila ia tak mampu melakukannya dengan cara sempurna di satu dari malam-malanya di karenakan suatu udzur, sakit atau bepergian maka shalatlah semampunya walau hanya delapan rakaat. Di di hadits dikatakan:
إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
bila aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, laksanakanlah semampu kalian. (HR Bukhari dan Muslim)
 *14. Membaca Al-Quran*
Disunahkan untuk memperbanyak membaca Al-Quran di sepanjang Bulan Ramadhan yang mulia ini, sebab ini Yaitu Bulan Al Quran. Hendaknya ia Bisa mengkhatakamkan Al-Quran di di bulan ini beberapa kali sebagaimana yang dilakukan para salaf. Imam Manshur bin Zadan RA dalah satu Tabiin yang ahli ibadah mengkhatamkan al Quran dua kali lebih di waktu antara Maghrib dan Isya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad shahih bahwa Imam Mujahid RA mengkhataman Al Quran di Bulan Ramadhan di antara Maghrib dan Isya. Begitulah sebagaimana dituliskan di kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi.
 *15. Tadabbur AlQuran dan Tartil di membacanya*
Hendaknya ia memperhatikan supaya merenungi makna al Quran yang dibacanya dan membacanya dengan tartil. Sebab maksud dari membaca al Quran Yaitu untuk merenungi maknanya dan mengambil pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Allah SWT berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini Yaitu suatu kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS Shaad: 29)
Ibu Abbas RA Menyebut: “Membaca satu Surat dengan tartil lebih aku sukai daripada membaca seluruh al Quran tanpa tartil.”
Imam Mujahid RA Sempat ditanya mengenai dua orang lelaki. Yang pertama membaca surat Al Baqarah dan Ali Imran Padahal yang satu hanya membaca Al Baqarah aja. Waktu membacanya Serupa, rukuk keduanya Serupa, sujud keduanya Serupa, duduk keduanya Serupa. Maka beliau Menyebut, “Yang membaca al Baqarah aja itu yang lebih utama.”
 *16. Mudarosah (Saling menyimak al Quran)*
Nabi SAW menyodorkan bacaan Al Qurannya kepada Malaikat Jibril AS setiap malam di bulan Ramadhan. Imam Nawawi di kitab Majmuknya Menyebut, “Ulama Syafiiyah Menyebut bahwa hukumnya sunah untuk memperbanyak membaca al Quran di bulan Ramadhan dan mudarosah Al Quran. Mudarosah Yaitu membacakan al Quran kepada orang lain, lalu orang itu membacakan al Quran untuknya.”
Hikmah disunahkannya mudarosah Yaitu di karenakan lebih Bisa mentadaburi al Quran dan memahami makna-maknanya yang agung.
 *17. Istiqomah menghadiri majlis ilmu*
Hendaknya orang yang berpuasa melazimi untuk selalu hadir di majlis ilmu, dzikir dan fiqih. Pahalanya sangat besar dan agung. Ibnu Abbas Ra Menyebut:
وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
Rasulullah SAW lebih dermawan di Bulan Ramadhan saat bertemu dengan Jibril. Dan Jibril menemuninya setiap malam setelah itu menjalankan mudarosah al Quran. (HR Bukhari-Muslim)
Para ulama mengambil kesimpulan dari hadits ini disyariatkannya pula berdiskusi di kebaikan dan ilmu.
 *18. Menjaga waktu untuk dzikir*
Hendaknya orang yang berpuasa sangat memperhatikan waktunya dan memakmurkanya dengan dzikir kepada Allah. Hendaknya ia menentukan wakktu-waktu untuk beristigfar, bertasbih, bertahlil, berhamdalah, bershalawat kepada Nabi SAW dan lainnya. Termasuk dzikir-dzikir yang diajarkan Nabi Yaitu:
أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku memohon ampunan kepada Allah. Kami memohon surga kepada-Mu dan meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka.
di hadits dikatakan bahwa Nabi SAW bersabda:
وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمَ ، وَخَصْلَتَيْنِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا : فَتَسْأَلُونَ اللهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ
Perbanyaklah di dalamnya (di di Ramadhan) empat hal. Dua hal Bisa membuat Tuhan kalian ridho dan dua hal lain Yaitu hal yang pasti kalian butuhan. Dua hal pertama yang Bisa membuat Tuhan kalian Ridho Yaitu bersyahadat bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan beristigfar kepada-Nya. Dan dua hal yang pasti kalian butuhkan Yaitu kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. (HR Ibnu Khuzaimah)
*19. Berdoa di malam dan siang hari*
Hendaknya orang yang berpuasa banyak berdoa di siang hari Ramadhan dan di malam harinya. Orang yang berpuasa termasuk Disorientasi satu dari orang yang tak tertolak doanya. di hadits dikatakan:
Ada tiga hal yang merupakan kepastian untuk Allah untuk tak menolak doa mereka. Orang yang berpuasa hingga berbuka, orang yang dizalimi hingga mendapatkan haknya, orang yang bepergian hingga kembali. (HR Bazzar)
Puasa juga termasuk kondisi dimana doa disunahan, begituمah pula bulan Ramadhan bulan dikabulkannya doa. Nabi SAW bersabda:
أتاكم رمضان شهر بركة ، فيه خير يغشيكم الله  فيه ، فتنزل الرحمة ، وتحط الخطايا ، ويستجاب فيه الدعاء ،
Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan penuh berkah yang Allah limpahkan kebaikan kepada kalian di dalamnya. Bulan dimana rahmat diturunkan, kesalahan-kesalahan dihapus dan doa di dalamnya dikabulkan. (HR Thabrani)
Imam Nawawi RA di Majmu menyebutkan:
“Disunahkan untuk orang yang berpuasa untuk berdoa saat ia berpuasa dengan hal-hal penting yang terkait dengan akhirat dan dunnianya untuk dirinya sendiri dan untuk orang yang ia cintai serta untuk umat Islam.”
 *20. Melebihkan nafkah untuk keluarga*
Disunahkan untuk seorang muslim untuk melebihkan nafkah keluarganya di Bulan Ramadhan bila Allah membuatnya mampu. Nabi SAW Yaitu manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan di Bulan Ramadhan.
Ibnu Abbas Menyebut:
كَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ
Rasulullah SAW lebih dermawan di Bulan Ramadhan saat bertemu dengan Jibril. (HR Bukhari-Muslim)
Imam Nawawi di Majmu Menyebut:
“Al Mawardi Menyebut: disunahan untuk lelaki untuk melebihkan nafkah untuk keluarganya di Bulan Ramadhan. Dan berbuat bagus kepada kerabat serta tetangga-tetangganya terlebih di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. “
Orang islam saat ia berderma di bulan Ramadhan dan membagikan nafakah yang lebih banyak kepada keluarganya ia tengah mengikuti tuntunan Nabi SAW.
*21. Menelusuri-cari dan memperhatikan orang yang membutuhkan*
Rasulullah SAW mensifati Bulan Ramadhan dengan Syahr Muwasah, bulan untuk saling membantu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di Shahihnya. Menelusuri-cari dan memperhatikan fakir miskin dan memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan orang yang membutuhkan Yaitu ketaatan yang paling utama dan kebaikan yang paling indah. Di di hadits dikatakan:
وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ،
Amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT Yaitu kebahagiaan yang engkau masukan ke di hati seorang muslim, atau engkau menyingkirkan darinya kesusahanya, atau engkau mengusir rasa lapar darinya, atau engkau melunasi hutangnya. (HR Thabrani)
*22. untuk lelaki disunahkan beritikaf di masjid*
Kesunahan itikaf bagus di siang atau malam Ramadhan lebih ditekankan. Termasuk petunjuk Nabi SAW Yaitu bahwa beliau bertikaf dan menganjurkan untuk melaksanakannya. Sahabat Anas RA Menyebut bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda:
من اعتكف يوما ابتغاء وجه الله جعل الله بينه وبين النار ثلاث خنادق ، كل خندق أبعد مما بين الخافقين
Siapa yang beritikaf sehari di karenakan mengharapkan keridhoan Allah SWT, maka Allah akan menjadikan tiga parit yang menghalanginya dari neraka. Setiap parit lebarnya melebihi dua ufuk langit. (HR Thabrani di Ausath, al Baihaqi, dan Hakim beliau Menyebut isnadnya shahih)
Para ulama Menyebut kesunahan itikaf di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan lebih ditekankan dan lebih utama untuk meneladani Nabi SAW dan Menelusuri malam Lailatul Qodar.
 *23. Meninggalkan perdebatan, perselisihan dan saling caci*
Semua itu disunahkan di setiap di tapi di di berpuasa kesunahannya Jadi lebih kuat. Di di hadits dikatakan:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ
Puasa Yaitu benteng. bila Disorientasi seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kasar, jangan pula berbuat bodoh. bila ada seorang yang berselisih dengannya atau mencelanya katakanlah “Aku tengah berpuasa” dua kali. (HR Bukhari-Muslim)
di hadits lain dikatakan:
ليس الصيام من الأكل والشرب ، إنما الصيام من اللغو والرفث
Puasa itu bukanlah sekedar dari makan dan minum, melainkan dari ucapan sia-sia dan ucapan kotor. (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Para ulama berkata: Seyogyanya untuk seorang muslim untuk meninggalkan ucapan mubah yang tak berfaidah dan tak bermanfaat untuk agama dan dunianya, hendaknya ia menyibukan lisannya dengan dzikir dan istigfar.
 *24. Meninggalkan perbuatan yang tak bermanfaat*
Sebagaimana dianjurkan meninggalkan ucapan yang tak berfaidah walaupun mubah, begitupula dianjurkan meninggalkan perbuatan mubah yang tak bermanfaat dan tak ada kebaikan di dalamnya. Nabi SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Siapa yang tak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya maka Allah tak peduli ia meningalkan Boga dan minumannya. (HR Bukhari )
*25. Meninggalkan berbekam dan cantuk*
Ini di karenakan bekam dan cantuk Bisa membuat lemas orang yang berpuasa. Sahabat Anas RA Sempat ditanya, “Apakah kalian tak menyukai berbekam untuk orang puasa?”  Beliau menjawab:
لَا إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ
Beliau menjawab “tak, kecuali bahwa itu Bisa menyebabkan lemah.” (HR Bukhari)
Termasuk hal itu Yaitu pengambilan darah (donor) dikatakan itu akan melemaskan orang yang berpuasa.
*26. Genjah mandi junub sebelum shubuh*
Disunahkan untuk yang akan berpuasa supaya Genjah mandi junub sebelum masuk Waktu Shubuh. Ini Yaitu sunah bukan wajib untuk keluar dari khilaf ulama yang Menyebut bahwa puasa batal di karenakan junub dengan dalil hadits Nabi SAW:
مَنْ أَدْرَكَهُ الْفَجْرُ جُنُبًا فَلَا يَصُمْ
Siapa yang datang waktu fajar di keadaan junub maka tak ada puasa baginya. (HR Bukhari-Muslim)
Hadits ini hukumnya telah dihapus. Dalil bolehnya mengakhirkan mandi junub Seusai masuk waktu shubuh Yaitu hadits Sayidah Aisyah dan Ummu Salamah RA, keduanya berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ غَيْرِ احْتِلَامٍ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ يَصُومُ
Sempat Nabi SAW berpagi hari di keadaan junub di karenakan bersetubuh bukan di karenakan mimpi di Bulan Ramadhan setelah itu beliau berpuasa. (HR Bukhari-Muslim)
 *27. tak Lebih di makan dan minum*
Hendaknya orang yang berpuasa memperhatikan kesederhanaan di berbuka dan makan sahur jangan hingga terlalu kenyang. Sebab maksud dari puasa Yaitu supaya kita Bisa menahan syahwat terhadap Boga, minuman dan lainnya.
 *28. Berumrah di Bulan Ramadhan bila mampu*
di Hadits disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:
فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي
Umrah di bulan ramadhan sebanding dnegan haji, di riwayat lain :sebanding dengan haji bersamaku. (HR Bukhari)
Renungkan bagaimana umrah yang perbuatannya sangat mudah dan sedikit Bisa sebanding dengan haji yang hanya sebagian aja yang mampu. Terlebih bahwa di dalamnya terdapat anjuran yang agung dengan disebutkan sebanding dengan haji bersama Rasulullah SAW.
*29. Disunahkan berusaha untuk mendapatkan malam Lailatul Qodar*
di hadits dikatakan:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Carilah malam Lailatul Qodar di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan (HR Bukhari-Muslim)
Mencarinya dengan tutorial bersemangat memakmurkan sepuluh malam itu dengan ibadah dengan memperhatikan shalat tarawih di masjid hingga selesai, dan juga dengan melaksanakan Shalat Isya dan Shubuh dengan cara berjamaah disertai melazimi dzikir-dzikir, doa-doa dan tilawah al Quran. bila ia menjalankan itu setiap malamnya pasti ia mendapatkan malam Lailatul Qodar.
 *30. Disunahkan memperbanyak doa di bulan Ramadhan dengan cara Generik, dan di sepuluh hari terakhir dengan cara Eksklusif*
Terlebih doa :
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf maka maafkanlah kami. (HR Turmudzi)
Ini Yaitu doa yang dianjurkan oleh Nabi SAW kepada Sayidah Aisyah RA untuk diperbanyak di Malam Lailatul Qodar. Maka perbanyaklah doa ini terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
*31. Mandi di malam- malam Ramadhan*
Disunahkan mandi setiap malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagian ulama menyunahan mandi setiap malam Ramadhan sejak awal hingga akhir. Ini untuk menambah semangat beribadah.
Nabi SAW dan para sahabat telah menjalankan hal ini. Diriwayatkan dari Sayidah Aisyah RA:
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا كان رمضان قام و نام فإذا دخل العشر شد المئزر و اجتنب النساء و اغتسل بين الأذانين و جعل العشاء سحور
Apabila datang Ramadhan, Rasulullah SAW shalat dan tidur. Dan bila telah datang sepuluh hari terakhir, beliau mengeratkan sarungnya, menjauhi istri-istrinya, mandi antara dua adzan dan mengakhirkan makan malamnya di waktu sahur (HR Ibnu Abi Ashim )
Imam Ibnu Jarir Ra Menyebut: Para ulama menyunahkan mandi setiap malam di sepuluh malam terakhir Bulan Ramadhan. Imam An Nakhoi menjalankan itu setiap malam-malam itu.
*32. Berhias dan memakai wewangian untuk ibadah*
Sunah membersihkan diri, berhias dan memakai wewangian untuk beribadah di sepuluh malam terakhir Bulan Ramadhan, terlebih di malam-malam yang diharapkan Yaitu malam Lailatul Qodar.
Telah datang atsar dari para salaf, sahabat dan tabiin bahwa mereka mandi, membersihkan diri, berhias dan terkadang mewangikan masjid di malam-malam ini.
Dinukilkan perbuatan ini dari Sahabat Annas, Zur bin Hubaisy, Tamim ad Dari, Ayub as Sakhtiyani, Tsabit al Banani, Humaid at Thowil dan para salaf lainnya. Al-Hafidz Ibnu Rajab menukilkan perbuatan mereka itu setelah itu beliau berkata, “Jadi jelas dengan ini semua kesunahan untuk membersihkan diri, berhias mewangikan diri dengan mandi dan wewangian, memakai pakaian indah di malam-malam yang diharapkan Yaitu malam Lailatul Qodar sebagaimana disyariatkan di hari Jumat dan dua hari Id.”
 *33. Puasa untuk yang bepergian*
bila ia memulai bepergian Seusai Waktu Shubuh di Bulan Ramadhan, maka wajib untuk berpuasa dan tak boleh membatalkannya kecuali Seusai ia tak mampu lagi menahan lapar atau haus.
bila ia memulai bepergian sebelum Waktu Shubuh, maka ia boleh memilih untuk tetap berpuasa atau tak berpuasa dan menggantikannya di hari lain. Disunahan untuk yang kuat untuk tetap berpuasa, ini berdasarkan firman Allah SWT:
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ
Dan berpuasa lebih bagus bagimu. (QS al Baqarah: 184)
bila ia termasuk orang yang lemah, dan puasa Bisa memberatkannya maka lebih utama untuk tak berpuasa berdasarkan hadits:
 لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ
Bukan termasuk kebaikan memaksakan berpuasa saat di perjalanan (untuk yang tak kuat)(HR Abu Dawud)
 *34. Menahan (imsak) untuk yang hilang udzurnya di tengah hari puasa*
Apabila seorang tak berpuasa di karenakan suatu udzur, setelah itu di tengah hari udzurnya hilang, maka sunah baginya untuk berprilaku seperti orang yang berpuasa dengan tak makan, tak minum dan lainnya hingga Maghrib.
Seperti bila ada anak kecil tak berpuasa setelah itu ia Jadi baligh di tengah hari, atau wanita yang tak puasa di karenakan haid setelah itu ia suci di tengah hari, atau orang sakit yang sembuh di tengah hari puasa, atau orang yang bepergian setelah itu hingga tujuan mukim di tengah hari puasa, semuanya itu sunah untuk menahan diri (imsak) dan berprilaku seperti orang berpuasa hingga Mahgrib. Ini Yaitu bentuk penghormatan kepada Bulan Ramadhan juga supaya ia menyerupai orang puasa sehingga menghilangkan Berpretensi tak bagus dari orang yang tak mengetahui udzurnya.
*35. Meninggalkan kesenangan nafsu*
Disunahkan untuk yang berpuasa untuk meninggalkan kesenangan nafsu yang tak membatalkan puasa seperti wewangian, Etos kepada yang indah, mendengar suara yang indah dan lainnya. Allah SWT mensifati orang yang berpuasa di Hadits Qudsi:
 يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي
Ia meninggalkan makanannya, minumannya dan kesenangan syahwatnya di karenakan Aku. (HR Bukhari)
Syahwat Yaitu semua yang disukai nafsu bik yang dipandang oleh mata, yang didengar oleh telinga atau yang dicium dengan hidung. Imam Nawawi di Minhaj Menyebut, “Hendaknya ia (orang yang berpuasa) menjaga dirinya dari kesenangan syahwat.”
 *36. Memperbanyak sedekah*
Sunah memperbanyak sedekah bagus dengan harta, Boga, pakaian atau lainnya. Nabi SAW Sempat ditanya, “Sedekah apa yang paling utama?”
Beliau SAW menjawab:
 صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ
Sedekah di bulan Ramadhaan (HR Turmudzi)
Imam Nawawi di kitab Majmu` Menyebut, “Ulama Syafiiyah Menyebut, sunah banyak memberi dan berderma di bulan Ramadhan dan lebih utama lagi di sepuluh hari terakhir untuk meneladani Rasulullah SAW dan para salaf. Juga di karenakan ini Yaitu bulan mulia, kebaikan di bulan ini lebih utama dari selainnya.  Selain itu, di bula ini banyak manusia sibuk dengan puasanya dan menambah ibadah dan meninggalkan pekerjaannya sehingga mereka butuh untuk dibantu dan ditolong.”
*37. Mengajarkan anak-anak berpuasa*
Sunah untuk memerintahkan anak-anak kecil bagus lelaki ataupun perempuan untuk berpuasa sehingga mereka akan terbiasa berpuasa bila sudah baligh.
Para sahabat SAW biasa mengajak anak-anak mereka berpuasa. saat ada seorang yang mabuk di Bulan Ramadhan dan dihadapkan kepada Sayidina Umar RA untuk dihukum, Beliau Ra mengingkari perbuatannya itu seraya berkata:
وَيْلَكَ وَصِبْيَانُنَا صِيَامٌ
Celaka engkau! (Engkau mabuk) Padahal anak-anak kami berpuasa?” (HR Bukhari)
*38. Disunahkan untuk tak Menyebut Seusai sempurna puasa Ramadhan dan tarawihnya*
“Aku telah puasa sebulan penuh” atau “Aku telah melaksanakan tarawih sebulan penuh”
Ini di karenakan itu Yaitu bentuk memuji diri sendiri yang tercela. Nabi SAW bersabda:
لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ إِنِّي صُمْتُ رَمَضَانَ كُلَّهُ وَقُمْتُهُ كُلَّهُ
Jangan Disorientasi satu dari kalian Menyebut “aku telah berpuasa Ramadhan dengan cara sempurna dan Shalat tarawih dengan cara sempurna.”  (HR Abu Dawud)
 *39. Puasa enam hari Syawal*
Disunahkan untuk orang yang telah Berpuasa Ramadhan untuk melanjutkan puasa enam hari di Bulan Syawal Seusai Id. Nabi SAW menganjurkan puasa ini dan mengabarkan bahwa orang yang berpuasa enam hari di Bulan Syawal Seusai Ramadhan seperti berpuasa setahun. Ulama Menyebut kesunahan puasa ini didapat bagus dengan berpuasa enam hari berturut-turut atau terpisah-pisah di Bulan Syawal. Dan Serupa aja apakah puasa itu dilakukan langsung Seusai hari Id atau dipisah beberapa hari. Tapi yang lebih utama hendaknya berpuasa langsung Seusai hari Id dengan cara berturut-turut.
 *40. Meninggalkan Maksiat dan menjalankan taat*
Orang yang berpuasa hendaknya menjalankan ketaatan yang paling utama Yaitu meninggalkan dosa dan maksiat. Hindari dosa yang kecil dan yang besar, yang zahir atau yang batin. Dikatakan bahwa ketaatan yang paling utama Yaitu meninggalkan maksiat.
Rasulullah SAW juga bersabda:
فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ
Hati-hati di bulan Ramadhan sebab kebaikan-kebaikan di dalamnya dilipat-gandakan begitupula keburukannya. (HR Abu Qosim)
dengan cara Generik hendaknya kaum muslim bersemangat menjalankan semua amal shaleh dan ketaatan dan memperbanyaknya. Di di hadits dikatakan:
من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدّى سبعين فريضة فيما سواه
Siapa yang menjalankan satu kebaikan (sunah) di dalamnya (Ramadhan) maka ia seperti orang yang menjalankan perbuatan wajib di bulan lain. Dan siapa yang menjalankan perbuatan wajib maka ia seperti orang yang menjalankan tujuh puluh perbuatan wajib di bulan lain. (HR Ibnu Khuzaimah)
Semoga Allah membagikan petunjuk supaya kita Bisa menjalankan perbuatan yang dicintai Allah dan membuat-Nya ridho. Semoga Allah menyampaikan kita ke puncak keridhoan-Nya. Semoga Allah mengajarkan kepada kita apa yang bermanfaat untuk kita, dan membagikan manfaat kepada kita atas apa yang telah diajarkan oleh-Nya. Aamiin Ya Robbal `alamin.. Dan semoga shalawat serta salam terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, keluarganya serta yang mengikuti mereka di kebaikan hingga hari kiamat… Aamiin.
abdkadiralhamid@2018

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Share on LinkedIn

Subscribe to receive free email updates:

40 Sunah Bulan Ramadhan, Habib Segaf bin Ali Alaydrus

Facebook Comments

Leave a Reply