Home Doa Islam 16 Syarat supaya Amal Sedekah Kita Diterima Allah SWT

16 Syarat supaya Amal Sedekah Kita Diterima Allah SWT

36
0

Website Eksklusif Doa – Sedekah merupakan amal shaleh yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bersedekah juga merupakan hal yang Bisa melindungi seseorang dari azab di hari kiamat kelak. Sungguh besar sekali manfaat bersedekah apabila melakukannya dengan berharap mendapatkan tempat terbaik di Hepotenusa Allah SWT, bukan di karenakan mengharapkan pujian di mata manusia.

Supaya sedekah yang akan kita keluarkan tak sia-sia dan mendapatkan berkah di mata Allah SWT, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan saat hendak bersedekah, di antaranya:

  1. Ikhlas di bersedekah
    Seseorang wajib ikhlas niat di karenakan Allah semata di bersedekah dan Menelusuri keridhaan-Nya serta kedekatan di Hepotenusa-Nya, bagus sedekah wajib ataupun sedekah sunnah (mustahab). Apabila keikhlasan tak ada, maka sedekah akan batal dan menggugurkan pahalanya. Jangan bersedekah dengan tujuan riya’ dan sum’ah bahkan untuk menyombongkan diri kepada orang lain. Orang seperti ini akan disiksa di hari kiamat dengan siksa yang sangat berat.

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang pertama kali dipanaskan dengan (tubuh) mereka api Neraka di hari kiamat ada tiga golongan…” setelah itu beliau berkata, ”Dan dihadirkan orang yang bersedekah,” hingga dengan sabda Nabi, “Allah berkata: ‘Engkau berdusta. Sesungguhnya engkau bersedekah supaya dikatakan dermawan. Begitulah (Fenomena) yang telah dikatakan…,” (HR. Muslim (1095) dari Abu Hurairah ra).

  2. Mempelajari kewajiban-kewajiban di bersedekah
    Seorang yang akan bersedekah wajib mempelajari sedekah-sedekah yang diwajibkan atas dirinya, mempelajari ukuran-ukurannya dan kepada siapa sedekah itu wajib diberikan, serta hal-hal yang akan meluruskan ibadahnya Itu. Hal ini dilakukan sebelum ia menjalankan sedekah, walaupun ia wajib bertanya kepada orang yang ahli ilmu Itu. Sebab, ia tak akan terhitung melaksanakan kewajiban di ibadah hingga ia melakukannya sesuai dengan yang disyari’atkan Allah SWT. Selain itu, supaya tak mengeluarkan sesuatu jenis harta yang tak wajib dikeluarkan zakatnya atau ia tak memberikannya kepada orang yang tak berhak menerimanya.
  3. tak menunda-nunda sedekah yang wajib hingga keluar waktunya
    bila seorang Muslim sudah wajib mengeluarkan atas hartanya, tanamannya, perniagaannya atau yang lainnya dari harta sedekah yang wajib, maka ia wajib mengeluarkannya tepat di waktunya. tak boleh menundanya tanpa adanya udzur yang syar’i.
  4. Mendahulukan sedekah yang wajib daripada yang Mustahab (sunnah)
    Seorang Muslim wajib mengeluarkan zakat yang wajib terlebih Dulu di di tiba waktunya daripada sedekah yang mustahab (sunnah). Sebab, menunaikan sedekah yang wajib termasuk rukun Islam. Allah SWT tak akan menerima amalan-amalan sunnah hingga ia mengamalkan amalan wajib. Amal yang disukai Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya Yaitu dengan menunaikan kewajiban yang disebutkan di hadits qudsi, “… dan tidakkah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa-apa yang telah aku wajibkan atasnya…,” (telah disebutkan takhrij-nya).
  5. Mengeluarkan zakat dari jenis-jenis harta yang telah ditentukan syari’at apabila telah wajib atasnya
    Apabila sudah jatuh kewajiban kepada seorang Muslim untuk mengeluarkan sedekah (zakat) atas barang Eksklusif dengan cara syar’i dan sesuai syari’at yang telah ditentukan. Misalnya zakat fitrah yang telah diwajibkan oleh Rasulullah SAW Yaitu satu sha’ gandum/burr atau satu sha’ kurma atau satu sha’ sya’ir (jewawut) atau sejenisnya, maka seharusnya seorang Mukmin mengeluarkan zakat harta-harta yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW atau hal-hal yang disebutkan di nash Itu. Jangan mengeluarkan pengganti selainnya atas dasar ijtihad sendiri.

    Mengeluarkan jenis-jenis harta yang telah disebutkan di syari’at akan menjauhkan seorang Muslim dari perselisihan-perselisihan pendapat fiqih mengenai barang yang digunakan Bagaikan penggantinya, apakah boleh atau tak. Sebab, tak ada orang yang Menyebut bahwasanya jenis-jenis harta yang dikeluarkan menurut ketetapan syari’at tak Absah. Namun, yang Jadi khilaf (Disparitas pendapat) Yaitu harta jenis lain, apakah Absah atau tak.

  6. Hendaklah sedekah itu dari hasil yang bagus
    Bersedekahlah dari harta yang halal di karenakan itu merupakan sebab diterimanya sedekah dan akan menghasilkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Tidaklah seseorang bersedekah dengan harta yang bagus, dan Allah tak akan menerima kecuali yang bagus-bagus, melainkan Allah akan mengambil dengan tangan kanan-Nya. bila itu berupa sebutir kurma, niscaya ia akan tumbuh di telapak tangan Allah SWT sehingga Jadi lebih besar daripada gunung. Sebagaimana seseorang di antara kita menyemai benihnya atau memelihara anak unta,” (HR. Ahmad (II/538), an-Nasa-i (V/57), at-Tirmidzi (661) dan ia berkata “Hasan Shahih”. Dan Ibnu Majah (1842) dari Abu Hurairah ra).
  7. membagikan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan
    Hendaklah orang-orang yang bersedekah berusaha membagikan sedekahnya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin, anak yatim, janda, orang yang terlilit utang dan orang yang berhak menerima sedekah lainnya. Jangan memberikannya kepada orang yang ia ketahui tak membutuhkannya. Apabila hendak mengeluarkan sedekah sunah maka dianjurkan mendahulukan orang yang pantas menerimanya. Sebab, sedekah itu akan menjaga mereka dari perbuatan yang haram untuk mendapatkan sesuap nasi atau yang lainnya. Allah SWT telah jelaskan jenis-jenis orang yang menerima zakat.

    “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang di perjalanan, Bagaikan sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (QS. At-Taubah [9]:60).

  8. Mengeluarkan harta yang terbaik di bersedekah
    Jangan dengan sengaja seseorang mengeluarkan barang-barang atau Boga yang buruk untuk disedekahkan, atau memilih harta-harta yang buruk di bersedekah. Namun hendaknya pilihlah sesuatu yang bagus dan bagus. Demikian juga apabila mampu, maka berikanlah yang paling bagus di karenakan di hakikatnya ia menyerahkannya untuk dirinya di Hepotenusa Allah SWT.
    Allah SWT berfirman:
    “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang bagus-bagus dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kita. Dan janganlah kita memilih yang buruk-buruk lalu kita nafkahkan daripadanya, Padahal kita sendiri tak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji,” (QS. Al-Baqarah [2]:267).
  9. Bersedekah dengan apa-apa yang Allah SWT cintai
    bila seorang hamba mampu bersedekah dengan sesuatu yang ia cintai dari harta, Boga atau yang sejenisnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang lebih besar dari Allah SWT.

    Allah SWT berfirman:
    “kita sekali-kali tak hingga kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kita menafkahkan sebagian harta yang kita cintai. Dan apa aja yang kita nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya,” (QS. Ali-Imran [3]:92).

    Loading...

    Oleh di karenakan itu, ‘Abdullah bin Uma ra, apabila datang kepada beliau seorang peminta-minta, maka ia akan memerintahkan keluarganya untuk memberikannya gula di karenakan ia menyukai gula. Demikianlah, hendaklah orang-orang yang suka berbuat bagus Genjah berlomba-lomba melakukannya.

  10. tak memakai sedekah dengan mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima sedekah
    tak boleh seseorang mengungkit-ungkit sedekah kepada orang yang menerimanya atau merendahkannya dengan sedekah, atau menyebutkan kebaikan-kebaikan atau jasa-jasa yang telah ia berikan kepadanya. Sebab, hal itu Bisa melukai perasaan orang yang menerimanya dan Bisa menghapus (pahala) sedekah, sebagaimana firman Allah SWT:

    “Hai orang-orang beriman, janganlah kita menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan Menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya di karenakan riya kepada manusia dan dia tak beriman kepada Allah dan hari setelah itu. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, setelah itu batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia Higienis (tak bertanah). Mereka tak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir,” (QS. Al-Baqarah [2]:264).

    Juga di firman Allah SWT:
    “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, setelah itu mereka tak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan Menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di Hepotenusa Tuhan mereka. tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tak (pula) mereka bersedih hati,” (QS. Al-Baqarah [2]:262).

  11. Mengagumi nikmat-nikmat Allah SWT dan mensyukurinya
    Wajib untuk orang yang bersedekah supaya merenungi nikmat Allah SWT atas dirinya saat bersedekah. Sebab, Allah telah menjadikannya kaya dan membuatnya tak menerima sedekah. Allah SWT menjadikannya tangan di atas. Allah SWT menjadikannya orang yang memberi bukan menerima. Yang demikian termasuk nikmat Allah atas dirinya sehinga ia wajib mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.
  12. Hendaklah orang yang bersedekah tak memandang dirinya berjasa atas orang-orang yang menerima sedekahnya
    Seseorang yang telah membagikan sedekah harusnya memandang semua itu Bagaikan karunia Allah SWT di karenakan Dialah yang membagikan dan melimpahkan harta Itu kepadanya. Bahkan, seorang Mukmin yang bijak akan melihat bahwasanya orang fakir itulah yang telah mencurahkan karunia kepadanya. Sebab, orang fakir menerima sedekahnya sehingga membagikan kesempatan baginya untuk menerima pahala dari Allah SWT.
  13. tak mengurungkan niat bersedekah di karenakan keraguan terhadap orang yang menerimanya
    Apabila seorang yang bersedekah ragu terhadap orang yang menerima sedekahnya, tak juga Bisa memastikan apakah ia benar-benar fakir atau tak maka janganlah membuatnya tak Jadi bersedekah. Sebab, di dasarnya ia mengharapkan pahala dari Allah SWT dari sedekahnya. Hal ini kerap kali terjadi. Selama ia bersungguh-sungguh membagikan sedekah kepada yang berhak dan besar sangkaannya bahwa orang yang dimaksud berhak menerimanya, maka berikanlah sedekah itu.
  14. Lebih Dulu membagikan sedekah kepada karib kerabat
    Apabila karib kerabat mereka termasuk orang yang membutuhkan, maka Copyright mereka lebih besar dari di Copyright orang lain.
    Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah kepada orang miskin (mendapat pahala satu), Padahal sedekah kepada karib kerabat mendapat dua pahala; pahala sedekah dan pahala silaturahim,” (HR. Ahmad (IV/17, 18, 214), at-Tirmidzi (658) dan dihasankannya, an-Nasa-i (V/92), Ibnu Majah (1844), al-Hakim (I/407) dan dishahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi dari Salman bin ‘Amr).
  15. Merahasiakan sedekah kecuali untuk suatu kepentingan
    Dianjurkan kepada setiap Muslim bila ia bersedekah untuk merahasiakan sedekahnya dari pengetahuan manusia sebisa mungkin. Sesungguhnya hal itu lebih dekat kepada keikhlasan serta lebih menjaga harga diri dan kehormatan orang yang menerimanya.

    Allah SWT berfirman:
    “bila kita menampakkan sedekah(mu), maka itu Yaitu bagus sekali. Dan bila kita menyembunyikannya dan kita berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih bagus bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kita sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kita kerjakan,” (QS. Al-Baqarah [2]:271).

    Rasulullah SAW juga telah jelaskan bahwa orang yang merahasiakan sedekahnya termasuk orang-orang yang dinaungi di hari saat tak ada naungan kecuali naungan Allah SWT.
    Nabi SAW bersabda:
    “Tujuh orang yang Allah naungi di hari saat tak ada naungan kecuali naungan Allah SWT; … dan seorang yang bersedekah, ia menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya,” (telah disebutkan takhrij-nya)

    Meskipun demikian, apabila terdapat kepentingan dan maslahat yang kuat untuk menampakkannya, maka yang lebih bagus Yaitu menampakkannya. Contohnya, orang yang terhormat bersedekah kepada orang yang membutuhkan di hadapan khalayak supaya mereka mengikutinya untuk bersedekah. Dengan begitu, ia mencontohkan kepada mereka perbuatan bagus. Masih banyak lagi permasalahan lainnya. Hal itu semua dilakukan dengan tetap menjaga diri dari riya dan tetap menjaga keihlasan kepada Allah SWT.

  16. tak mengambil kembali sedekah
    Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang bersedekah setelah itu ia mengambil kembali sedekahnya seperti anjing yang memuntahkan sesuatu setelah itu ia menjilat muntahnya untuk memakannya lagi,” (HR. Muslim (1622) dari Ibnu ‘Abbas ra).
    Hadits Itu menerangkan perumpamaan yang sangat jelek untuk orang yang mengambil kembali sedekahnya. Maka dari itu, saat seorang Muslim bersedekah maka keluarkan sedekahnya dengan kemurahan hati dan tak mengambil kembali apa yang telah disedekahkan dengan alasan apapun.

16 Syarat supaya Amal Sedekah Kita Diterima Allah SWT

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here